Beranda FEATURE Rumah Ambruk, 20 Tahun Tidak Memiliki WC

Rumah Ambruk, 20 Tahun Tidak Memiliki WC

74
0

Nasib Getir Ceu Entin, Warga Miskin Desa Purwadadi Barat

 

Kabupaten Subang belum lama ini mendapat penghargaan juara 1 daerah open defecation free (ODF) atau bebas buang hajat sembarangan dari Gubernur Jabar Ahmad Heryawan. Tapi nyatanya, nasib sebaliknya dialami Ceu Entin (63), warga Kampung Neglasari, Desa Purwadadi Barat, Kecamatan Purwadadi. Selama 20 tahun Entin tidak memiliki WC dan buang hajat di sungai, sawah atau kebun. Kondisi Entin sangat memprihatinkan, tidak mampu membangun WC dan kamar mandi yang layak.

LUKMAN-Purwadadi

Saat Pasundan Ekpres berkunjung ke rumahnya, kondisi bangunan sudah memprihatinkan. Separuh bangunan pada sisi kiri rumah sudah ambruk. Bahkan menurut warga, rumahnya Ceu Entin sudah ambruk sejak 4 bulan lalu. Tapi belum ada inisiatif aparat desa untuk memperbaiki rumah janda satu anak itu.

Rumahnya terbuat dari bilik. Tampak pada bagian kiri kanan ditambal dengan plastik untuk menutupi bolong. Bagian depan rumah masih tanah, sedangkan pada bagian dalam rumah hanya beralas semen yang sudah mengelupas. Sebagian lagi masih beralas tanah.
“Saya baru habis nyuci di tempat orang lain,” kata Entin yang baru datang saat Pasundan Ekspres dan para pemuda setempat berkunjung.

LUKMAN/PASUNDAN EKSPRES
MEMPRIHATINKAN: Rumah Ceu Entin di Kampung Neglasari, Desa Purwadadi Barat, Kecamatan Purwadadi. Selama 20 tahun Entin tidak memiliki WC dan buang hajat di sungai, sawah atau kebun.

 

Dengan raut muka sedih, Entin bercerita bahwa rumahnya memang sudah lama ambruk sebagian. Saat hujan bocor di sana-sini. Tidur pun tidak bisa nyenyak. Ia sering mengisi malam dengan berdoa, agar ada yang membantu.

Kesehariannya ia mencari uang untuk makan mengandalkan dari penghasilannya sebagai buruh cuci baju serabutan. Atau mengerjakan apa saja disuruh tetangga. Upah nyuci kadang Rp10 ribu atau Rp20 ribu. Jika tak ada yang dikerjakan, ia terpaksa makan nasi saja.

Hingga kini Entin sudah sejak pindah ke Purwadadi 20 tahun lalu tidak punya kakus. Kondisi ekonomi keluarga makin berat saat ditinggal meninggal dunia oleh suaminya. “Saya menikah masih mudah, tapi suami saya sudah 60 tahun. Meninggal waktu anak masih kecil,” kata Entin.

Kini Entin tinggal bersama seorang anak laki-laki yang sudah remaja. Anaknya hanya sampai SMP, karena tidak ada biaya untuk melanjutkan. Akhirnya kesulitan mencari pekerjaan. Hanya mengandalkan kerja bangunan atau apa saja disuruh orang lain.

Kondisi Ceu Entin yang memprihatinkan mendapat perhatian dari para pemuda setempat. Tokoh pemuda Purwadadi M Rijal Fadhilah bersama komuntas Masyarakat Bertato (Masberto) berinisiatif memberikan bantuan. Mereka sudah menyumbangkan belasan sak semen untuk renovasi rumah Ceu Entin. Mereka pun mengajak pemerintah desa untuk segera merenovasi rumah Ceu Entin.
“Tapi katanya nunggu diusulkan program Rutilahu. Dari pihak kecamatan juga begitu. Terlalu ribet nunggu birokrasi. Kami juga sudah mengajak para anggota dewan, tapi jawabannya nunggu dana aspirasi,” papar Rijal.

Rijal mengaku kecewa dengan pemerintah yang lambat memberikan bantuan. Padahal bisa saja bergerak cepat mengajak warga untuk gotong royong. Kini para pemuda terus bergerak meminta sumbangan dari para dermawan dan pengusaha.
“Sudah ada dari pemerintah yang datang. Hanya foto-foto tapi belum kelihatan aksinya,” keluh Rijal.(*)