Beranda CATATAN Ruang yang Terbakar

Ruang yang Terbakar

93
0

*Lukman/Pemimpin Redaksi

Bulu kuduk merinding mendapati kenyataan bahwa sekolah menjadi arena yang menyeramkan untuk anak kita. Kekerasan penghinaan (bullying), pemukulan dan yang lebih mengerikan tindakan kekerasan seksual juga mengintai setiap saat. Kekerasan dalam segala bentuk juga mengancam. Entah akan berapa banyak lagi generasi muda bangsa ini yang akan jadi korban.

Angka kekerasan terhadap anak terus meningkat. Tidak usah bertanya berapa jumlahnya, sebab data akan selalu berubah. Yang tidak tereksposes tentu masih banyak. Hanya perlu kita sadari, semua ruang aman untuk anak kini jadi tempat mengerikan. Dihuni para predator seksual, guru jadi-jadian, teman-teman yang kasar, lingkungan yang bengal.

Yang lebih menyedihkan, ruang keluarga pun bisa menjadi penjara. Dingin, hampa, tak ada yang bisa diajak bicara. Anak akhirnya berteman dengan TV, handphone dan hanya bisa berimajinasi mendapatkan perhatian dan kasih sayang orang tuanya. Sebab sang ayah dan ibu sibuk bekerja. Sebuah kekerasan kejiwaan. Di luar rumah, narkoba dan pergaulan bebas juga mengintai anak-anak.

Siklus mematikan terus berputar. Menggelinding seperti bola api, membesar dan akan menabrak apa saja. Membakar apa saja. Orang tua bekerja mati-matian, anak yang ditinggal bergaul ugal-ugalan. Terlilit angka tagihan sekolah terus melambung. Tapi yang menyedihkan: tak ada jaminan sekolah menjadi ruang yang aman. Predator mengintai anak, teman mencemooh, guru hanya peduli angka. Selebihnya bukan urusan. Jika anak sudah jadi korban, guru dan orang tua saling menyalahkan. Sekolah jadi ruang panas. Membakar masa depan anak, harga diri dan visi pendidikan. Hangus! Rumah yang seharusnya jadi madrasah anak yang pertama juga terbakar. Hangus!

Dari mana mulainya menghentikan bola api yang menabrak ruang anak? Mari kita mulai dari isi kepala. Dari isi kepala orang tua, guru hingga pemegang kebijakan. Kewarasan dan akal sehat harus melandasi kebijakan dan kelak akan menggerakan kepedulian. Bapak Pendidikan Ki Hajar Dewantara meletakan dasar pendidikan di atas pondasi moral: keteladanan, kepeduliaan dan tak pernah lelah memberikan dukungan moril. Terangkum dalam “mantra” sederhana yang bermakna kuat. Ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani.

Lalu di mana kita mempijakan dasar pendidikan sekarang? Masih di atas moral? Sungguh deretan angka sekarang lebih berharga daripada senyum sapa. Di atas segalanya. Jiwa yang diibaratkan tabula rasa oleh Jhon Locke, tetap kosong. Terbakar hingga tak berbentuk. Jika masih ada, jiwa itu diisi apa saja. Ibarat tong sampah. Sampah sinteron, sampah bully-ing, sampah umpatan karena angka merah di raport, sampah video porno, sampah tindakan jahanam dari predator.

Jika kita amati lebih dalam. Ruang sekolah pun kini ibarat tempat berkumpul sekelompok orang yang memikirkan angka. Padahal mereka bukan bankir. Mereka itu yang berdiri di depan kelas, menulis angka. Tapi angka-angka keuntungan. Saat semuanya rugi, mereka tidak peduli kepada setiap kepala yang menatap dan berharap dibimbing menuju masa depan. Papan tulis terbakar, meja terbakar, masa depan pun terbakar. Hangus!

Pada akhrinya semua ruang anak yang aman akan sirna, jika pemegang kebijakan pun sudah lupa mantra Ki Hajar Dewantara. Sudah merasa jadi pengusaha, kontraktor atau menjelma menjadi penjual jasa. Tidak peduli moral yang rusak, karena moral sulit diukur. Tidak peduli masa depan yang hilang, karena itu dianggap urusan Tuhan. Tidak peduli predator seksual meneror dan menerkam, karena itu urusan polisi. Tidak peduli anak menjadi bengal karena bergaul geng jalanan, karena itu urusan orang tuanya. Tidak perduli semua ruang terbakar, karena masih ada anggaran. Dibangun lagi. Akan muncul proyek baru lagi. Semua yang tidak bisa dihitung didiamkan.

Dalam kebakaran itu, Ki Hajar Dewantara akan menangis. Tapi air matanya sudah tidak cukup memadamkan api. Hanya yang memiliki isi kepala yang waras yang akan memadamkan api itu. Jangan terlambat sampai membakar semuanya.(*)