Beranda FEATURE Ramadhan dan Terorisme

Ramadhan dan Terorisme

45
0

Bulan Ramadhan menjadi momen yang sering digunakan kelompok teroris untuk melancarkan aksi terornya. Seperti yang terjadi di tahun-tahun sebelumnya, tercatat berbagai aksi teror dilakukan sepanjang bulan Ramadhan yang terjadi di berbagai belahan dunia, bahkan Indonesia.

Seperti contoh pada 2015 lalu, enam hari menjelang puasa atau pada 23 Juni 2015, kelompok teroris yang mengatasnamakan ISIS menyerukan kepada para pengikutnya untuk meningkatkan serangan selama bulan Ramadhan.

Ramadhan 2016 juga diwarnai serentetan aksi teror bom yang dilakukan oleh ISIS.Sekitar dua minggu sebelum dimulainya Ramadhan rentetan aksi teror juga marak terjadi di berbagai belahan dunia yang menurut mereka (ISIS) menjadikan Ramadhan sebagai “musim perang”. Menurut mereka, Allah membuka gerbang bagi kaum Muslim saat Ramadhan dan dengan rahmat-Nya mengampuni mereka, sehingga ini (Ramadhan) adalah bulan yang mulia, gerbang-gerbang surga dibuka dan gerbang neraka ditutup. Saat inilah yang dirasa tepat oleh ISIS untuk melakukan “pertarungan.”

Belum lama ini, rangkaian aksi teror kembali terjadi di Indonesia sebelum Ramadhan. Negara yang damai nan santun ini harus ternoda oleh oknum warga negara Indonesia yang bertindak sebagai pelaku bom bunuh diri. Sejumlah gereja di Surabaya menjadi saksi bisu aksi tak manusiawi tersebut. Ironisnya, mereka melibatkan anak kandungnya sendiri yang masih dibawah umur. Terakhir, aksi penyerangan terhadap Mapolda Riau juga menyisakan pilu bagi ibu Pertiwi.

Pun, perangkat negara sudah disiapkan dalam memberangus kelompok teroris tersebut. Sebut saja dengan hadirnya Densus 88, setidaknya bisa meningkatkan kepercayaan masyarakat, bahwa negara hadir dalam membuat aman dan damai. Selain itu, disiapkan juga Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT). Program deradikalisasi yang diusung oleh BNPT ini setidaknya bisa meminimalisir sel-sel faham radikal yang mulai merambah ke masyarakat kelas bawah.

Namun, penanggulangan teroris ini tidak serta merta mutlak dilakukan oleh perangkat negara saja. Masyarakat juga diminta untuk memberikan andil besar dalam membantu negara menumpas gerakan teroris. Sebut saja tokoh/pemuka agama. Sebagai entitas masyarakat, para pemuka agama tersebut sangat membantu dalam proses transformasi ilmu-ilmu agama yang benar terhadap masyarakat. Karena, lagi-lagi para pelaku teroris itu berlindung dibalik ayat Al-Qur’an yang dijadikan sebagai alat pembenaran dalam menguatkan argumentasinya bahwa apa yang dilakukannya tersebut merupakan langkah jihad.

Inilah yang sangat berbahaya, ketika ayat tentang jihad yang disalah artikan itu dijadikan alat pembenaran, maka tak heran jika polarisasinya akan merembet kepada segmentasi kehidupan lainnya. Akibatnya, akan ada penilaian kepada orang yang tidak sejalan dengan pemikirannya, maka dicap sebagai musuh bahkan cenderung dikafirkan. Bahkan, darah dan hartanya halal untuk diambil.

Jadi, disinilah pentingnya negara harus menghadirkan tokoh agama (Ulama) dalam mentransformasikan ideologi Islam moderat ditengah-tengah kehidupan yang kompleks ini. Indonesia sebagai negara Muslim terbesar ini, diperlukan asupan nutrisi ideologi Islam yang bisa merekatkan kehidupan berbangsa dan bernegara. Tentunya, Bhineka Tunggal Ika tidak hanya sebagai jargon semata, akan tetapi harus diimplementasikan dalam kehidupan nyata.

Para Ulama dengan konsep Pondok Pesantrennya itu sangat berperan penting dalam melakukan dakwah deradikalisasi tersebut. Sebut saja pondok pesantren yang terafiliasi dengan organisasi Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah juga organisasi lainnya yang menerima konsep demokrasi dan Pancasila, sangat dinanti perannya. Tanpa dimintapun, pesantren-pesantren itu sudah melaksanakan kewajibannya dalam dakwah Islam Rahmatan lil Alamien. Islam yang membawa kesejukan dan kedamaian. Namun sekali lagi, negara juga harus menjamin bahwa peran Ulama jangan dipandang sebelah mata dalam penanggulangan teroris tersebut.

Dengan demikian, apa yang menjadi argumentasi kelompok teroris yang melakukan aksinya menjelang Ramadhan itu tidak bisa dibenarkan, apapun alasannya. Kalau meminjam istilah Gusdur, “Memuliakan manusia, berarti memuliakan Penciptanya. Merendahkan dan menistakan manusia, berarti merendahkan dan menistakan Penciptanya”.

Semoga Ramadhan di tahun ini, kita sebagai umat Islam bisa menjalaninya dengan khusyuk dan tak terpengaruh dengan kejadian yang bisa merusak tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara. Wallahul Muwaffiq Ilaa Aqwamitharieq.