Beranda BANDUNG Rumah Panggung Suku Sunda Berusia 100 Tahun

Rumah Panggung Suku Sunda Berusia 100 Tahun

145
0

Pernah Jadi Rumah Nike Ardila, Paramitha Rusady, dan Desi Ratnasari (1)

LEMBANG– Masyarakat tahun 90an tentu sangat familiar dengan film Kabayan. Kini rumah yang sering digunakan untuk keperluan shooting film tersebut masih berdiri kokoh. Bahkan si pemilik rumah masih mempertahankan kondisi aslinya.

EKO SETIONO,
LEMBANG

Hampir 100 tahun, rumah tua itu berdiri kokoh diantara megahnya bangunan disekitarnya. Rumah panggung sederhana didominasi warna biru dan putih di Kampung Sukahaji RT 2/1, Desa Kayu Ambon, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat ini sangat jelas menggambarkan suasana Lembang tempo dulu.

Sekitar tahun 1923 rumah ini dibangun, hampir 90 persen masih orisinil. Perabotan yang ada di dalam rumah tersebut pun merupakan asli koleksi pemilik rumah pada masa itu. Rumah tampak bersih dan rapih ditambah perabotan jadul (jaman dulu) sehingga tercipta suasana yang nyaman, klasik dan antik. Rumah ini seolah terpisah dari dunia luar.

Rumah tua ini, merupakan rumah asli orang Sunda tempo dulu. Tak ayal, rumah ini kerap dijadikan salah satu lokasi syuting film Si Kabayan yang diperankan langsung oleh artis kawakan, almarhum Didi Petet pada era 1989 hingga 1994. Empat judul film Si Kabayan, di antaranya Si Kabayan Saba Kota (1989), Si Kabayan dan Anak Jin (1991), Si Kabayan Saba Metropolitan (1992) dan Si Kabayan Cari Jodoh (1994) dilakukan syuting di rumah tersebut.

Dalam kebutuhan syuting film, rumah ini pun dijadikan rumah sang kekasih si kabayan yaitu Nyi Iteung, beserta kedua orang tuanya, Abah dan Ambu. Tak tanggung-tanggung ketiga artis yang pernah memerankan Nyi Iteung seperti almarhum Nike Ardilah, Paramitha Rusadi dan Desy Ratnasari pun otomatis pernah menjajal kemampuan actingnya di rumah tersebut.

Selain itu banyak sekali artis senior yang otomatis pernah wara-wiri syuting di rumah tersebut. Diantaranya, peran Ambu yang pernah diperankan oleh Tati Saleh dan Meriam Belina. Atau peran Abah yang juga pernah diperankan oleh Rahmat Hidayat dan Mbah Suryana Fatah pada setiap judul film Si Kabayan yang berbeda.

“Rumah ini sudah tua banget, jadi saat ibu saya baru berusia 40 hari, dibawa pindah oleh nenek saya ke sini katanya. Dan sekarang ibu saya sudah meninggal,” ujar Undang Tjunarya (77) generasi ketiga dari keluarga Nyimas Idot dan Sahir (alm) di lokasi, Kamis (5/10).

Undang menuturkan sebagian besar perabotan rumah tersebut masih asli peninggalan nenek moyang mereka. Diperoleh dari hasil lelang, peninggalan para penjajah Belanda saat berhasil dipukul mundur oleh bangsa Indonesia. Kemudian barang-barang tersebut dijual oleh bangsa kolonial saat hendak kembali ke negaranya.

“Ini koleksi (perabotan) asli kakek-nenek kami, belum pernah diganti, tapi ada beberapa yang sudah diperbaiki,” tuturnya. (*/bersambung)

EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES
KLASIK: Rumah panggung berumur 100 tahun masih berdiri kokoh diantara bangunan rumah berkonsep modern. Rumah ini memiliki sejarah panjang dan sering digunakan untuk shooting beberapa film, diantaranya film Si Kabayan.

