Beranda HEADLINE Terbakar Lagi setelah 14 Tahun

Terbakar Lagi setelah 14 Tahun

64
0

Kebakaran Hanguskan Pasar Cipeundeuy, Pedagang Bingung Modal Usaha

SUBANG-Pasar tradisional Cipeundeuy kembali terbakar, Sabtu (5/5) dini hari. Ratusan kios dan los luder terbakar. Para pedagang pun hanya bisa pasrah dan menangis saat barang dagangannya habis terbakar.

Namun rupanya peristiwa kebakaran ini bukan yang pertama kali menimpa pasar yang berlokasi di Jalan Raya Subang-Purwakarta tersebut. Pada tahun 2004 lalu, kebakaran serupa sempat menimpa Pasar Cipeundeuy. Kejadiannya pun persis jelang beberapa hari bulan Ramadhan. Para pedagang tak menduga peristiwa kelam 14 tahun lalu itu akan kembali terjadi.

Pantauan Pasundan Ekspres, kios yang terbakar berada di blok A dan B. Beruntung, api tidak melahap kios-kios di blok lainnya. Padahal posisi awal kebakaran berada di tengah-tengah pasar.

Para pedagang yang saat itu tahu kebakaran melanda ke pasar, bergegas mengamankan barang dagangan mereka yang masih berada di kios. Namun sayang, barang dagangan tak bisa diselamatkan. Kerugian pedagang pun diperkirakan mencapai ratusan juta.

Setelah api berhasil dipadamkan, terlihat kesibukan para pedagang dibantu keluarganya mencari barang-barang yang masih tersisa. Terlihat ekspresi kesedihan dari para pedagang. Yang semestinya pagi itu melayani pembeli, mereka harus menerima kenyataan cobaan tersebut.

Ivan, 49, seorang pedagang mengaku lima kios, termasuk satu bengkelnya, habis terbakar. Kerugian yang dideritanya diperkirakan mencapai ratusan juta rupiah.
“Kalau kronologis, aku tidak tahu karena pas kejadian tidak di sini. Asal usul api dari mana, tidak tahu. Rumah saya dekat dari pasar, begitu tahu ada kebakaran langsung ke sini,” ungkapnya kepada Pasundan Ekspres, Sabtu (5/5).

Dia berharap ada bantuan dari pemerintah untuk membangun kios kembali. “Harapan saya dari Pemda Subang untuk membangun kembali pasar ini. Kalau mengharapkan ganti rugi memang tidak bisa. Yang penting ada kemudahan untuk membangun kembali kios-kios yang rusak,” jelasnya.

Pemilik Toko Sobana, Oban Saripudin, 48, menyebut kerugian yang dideritanya mencapai Rp800 juta. Jumlah itu dihitung dari jumlah barang dagangan yang terbakar dan fisik bangunan.
Sebelum api membakar kiosnya, ia berupaya menyelamatkan barang dagangan. Namun sayangnya kunci tidak kebawa. Dalam sesaat api pun membakar enam kios, termasuk gudang, miliknya.
Obat mengaku sudah dua kali kiosnya terbakar. Kebakaran pertama terjadi pada tahun 2004 lalu, atau beberapa hari menjelang bulan Ramadhan. Saat itu empat unit toko miliknya ludes terbakar.
“Tahun 2000 saya sudah di sini, tahun 2004 kebakaran juga,” ungkapnya.

Dia mengatakan, barang dagangan berupa sembako, rokok, obat-obatan sudah dipersiapkan untuk bulan puasa. Kejadian ini pun sama dengan kejadian kebakaran tahun 2004 lalu. Ia sudah menyetok barang dagangan untuk memenuhi kebutuhan di bulan puasa.
“Ini stok untuk bulan Ramadan, dipenuhi semua, gudang dipenuhin,” jelasnya.

Ia pun akan menempati kembali kios-kios yang rusak untuk berjualan kembali setelah diperbaiki.
“Akan di sini lagi, karena ke mana lagi kan. Jangankan untuk beli kios, ini juga sudah habis,” jelasnya.

Pedagang lainnya, Kari, 50, mengaku memiliki lima kios. Empat kios miliknya habis terbakar. “Semuanya ada lima, empat kios terbakar,” ujar pedagang sembako tersebut.

Sementara itu Kurnia, salah seorang pedagang, mengaku beruntung yang kiosnya tidak terbakar. Namun pada kebakaran tahun 2004 lalu, kiosnya turut terbakar. Padahal waktu itu, dirinya baru satu bulan berjualan.

Kurnia menyebutkan, kebakaran tahun 2004 beberapa hari menjelang bulan puasa. Kebakaran tahun 2004 lalu lebih parah dari sebelumnya.
“Kalau dibandingkan, lebih parah dulu, karena bahan materil kiosnya kebanyakan masih kayu,” jelasnya.

Dia mengatakan, para pedagang pasti bingung mencari modal setelah kiosnya terbakar. “Kalau sudah seperti ini, pedagang pasti bingung. Dia mau pinjam ke bank cari modal susah, sementara kalau mau pinjem harus dilihat usahanya jalan atau tidak, ini kan usahanya kena musibah,” jelasnya.

Sementara itu Plt Bupati Subang, Ating Rusnatim langsung mengunjungi lokasi kebakaran di Pasar Cipeundeuy.

Menurut Ating, lokasi yang terbakar didominasi toko-toko sembako, toko aksesoris dan toko busana. Untuk mengatasi persoalan tersebut, kata Ating, pemerintah daerah akan segera mengambil kebijakan agar para pedagang bisa segera kembali berdagang.
“Target kita adalah para pedagang harus bisa berdagang lagi, itu keinginan dari kita,” ujar Ating.

Masih menurut Ating, status Pasar Cipeundeuy merupakan pasar desa. Hal itu mengadung arti segala keputusan ada di tangan pemerintah desa. Namun demikian, Ating mengaku takan lepas tangan begitu saja.
“Karena pasar tersebut berdiri di lahan milik desa, maka kita akan tampung keinginan mereka seperti apa, dan kita rapatkan di Senin besok (hari ini) dalam briefing pagi,” tutur Ating.

Sebagai langkah awal, kata Ating, para pedagang untuk sementara akan direlokasi ke tempat lebih aman. Sejumlah alat berat akan diturunkan untuk membersihkan puing-puing sisa-sisa kebakaran. Sarana prasarana bersifat sementara akan disiapkan dengan menggunakan anggaran darurat (khusus).
“Nanti puing-puing disana akan dibersihkan. Pedagang juga ga perlu direlokasi. Kita akan slotkan anggaran darurat (khusus) untuk Pasar Cipeundeuy,” tuturnya.(ysp/ygo/din)