Beranda HEADLINE Siswi SD Meninggal Pasca Imunisasi Difteri

Siswi SD Meninggal Pasca Imunisasi Difteri

79
0
DOK PASUNDAN EKSPRES CEGAH DIFTERI: Beberapa siswa mendatangi salah satu puskesmas di Karawang.

Keluarga Tak Dapat Pemberitahuan Pemberian Vaksin

KARAWANG- Tearysa Kariztiani (10) anak dari pasangan Sardi dan Enung Suryani, siswi kelas 4 di SDN Kedawung 1 harus meregang nyawa, diduga lantaran sakit setelah diberikan vaksin difteri oleh Puskesmas Lemahabang di sekolahnya (6/1).

Usai diberi vaksin anaknya mengalami demam tinggi sehingga dia membawa anaknya ke Puskemas. Namun pihak Puskesmas mengaku tidak sanggup menangani sehingga dirujuk ke Klinik Medika. Hal yang sama juga terjadi di Klinik Medika tidak sanggup menangani hingga di rujuk ke RSUD.

“Hari senin (8/1) saya bawa anak saya ke RSUD dan sempat menjalani perawatan selama 24 jam dan kemudian anak saya meninggal dunia,” kata Jumat (12/1).

Hingga jenazah Tearisa dikebumikan, Sardi mengaku tidak tahu pasti apa penyebab anak kesayangannya itu meninggal. Dikatakan Sardi, yang jelas anaknya sakit setelah menerima vaksin difteri dari salah satu petugas media dari Puskesmas Lemahabang.

“Sampai sekarang saya tidak tau Tea meninggal karena apa? Dokter tak pernah menjelaskan. Saya menolak otopsi, saya tidak tega, makanya Tea langsung dikebumikan,” ujarnya.

Dijelaskan, selama ini keluarganya memegang teguh tradisi menolak imunisasi. Lantaran, kata nenek moyang dari keluarganya itu, tidak terima imunisasi juga tidak masalah. Urusan hidup, sehat, maupun sakit, bagi keluarga Sardi semuanya diserahkan pada Tuhan.

“Masalahnya, pada saat Tea akan disuntik saya tidak pernah dapat pemberitahuan apapun dari sekolah atau Puskesmas. Padahal, kalau saya tau, jelas saya larang Tea untuk di imunisasi,” katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Karawang, Sri Sugihartati mengatakan, saat Tearysa dibawa ke rumah sakit, waktu itu sudah panas 39 derajat, kesadarannya dan tensinya turun, serta turgor-nya tidak bagus.

“Di situ sementara didiagnosis sebagai sepsis, diare akut, dan dehidrasi,” jelasnya.

Dia membantah panas dan diare yang diderita Tearysa karena efek samping vaksin difteri. Sebab panas tersebut bisa saja disebabkan oleh diare.

“Jadi untuk saat ini kami tidak bisa memberikan diagnosis bahwa meninggalnya Tearysa karena vaksin difteri, sebab hari Minggunya sudah diare dan panas,” katanya.

Meski demikian, kata Sri, semua laporan medis sudah dikirim ke Bandung untuk kemudian diteliti lebih lanjut. Terlebih lagi, pihaknya mendapat informasi bahwa Tearysa sebelumnya memakan seblak.

” Vaksin dan seblak tidak ada hubungannya. Kalau seblak ada hubungannya dengan diare. Kalau vaksin yang diberikan tetes itu ada efek samping berak-berak. Jadi karena vaksin diberikan dengan cara suntik maka enggak ada efek samping,” ungkapnya.

Sementara itu, Meninggalnya Terasysa usai diberi vaksi ini menimbulkan kehebohan warga Desa Kedawung karena pemberian vaksin dilakukan serentak seluruh siswa yang kebanyakan warga Desa Kedawung. Warga yang panik membawa anaknya ke klinik, ataupun puskesmas terdekat untuk diperiksa kesehatannya.

Salah seorang orang tua siswa, Asep Saepudin Hasan mengatkan anaknya sudah satu minggu tidak masuk sekolah karena sakit demam, usai diberi vaksi disekolah pada Senin (7/1) lalu. Dia mengaku membawa anaknya, Sifa, ke dokter setelah dua hari anaknya menderita demam yang tidak kunjung turun.

“Setelah diberi vaksin anak saya menderita panas tinggi setelah dua hari tidak juga turun akhirnya saya bawa ke dokter. Bukan hanya anak saya saja, teman-temannya juga sebagian tidak masuk sekolah karena sakit,” kata Ase (use/aef/tra)

 

* Tearysa Kariztiani (10) diberikan vaksin difteri di sekolahnya SDN Kedawung 1 oleh Puskesmas Lemahabang (6/1).

* Tearysa mengalami demam tinggi dan dibawa ke Puskesmas Lemahabang.

* Puskesmas mengaku tidak sanggup menangani sehingga dirujuk ke Klinik Medika.

* Klinik Medika tidak menyatakan tak sanggup menangani hingga di rujuk ke RSUD (8/1).

* Tearysa sempat menjalani perawatan selama 24 jam. Namun kemudian meninggal dunia.