Beranda OPINI Proyek Kolaborasi Daring Untuk Penguasaan Keterampilan Abad 21

Proyek Kolaborasi Daring Untuk Penguasaan Keterampilan Abad 21

198
0
Rika Rachmita Sujatma, Kepala SMAN 1 Cipeundeuy Subang rika.rachmita@gmail.com

Abad 21 yang ditandai  dengan pesatnya  perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi seringkali  disebut juga sebagai era globalisasi dimana batas-batas antar negara dan budaya menjadi hilang dengan bantuan internet yang berkembang sangat masif dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat. Ketiadaan batas ini kemudian menjadikan lapangan pekerjan menjadi terbuka lebar dan menjadikan pertukaran sumber daya manusia (SDM)  menjadi sebuah keniscayaan dan sangat mudah terjadi sehingga persaingan untuk mendapatkan pekerjaan yang baik dan menjadi SDM yang berkualitas menjadi sangat ketat. Persaingan ini hanya dapat dimenangkan oleh SDM yang memiliki keterampilan yang sesuai dengan kebutuhan dan persyaratan yang telah ditentukan.

Keterampilan yang dimaksud adalah keterampilan khas yang harus dimiliki oleh tenaga produktif yang hidup di Abad 21 ini yang dikenal dengan Keterampilan  Abad 21 (21st Century Skills) yang meliputi  kreativitas dan inovasi, komunikasi dan kolaborasi, kemampuan meneliti dan melek informasi, berpikir kritis, pemecahan masalah dan membuat keputusan, kewarganegaraan digital (digital citizenship) serta konsep-konsep dan pengoperasian teknologi (NETS dalam Gora dan Sunarto, 2010:26).  Penguasaan keterampilan ini seyogyanya menjadi program prioritas dan inovasi sekolah sebagai sebuah lembaga pendidikan yang mempersiapkan para lulusannya agar dapat bersaing didunia global.

Salah satu upaya yang dapat dilakukan sekolah adalah dengan melakukan sebuah proyek kolaborasi daring, yaitu  kegiatan yang beranggotakan pendidik dan peserta didik sekolah-sekolah yang saling bermitra yang berasal dari berbagai negara dalam sebuah kelas maya (cyber classroom) yang dibangun bersama dalam bentuk website. Pembelajaran dalam kelas tersebut mengambil topik tertentu dengan pengantar Bahasa Inggris. Bagaimanakah proyek ini dapat dilakukan? Berikut adalah langkah yang bisa diambil sekolah jika ingin menerapkannya:

1.    Membangun kemitraan dengan sekolah dalam negeri dan luar negeri yang sejajar untuk melaksanakan proyek kolaborasi.

2.    Pengembangan website, strategi ini merupakan inti dari pelaksanaan karena website akan digunakan sebagai ruang kelas maya (cyber classroom).

3.    Membangun Netizen (Internet Citizen), yaitu warganet yang aktif memanfaatkan internet untuk pengembangan dirinya. Pendidik berkewajiban untuk membangun budaya  netizen  agar peserta didik memahami netiquette. Mereka tidak boleh memaki, mengancam, rasis, mencaci agama, dan hal lain yang bertentangan dengan etika. Hal ini penting dilakukan agar kolaborasi dapat berjalan dengan baik dan santun.

4.    Mengelola resistensi, perubahan ritme dan cara kerja pendidik dan peserta didik berpotensi menghadapi resistensi dan penolakan karena ketidakmengertian mengapa perubahan dibutuhkan.  Pengelolaaan ini dapat dilakukan dengan cara  sosialisasi, pemberian contoh, menunjukkan hasil positif yang didapat dan mengajak beberapa rekan kerja terlibat dalam kegiatan proyek ini.

Dibandingkan dengan kegiatan kolaborasi antar negara yang dilaksanakan secara langsung (kunjungan, magang, pertukaran peserta didik/guru) yang membutuhkan biaya yang mahal dan waktu yang telah ditentukan maka pelaksanaan pembelajaran berbasis website ini relatif jauh lebih murah karena bersifat daring. Pelaksanaan kegiatan tidak membutuhkan biaya tambahan karena memanfaatkan fasilitas internet yang ada di sekolah. Namun jika dilaksanakan diluar sekolah biayanya relatif murah, peserta didik dapat menggunakan telepon pintar atau gadget lain yang mereka punya.

