Beranda BANDUNG Warga Sulit Dapatkan Gas Melon

Warga Sulit Dapatkan Gas Melon

23
0
EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES MULAI LANGKA: Sejumlah toko sudah lama tak mendapatkan suplai gas elpiji tiga kilogram dari agen. Karena itu, harga gas tiga kilogram melejit.

BANDUNG BARAT- Masyarakat Kabupaten Bandung Barat kesulitan memperoleh gas elpiji 3 kg. Saat ini, elpiji di sejumlah warung pengecer jarang tersedia, walaupun ada, harganya jauh lebih mahal dari ketentuan yang berlaku.

“Sudah tiga minggu, saya belum menjual gas elpiji 3 kg lagi. Warung-warung di sekitar rumah saya juga sudah tidak menyediakan penjualan gas 3 kg karena barangnya juga sulit didapat,” ucap Agus Sungkawa, 57, pedagang eceran gas elpiji di Kampung Cibodas, Desa Cikahuripan Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis (7/12).

Agus berujar, jika elpiji 3 kg di sekitar wilayahnya sulit didapat, dirinya terpaksa harus mencarinya hingga ke luar daerah. Sejak tidak berdagang, akhirnya sebanyak 25 tabung gas kosong miliknya hanya dibiarkan menumpuk di warungnya.

“Kalau di sekitar sini enggak ada, saya harus cari ke daerah Cimahi, Bandung hingga Subang pakai mobil. Meski harganya jauh lebih mahal, saya rasa masyarakat bakal tetap mencarinya karena sudah menjadi kebutuhan pokok masyarakat,” ujarnya.

Selain di Cibodas, kelangkaan elpiji 3 kg juga dilaporkan terjadi di beberapa wilayah lainnya. Di perbatasan Bandung Barat dengan Kota Bandung, warga sekitar harus mencari ke tiap warung yang masih menyediakan stok elpiji 3 kg.

“Di warung yang masih tersedia elpiji 3 kg, gas dijual dengan harga Rp 28.000/tabung. Tapi itu pun jarang ada yang jualan, hanya di beberapa warung saja, stoknya pun sangat terbatas,” kata Kepala Desa Gudang Kahuripan, Agus Karyana.

Untuk mengatasi persoalan ini, dia berharap Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di tiap-tiap desa bisa langsung dipercaya mengelola pemasaran dan pendistribusian elpiji 3 kg dengan mendirikan sub agen atau pangkalan.

“Kalau sudah terbentuk, BUMDes bisa menekan harga sesuai anjuran yang dipatok Pertamina,” jelasnya.

Sementara itu, pernyataan berbeda disampaikan Rosidin, 65, pedagang eceran asal Kampung Pencut Lembang yang mengaku tidak merasa kekurangan pasokan elpiji 3 kg. “Masih normal, ini sekarang saya lagi menunggu kiriman dari agen,” kata Rosidin saat ditemui di salah satu pangkalan elpiji di Lembang.

Dia menyatakan, dalam satu minggu sekali, pangkalan langganannya rutin mendapat kiriman sebanyak 280 tabung gas elpiji dari agen di luar daerah. Dari tingkat pangkalan, kata dia, pertabungnya dijual dengan harga Rp 16.600.

“Setelah ke tangan saya, elpiji dijual sekitar Rp 20.000/tabung. Pangkalan juga tidak bisa sembarangan menjual ke orang lain, harus ke langganan tetap seperti saya,” terang Rosidin yang telah berjualan gas elpiji 3 kg sejak 10 tahun lalu. (eko/tra)