Beranda BANDUNG Tanam 1.600 Bibit Pohon, Jaga Kelestarian Mata Air

Tanam 1.600 Bibit Pohon, Jaga Kelestarian Mata Air

48
0
EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES PEDULI LINGKUNGAN: Kepala Sespim Polri Wahyu Indra Pramugari memimpin penanaman 1.600 bibit pohon di area lahan kritis di lingkungan Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

LEMBANG– Guna menjaga kelestarian mata air di kawasan Bandung utara, sebanyak 1.600 bibit pohon ditanam di area lahan kritis di lingkungan Sekolah Staf dan Pimpinan (Sespim) Polri, Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Penanaman pohon itu sekaligus untuk menangkal bahaya longsor dari potensi gempa Patahan Lembang.

Penanaman 1.600 bibit pohon yang mengangkat tema “Cintai Pohon, Selamatkan Bumi” itu diselenggarakan Sespim Polri bersama Asia Pulp & Paper Sinar Mas dan Yayasan Belantara, serta didukung oleh komunitas Jaga Seke. Sekretaris Daerah Jawa Barat Iwa Kartiwa turut hadir dalam upacara simbolis penanaman bibit pohon.

Kepala Sespim Polri Wahyu Indra Pramugari menuturkan, di sekitar Sespim terdapat dua kompleks mata air, tepatnya di Kampung Gadok I yang dinamai kompleks mata air Salsabila dan Gadok II yang dinamai kompleks mata air Al Kausar. Masyarakat sekitar, kata dia, menyebutnya dengan kompleks mata air sumur tujuh.

“Sekian tahun lalu, mata air di Kampung Gadok tertutup longsor. Oleh karena itu, kami harus mencegah longsor. Yang saya lihat, pada luasan 10-12 hektare di sekitar Sespim Polri ini ternyata dimanfaatkan untuk menanam tanaman yang tak bisa mencegah longsor, seperti singkong atau tanaman kecil,” kata Wahyu.

Oleh karena itu, lanjut dia, Sespim Polri berupaya menanam pohon yang dapat menangkal longsor. Setelah pada akhir 2016 ditanam 10.000 pohon, kini reboisasi ditambah dengan penanaman 1.600 pohon. “Reboisasi ini untuk mencegah longsor, apabila sewaktu-waktu terjadi gempa. Soalnya, di sini merupakan wilayah Patahan Lembang yang perlu diantisipasi,” ujarnya.

Wahyu menjelaskan, di kedua kompleks mata air tersebut telah dibangun bak penampungan air, yang salah satunya berbahan beton. Akan tetapi, tanah longsor sempat menutup bak penampungan pada mata air Gadok I. Penggalian pun dilakukan pada awal tahun ini, agar bak penampungan yang dibuat pada 1991 itu bisa dimanfaatkan kembali. Apalagi, karakter mata air Gadok I itu airnya keluar dari tebing-tebing.

“Di Gadok I perlu ada pohon-pohon yang ditanam di tebing-tebing untuk mengikat air lebih kuat, karena ada pengalaman longsor terum-menerus, jadi ada erosi tanah. Nah, di Gadok II juga mirip. Ada hamparan di dasar jurang, hamparannya itu masih relatif kosong. Oleh penduduk dipakai untuk menanam cabai. Jadi, ini juga perlu disentuh dengan menanam tanaman yang bisa mempertahankan lahan dari erosi, atau biar air enggak langsung mengalir ke sungai,” terangnya.

Lebih lanjut, dia menambahkan, Sespim Polri juga akan mencari mata air di Gadok II yang masih belum ditemukan. Pasalnya, di kompleks mata air Gadok II itu disebut-sebut terdapat tujuh sumur air, namun sejauh ini baru dua yang ditemukan. “Kami lagi cari terus, biar lima sumur lagi bisa ketemu,” ujarnya.

Sekda Jabar Iwa Kartiwa mengatakan, penanaman bibit pohon di sekitar Sespim Polri akan ditindaklanjuti dengan perawatan sampai pohon berusia dua tahun. “Soalnya, masa kritis penanaman pohon yang lama itu selama dua tahun. Jadi, selama dua tahun itu akan kami pantau, khususnya oleh teman-teman dari komunitas Jaga Seke,” katanya.

Sementara itu, Kepala Konservasi APP Sinar Mas Dolly Priatna menuturkan, keterlibatan penenaman pohon di Sespim Polri merupakan wujud dari komitmen perusahaan dalam menjaga kelestarian alam, yang selama ini lebih banyak difokuskan di Sumatra dan Kalimantan. “Sejak awal 2013, kami juga sudah tidak melakukan penebangan. Jadi, kami hanya menggunakan hutan tanaman. Semua sudah 100% dari hutan tanaman,” katanya. (eko/ded)