Beranda PRO DESA Sambut Ramadhan, Pemkab Gelar Papajar

Sambut Ramadhan, Pemkab Gelar Papajar

53
0

NGAMPRAH – Menyambut bulan Suci Ramadhan 1439 Hijiriyah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bandung Barat menggelar even makan bersama atau biasa disebut botram di Plaza Komplek Perkantoran Pemkab Bandung Barat di Ngamprah, Senin (16/5).

Pada acara munggahan yang biasa disebut istilah Papajar di Kabupaten yang sudah berdiri satu dekade ini, Hampir seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) yang bertugas di lingkungan Pemkab Bandung Barat menyantap hidangan makanan yang digelar mereka menyantap makanan itu sambil senda gurau penuh keakraban.

Jika biasanya, even makan bersama di lingkungan Pemkab Bandung Barat secara prasmanan. Namun kali ini,makanan yang mereka sajikan dengan menggelar tikar atau koran bekas dengan alas daun pisang.

Masing-masing Satuan Perangkat Kerja Daerah (SKPD) membawa bekal masing-masing. Tentunya dengan menu yang bermacam-macam. Namun rata-rata jenis makanan yang dihidangkan nasi dengan lauk pauk, lalaban serta sambal terasi. Bahkan ada diantaranya yang menyajikan nasi liwet komplit, plus goreng jengkol khas masakan Sunda.

Menyaksikan makanan tersebut, bikin lidah ngiler dan otomatis perut keroncongan. Padahal jam baru menunjukan pukul 09.00 WIB lebih. Sebenarnya bukan saatnya makan siang. Tapi karena goreng ikan asin serta sambal terasi, serasa menusuk-nusuk hidung maka tak ayal makanan itu disantap dengan nikmat.

Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Bandung Barat H Yayat T Soemitra didampingi istri, Dwina Candraasih ikut menikmati hidangan tersebut. Bersama sejumlah para Kepala SKPD, Yayat dan Dwina begitu ceria sambil mengajak seluruh yang hadir menikmati makanan tersebut.

Menurut Yayat makan bersama saat itu merupakan tradisi ummat Islam dalam menyongsong 1 Ramadhan 1439 H.

”Kalau di daerah lain ini namanya munggahan. Tapi kalau di Bandung Barat banyak yang menamakan ini adalah Papajar,” ucapnya.

Ia juga mengutip sebuah hadits, menyambut bulan yang penuh berkah ini hendaknya disambut dengan suka cita. Selayaknya suasana religious itu, diawali dengan kegembiraan. Melalui makan bersama atau dalam istilah Sunda, botraman menunjukan betapa bahagianya ummat Islam menyambut ramadhan.

Begitu juga dengan papajar, selain bisa menjaga tradisi daerah setempat pada ASN tetap menyambutnya dengan kegembiraan. Kendati, saat menjalankan tugas dan fungsinya bakal merasakan haus dan lapar ketika berpuasa namun pelayanan terhadap public tetap berjalan sebagaimana mestinya.

Lebih jauh Yayat berharap tradisi papajar hendaknya tetap dilestarikan oleh masyarakat KBB. Meskipun zaman telah berubah dengan perkembangan era baru, memungkinkan tradisi tersebut bakal punah.

“Saya berharap kegiatan seperti ini di dokumentasikan sehingga anak cucu kita ke depan punya literature tentang tradisi nenek moyangnya saat menjelang puasa,” pungkasnya. (sep/tra)