 

 

Rumah Panggung Suku Sunda Berusia 100 Tahun
Pernah Jadi Rumah Nike Ardila, Paramitha Rusady, dan Desi Ratnasari (2/Habis)

Bangunan berukuran 20×8 meter persegi ini berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 1 hektare. Undang menuturkan jauh sebelum dipakai syuting film Si Kabayan, rumah tua tersebut juga kerap dijadikan lokasi syuting sinetron dan film pada masa itu. Di antaranya Emas Putih, Kalabang Gendi dan Pel Ajaib.

Tampak depan rumah terdapat teras berkeramik hitam memanjang. Selain itu terdapat tiga undakan tangga persis di depan pintu rumah. Di dalamnya terdapat tiga ruang utama dengan tiga ruang kamar tidur.

Di bagian depan rumah terdapat kamar utama dan ruang tamu dengan dinding bilik (anyaman bambu) dicat warna putih. Ditambah hiasan dinding berupa gambar berbingkai hitam, caping dan batok kelapa yang dipajang secara rapih. Ruangan tersebut berlantai papan kayu tua, dan di atasnya terdapat delapan kursi kayu dan rotan yang tampak klasik lengkap dengan dua meja kayu yang bertaplak rapih.

Suasana jadul semakin terasa saat memasuki ruang tengah yang difungsikan sebagai ruang keluarga dan ruang makan. Di sisi kanan terdapat satu set kursi sofa berbahan kayu jati dengan dudukan berbahan kulit sintesis lengkap dengan rak TV dan lemari kaca berukuran kecil. Tak ketinggalan jam kayu klasik yang menempel pada dinding bilik berwarna coklat mengkilap (asli tanpa dicat).

Sementara di sisi kiri terdapat satu set meja makan berbahan kayu dan rotan membentuk lingkaran mengikuti bentuk meja yang bulat, lengkap dengan dua lemari klasik di setiap sisinya.

Selain itu terpasang kolase foto keluaraga sang pemilik rumah pada tempo dulu bernuansa hitam putih. Ditambah koleksi foto-foto artis pendukung film “Si Kabayan” saat tengah syuting di rumah tersebut.

Sebelum memasuki ruang dapur terdapat lorong kecil yang di setiap sisinya terdapat ruang kamar tidur, yang lagi-lagi di dalamnya kamar tersebut, terdapat satu set ranjang dan lemari asli peninggalan bangsa kolonial Belanda.

Di ruang dapur sendiri tidak ada yang istimewa, selain sempat direnovasi sedikit pada 2002 lalu pascagempa, sebagian besar perabotan dapur pun sudah diganti.

Di bagian belakang rumah terdapat bangunan Istal atau kandang kuda yang tampak sudah tua dan lapuk. Sementara di bagian samping kiri rumah juga terdapat bangunan kecil yang merupakan lumbung padi atau Leuit yang juga tampak tua namun masih berdiri kokoh. Serta terdapat sumur tua di bagian belakang Leuit tersebut.

Rumah tersebut memiliki halaman yang sangat luas sehingga ditanami berbagai tanaman buah dan sayuran. Pada jaman dulu halaman luas tersebut sangat multifungsi, selain kerap dijadikan arena bermain oleh anak-anak dan kuda, tanah lapang tersebut juga kerap dijadikan tempat menjemur padi.

Sekarang rumah tersebut ditempati oleh Ida Widaningrum (66) yang merupakan ahli waris dari generasi kedua pasangan Adang Yoesoef dan Nyimas Atjah. Ida menuturkan kini rumah tersebut kerap dijadikan tempat berkumpulnya keluarga besar di hari-hari besar seperti lebaran Idulfitri dan Iduladha.

Sampai sekarang masih banyak pengusaha yang menawar rumah tersebut untuk dijadikan pembangunan toko dan lain-lain. Bahkan masih banyak juga yang meminta izin untuk memakai rumah tersebut sebagai lokasi syuting.

Sebagai ahli waris Ida belum mau merenovasi rumah miliknya tersebut. Selain memerlukan dana yang cukup besar untuk merenovasi rumah, Ida juga merasa ingin menjaga keaslian rumah warisan nenek moyangnya tersebut.

“Lebih baik seperti ini, unik. Rumah jadi terlihat antik,” ujarnya. (*/tra)