Modem dengan biaya berlangganan  perbulan yang relatif terjangkau namun dapat diakses oleh banyak peserta didik dapat pula digunakan. Selain ekonomis, proyek kolaborasi ini juga sangat fleksibel pelaksanaannya, tidak terikat pada ruang dan waktu sehingga peserta didik dapat mengeksplorasi dan mengelaborasinya pada saat mereka memiliki kesempatan. Fleksibilitas dari segi waktu juga menguntungkan pendidik karena dapat melakukan pembimbingan, pemantauan dan penilaian proses setiap saat diperlukan.

Jika sebuah sekolah ingin mulai membangun kolaborasi ini maka guru-guru disekolah tersebut dapat menjadi anggota Asia Europe  Foundation Classroom Network (ASEF Class-net) yang berada dibawah Asia Europe Foundation (ASEF) untuk membangun ruang kelas maya  (cyber classroom) yang akan mempromosikan pertukaran intelektual dan pertukaran  antar – budaya diantara pendidik  dan peserta didik sekolah menengah di Asia dan Eropa. Informasi mengenai  ASEF Classnet dapat dilihat di laman www.aec.asef.org.

Pemanfaatan proyek kolaborasi daring diyakini dapat memberikan manfaat dan  pencapaian yang baik seperti yang telah dialami penulis sebagai salah seorang pelaku sebagai berikut:

(1) Sekolah mendapatkan pemahaman yang benar mengenai pembelajaran berbasis TIK.

(2) Peningkatan keterampilan komunikasi global secara signifikan karena peserta didik menggunakan Bahasa Inggris dalam situasi yang sebenarnya. Komunikasi terjadi karena ide-ide yang mereka  pertukarkan adalah pesan-pesan yang ingin mereka dengar dan sampaikan.

(3) Peningkatan penguasaan keterampilan abad 21. Peserta didik lebih mampu  berkomunikasi, berkolaborasi dan menggunakan TIK secara tepat dan santun. Peserta didik juga menjadi lebih kreatif dan mampu mengambil keputusan sebagai hasil dari tuntutan dan tagihan-tagihan yang harus dipenuhi oleh mereka saat mengerjakan tugas untuk mengisi konten proyek.

(4) Peserta didik dan pendidik menghasilkan karya monumental sebagai hasil dari pembelajaran.

(5) Peserta didik, pendidik dan sekolah membukukan prestasi internasional yang bereputasi tinggi karena penyelenggara adalah lembaga-lembaga atau sekolah internasional ternama dan terpercaya.

(6) Proyek kolaborasi mendidik peserta didik untuk menjadi warga negara yang memiliki identitas kuat sebagai bangsa Indonesia, bertanggung jawab, santun, cerdas dan kreatif.

Berdasarkan paparan tentang apa, bagaimana dan hasil yang didapatkan dari pelaksanaan proyek kolaborsi daring maka sekolah seyogyanya dapat  melakukan kegiatan termaksud untuk memenuhi beberapa standar yang tercantum dalam Standar Nasional Pendidikan, yaitu: (1) Standar kompetensi Lulusan dimensi pengetahuan yaitu  Memiliki pengetahuan berkenaan dengan ilmu pengetahuan, teknologi, seni, budaya, dan humaniora serta mampu mengaitkan pengetahuan dalam konteks diri sendiri, keluarga, sekolah, masyarakat dan lingkungan alam sekitar, bangsa, negara, serta kawasan regional dan internasional. Dimensi Keterampilan yaitu memiliki keterampilan berpikir dan bertindak kreatif, produktif, kritis, mandiri,  kolaboratif, dan komunikatif melalui pendekatan ilmiah sebagai pengembangan dari yang dipelajari di satuan pendidikan dan sumber lain secara mandiri. (2) Prinsip pembelajaran dalam Standar Proses yaitu pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pembelajaran  dan Standar Pengelolaan yang mengharuskan sekolah memiliki kemitran dengan sekolh atau lembaga lain yang setara untuk peningkatan kualitas pendidikan.(*)

OLEH: Rika Rachmita Sujatma,
Kepala SMAN 1 Cipeundeuy Subang
rika.rachmita@gmail.com