Beranda LINTAS JABAR Puluhan Hektare Sawah Gagal Panen

Puluhan Hektare Sawah Gagal Panen

31
0
AEF SAEPULLOH/PASUNDAN EKSPRES KURANG AIR: Petani Karawang hanya bisa pasrah saat sawahnya kekeringan. Para petani berharap pemerintah daerah segera mencari solusi.

Akibat Kekeringan dan Hama Wereng

KARAWANG-Saat harga gabah kering panen (GKP) mencapai Rp 5.400 hingga Rp 5.500 per kilogram, puluhan hektare sawah di Desa Sukapura Kecamatan Rawamerta malah gagal panen. Rata-rata, dalam 1 hektare sawah hanya menghasilkan 1 hingga 5 kwintal gabah kering. Kondisi tersebut membuat petani semakin terpuruk.

Gagal panen yang terjadi di Desa Sukapura akibat dari hama wereng yang menyerang areal persawahan serta pengkerdilan tanaman atau yang biasa disebut “zonk”. Sehingga tanaman padi tidak dapat berkembang dan berbuah. Selain itu, terlihat banyak buah padi yang tidak dapat tumbuh normal. Hanya rumput liar yang banyak tumbuh di areal persawahan. Alhasil, pertanaman padi para petani tidak dapat dipanen. Tercatat, sekitar 50 hektare areal pesawahan di Desa Sukapura Kecamatan Rawamerta dinyatakan gagal panen.

Abai, petani setempat mengaku sudah melakukan berbagai cara untuk menangani penyakit dan hama tanamannya. Namun semua usahanya sia-sia. Dia dan sejumlah petani lainnya hanya bisa pasrah. Abai juga juga mengaku, jika dalam 1 hektare sawah harus mengeluarkan modal mencapai Rp 8 juta. Sedangkan hasil padi yang dipanen hanya 1 kuintal hingga 5 kwintal saja.
“Semua upaya sudah kami lakukan, tapi tetap saja tidak berhasil. Panen kali ini kami merugi,” ujarnya, Selasa (5/9).
“Yang lebih menyesakkan, gagal panen ini di saat harga gabah sedang bagus-bagusnya,” timpalnya.

Di tempat yang sama, Kepala Dusun di Sukapura, Ahmad Rifai menyatakan areal persawahan yang mengalami gagal panen di desanya mencapai 50 hektare. Menurutnya, para petani sudah mendaftarkan asuransi pertanian untuk areal sawah mereka. Namun, hingga saat ini belum ada ganti rugi yang diterima oleh petani. “Gagal panen ini sudah kami laporkan, karena sawah di sini sudah diasuransikan,” ujarnya.

Di tempat berbeda, kegetiran juga melanda para petani di Kecamatan Telagasari. Di saat tanaman padi sedang membutuhkan air karena di masa pembuahan dan mendekati masa panen, justru kekeringan malah melanda puluha hektare areal persawahan di sana. Tak ayal, para petani bersusah-payah mencari cara agar sawahnya teraliri listrik.
“Ada sekitar puluhan haktare sawah di sini yang mengalami kekeringan. Padahal, tanaman kami sedang butuh-butuhnya air,” kata Saepul Bahri, warga setempat.

Sejauh ini, para petani mengalirkan air dari irigasi tersier yang debitnya sedikit dengan menggunakan mesin pompa. Berdasarkan pantauan di lokasi sawah, terlihat permukaan sawah tanahnya sudah retak-retak.
“Penyuluh lapangan atau pun kelompok tani tidak ada yang mau peduli,” tukas Saepul Bahri.

Kondisi kekeringan di areal persawahan di Telagasari juga berpotensi terjadinya gagal panen. Karena serangan hama serta terjadinya pengkerdilan tanaman juga menyerah areal persawahan di sana.(aef/din)