Beranda FEATURE Strategi Pembinaan Lingkungan Berbasis Masyarakat oleh PHE ONWJ

Strategi Pembinaan Lingkungan Berbasis Masyarakat oleh PHE ONWJ

196
0

Grinting: Dulu Rawan, Kini Punya Semangat untuk Maju

Tahun 2005 silam, manajemen PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) sering dibuat pusing. Aset milik perusahaannya di lepas pantai sering hilang. Para pencuri menyamar menjadi nelayan melalui jalur pemukiman kampung nelayan Griting,

Desa Cilamaya Girang, Kecamatan Blanakan, Kabupaten Subang.
Pendekatan tindakan hukum saja tidak cukup. Pertamina ONWJ akhirnya membuat pendekatan community based security. Pembinaan lingkungan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Mendirikan sekolah dan bersama para petani membangun taman pendidikan. Hasilnya cukup memuaskan; nihil pencurian dan masyarakat mendapatkan manfaat positif dari sisi ekonomi maupun lingkungan.
______________
Suhu udara terasa panas, jalan tanpa aspal, tanah tebelah saat kemaru dan banjir melanda saat musim huja. Masa depan anak tidak jelas. Banyak yang buta huruf. Sebab, untuk sekolah SD saja harus menempuh jarak sekitar 4Km ke sekolah terdekat. Bagi yang cukup secara ekonomi harus rela nyebrang ke Kabupaten Karawang agar bisa sekolah di gedung yang lebih bagus. Itulah kondisi di Kampung Grinting, daerah ujung Kabupaten Subang, berbatasan dengan Karawang yang dipisahkan sungai Cilamaya.

ARENA BERMAIN. Hutan Greenthink menjadi arena baru bermain dan belajar untuk anak-anak, mengenal keanekaragaman hayati.

Kesehariannya mayoritas warga di sana bergantung dari pendapatan melaut. Meski tiap hari mendapat ikan untuk dijual, tapi sistem tengkulak menjerat mereka. Nelayan dililit utang dan menjual ikan tangkapan dengan harga murah. Setiap bulan utang bertambah. “Miris melihat kondisi nelayan, mereka hutangnya banyak. Ikan dibeli dengan harga di bawah pasar,” ujar Arruji warga Kampung Grinting.

Wajar saja jika terjadi banyak pencurian aset milik Pertamina. Sebab kata Dia, saat malam hari jalanan gelap, sepi dan akses menuju laut masih jalan setapak. Yang sering diincar yaitu lampu milik Pertamina di lepas pantai.

Bahkan kata Rawan (55), juga warga Griting, 10 tahun yang lalu saat hujan lebat jalan desa akan terputus. Terendam limpasan air hujan dan rob. Kondisi itu pun hingga kini bahkan tak banyak berubah.

Kondisi tersebut menjadi perhatian tim community development PHE ONWJ. Sebab jalur tersebut pula yang menjadi akses aksi para pencuri aset milik anak perusahaan Pertamina Persero itu. Tak ada cara lain bagi PHE ONWJ, harus kerjasama dengan masyarakat. Sebab pihaknya tidak mungkin mengawasi asetnya setiap hari.

Akhirnya pada tahun 2006 PHE ONWJ memutuskan untuk membangun fasilitas sekolah dasar yang dinamakan SDN Cilamaya Girang. Secara perlahan, pihaknya pun memberikan sosialisasi untuk mengenalkan fasilitas milik PHE ONWJ di lepas pantai. Juga memberikan pemahaman agar melaut dengan cara aman dan mematuhi aturan yang berlaku.
Hal tersebut dirasa penting oleh masyarakat. Sebab selalu saja ada kejadian nahas yang menimpa para nelayan. “Ada saja nelayan yang hilang di laut,” kata Arruji.

Perlahan hubungan PHE ONWJ dengan masyarakat Griting semakin dekat. Fasilitas sekolah yang dibangun sangat bermanfaat. Anak-anak keluarga nelayan tidak lagi harus sekolah jauh. Perlahan menyadari pentingnya pendidikan.
“Akhirnya kalau ada aksi pencurian, masyarakat yang aktif melaporkan kepada kami. Di tahun 2010 sampai sekarang, pencurian sudah tidak ada lagi,” ungkap Asep Abyoga, tim Community Development PHE ONWJ.

Pembinaan tidak cukup sampai di situ. PHE ONWJ kemudian melalukan pemetaan kondisi masyarakat yang rentan secara ekonomi yaitu pensiunan nelayan, guru honorer dan istri nelayan.
“Yang sudah tidak bisa lagi melaut tidak ada kerjaan, menganggur. Bertani pun tidak bisa. Kemudian para guru honorer juga pendapatannya rendah. Di SDN Cilamaya baru satu guru PNS. Kemudian istri para nelayan juga kita pikirkan bagaimana agar ada kegiatan ekonomi,” ujar Asep.

PHE ONWJ juga membuat pelatihan ekonomi kreatif untuk istri nelayan seperti cara membuat telur asin, pengolahan ikan dan budidaya jamur merang.
Akhirnya muncul juga gagasan baru yang diinisiasi oleh gerakan Kwarran Pramuka Kecamatan Blanakan untuk mengembangkan lahan untuk aktivitas pendidikan. Seperti kemah Pramuka dan kegiatan lainnya. Sebab, mereka sering kesulitan membuat kegiatan Pramuka bersama.

Kwarran Pramuka Blanakan akhirnya membantu para petani mengajukan pembebasan lahan milik Perhutani seluas 2,5 hektare. Lahan garapan seluas 2,5 hektare yang tak jauh dari pemukiman akhirnya berhasil dibeli seharga Rp50 juta.
“Kami memungut iuran dari siswa sebesar Rp5.000 orang. Lahan ini untuk kegiatan Pramuka, yang garapnya para kelompok tani. Dari pengurus Kwarran sebelumnya mengkomunikasikan dengan Pertamina agar bekerjasama. Akhirnya sekarang sudah jadi hutan pendidikan,” ungkap Ketua Kwarran Pramuka Kecamatan Blanakan, Tuti Suwarti, Selasa (12/12).

PHE ONWJ merespons baik usulan Kwarran tersebut. Akhirnya dikelola secara professional bersama kelompok tani Griting hingga menjelma menjadi hutan keanekaragaman hayati (Kehati) Greenthink.
Bagaiamana kelompok tani Griting dan PHE ONWJ mengelola lahan yang sebelumnya gersang hingga menjadi taman yang asri? (man/bersambung)