Beranda FEATURE Sepekan Kehidupan Santri Ponpes Miftahul Huda di Rumah Singgah Milik Dinas Sosial

Sepekan Kehidupan Santri Ponpes Miftahul Huda di Rumah Singgah Milik Dinas Sosial

257
0

Tamu Wajib Lapor, Minta Bola hingga Televisi

Mobil biru itu masih terparkir di halaman kantor Dinas Sosial Subang. Pagi, siang dan sore, bahkan malam, petugas asyik memasak di mobil dapur umum itu. Menandakan, para pengungsi dari Pesantren Miftahul Huda masih ditampung.

YUSUP SUPARMAN, Subang

Petugas keamanan, masih berjaga-jaga di sana. Siapa saja yang berkepentingan dengan pengungsi harus didata, melapor ke petugas. Termasuk wartawan yang hendak meliput.

Kemarin (3/1), nampak beberapa orang dari keluarga pengungsi datang menjenguk. Sebelum berinteraksi dengan pengungsi, mereka didata terlebih dahulu.

Ramai anak-anak kecil menjadi pemandang biasa kali ini di Dinas Sosial. Keramaian di kantor Dinas Sosial kini sudah biasa. Mereka menempati Rumah Perlindungan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Subang sudah akan sampai dua pekan. Entah sampai kapan di sana belum dipastikan.

Yang terpenting, mereka manusia yang mesti diperlakukan manusiawi. Dinas Sosial tak boleh ‘tidur’ memberikan pelayanan kepada mereka. Kadinsos Subang, Rahmat Efendi memastikan pelayanan itu.

Petugas Tagana terutama, mereka selama 24 jam standby. Siang dan malam, tetap ada yang bertugas. Bisa gawat, jika pengungsi ditelantarkan.
“Kami harus standby, memang harus seperti itu untuk memberikan pelayanan,” ujar Yoga, salah seorang petugas Tagana kepada Pasundan Ekspres.

Malam-malam jika ada yang mau makan, tetap harus dilayani. “Malam ada yang minta makan ya dilayani saja,” ujarnya.
Para pengungsi pun ternyata butuh hiburan. Kalau anak kecil sudah pasti, mainan harus disediakan. Meja tenis, disiapkan bagi orang dewasa yang butuh hiburan.
“Pukul 8 malam, saya yang ke pasar beli bolanya,” kata Yoga bercerita.

Kata Yoga, pengungsi juga ingin nonton televisi. Minta disediakan televisi. “Wah itu belum belum (disediakan, red),” ungkap petugas Tagana yang bertugas sejak 2006 lalu.

Pengungsi kali ini berbeda. Misalnya dari segi makanan. Daging ayam yang untuk dimakan pengungsi, harus disembelih oleh salah seorang dari pengungsi. Tak mau makan jika ayam itu tak disembelih oleh mereka.
“Ayam itu harus dipotong sama mereka,” ungkapnya.
Kadinsos Subang, Rahmat Efendi menceritakan, soal makanan untuk pengungsi tak boleh sembarangan. Makanan yang untuk dimakan pengungsi dikomunikasikan dulu yang bagaimana.
“Sesekali masak bareng petugas dengan pengungsi,” ujarnya.
Dia mengatakan, perwakilan dari pengungsi sempat bilang padanya. “Dia bilang senang dengan pelayanannya,” kata Rahmat.

Tak hanya melulu soal makanan, kesehatan dan makanan yang diberikan, Dinas Sosial juga menyediakan bilik asmara bagi pasangan suami-istri.
“Ya bilangnya kamar barokah,” ungkap Rahmat bicara diakhiri dengan tertawa ringan.

Petugas Dinas Sosial juga nampaknya memberikan pelayanan esktra. Bagaimana tidak, ada seorang pengungsi yang hamil tiga bulan.
“Ada yang hamil tiga bulan, kami sediakan susu,” ujarnya.

Kasi Bantuan Sosial Korban Bencana Dinas Sosial Kabupaten Subang, Saeful Arifin mengatakan, sejak lima terakhir komunikasi antara petugas dengan pengungsi mulai mencair. Sebelum-sebelumnya, mereka tertutup.
“Mereka sudah bisa berbaur dan menyesuaikan diri,” ujarnya.(ysp/din)