Beranda CATATAN Plus Minus Poling dengan Segala Keanehannya

Plus Minus Poling dengan Segala Keanehannya

324
0

Sejumlah nama tokoh muncul dalam jajak pendapat (poling) yang dilakukan website Pasundan Ekspres. Hasil poling tersebut menampilkan tokoh dari beragam profesi. Ada figur lama, ada juga figur baru. Mulai dari politisi seperti ketua partai, ketua LSM, ketua Ormas, birokrat hingga pengusaha.

Sejumlah pandangan negatif dan positif beredar di masyarakat menyikapi poling tersebut. Terutama di kalangan tim sukses bakal calon bupati. Sebab, sejumlah nama tersebut dimunculkan tanpa parameter yang jelas. Apa dasarnya dia disebut calon bupati dan layak masuk dalam jajak pendapat tersebut. Bahkan, nama-nama tersebut tidak dikonfirmasi untuk dimasukkan dalam poling.

Sebenarnya Pasundan Ekspres memasukkan nama tersebut berdasarkan beberapa dasar. Pertama, didasarkan pada latarbelakang figur tersebut. Kedua, masuk dalam poling yang dilakukan lembaga survei lain. Ketiga, aktif di media sosial dan terakhir, ada beberapa elemen masyarakat yang mengusulkan nama untuk masuk poling. Tidak ada metode khusus yang kami lakukan.

Sejumlah pihak pernah komplain ke redaksi Pasundan Ekspres karena ketidakjelasan dasar tersebut. Tapi pada umumnya yang protes karena kesulitan mengakses dan yang bersangkutan prosentase dukungannya masih kecil. Tapi sejumlah nama yang prosentasenya tinggi banyak pula yang memberikan ucapan terimakasih kepada kami.
“Gara-gara masuk poling, saya jadi sering diajak diskusi oleh sejumlah tokoh.

Terimakasih,” tutur tokoh akademisi Pamanukan, Dr. Otong Rosadi kepada Pasundan Ekspres. Otong termasuk tokoh yang tidak dikonfirmasi namanya masuk poling. Dasarnya, Dia pernah masuk survey yang dirilis lembaga Subang Strategic Information Center (SSIC). Juga dipandang tokoh untuk wilayah Pantura.

Ada pula yang menghubungi bahwa poling Pasundan Ekspres bisa diakali. Tapi kami hanya menjawab, silakan saja kalau mau diakali, sebab kami pun di redaksi tidak bisa mengakali poling tersebut. Sejumlah komputer di redaksi yang sudah digunakan mem-vote, entah oleh redaktur atau wartawan, maka komputer tersebut otomatis tidak bisa digunakan untuk vote-lagi.

Rupanya, satu IP address hanya bisa digunakan untuk memilih satu kali saja. Demikian juga handphone. Jadi, jika ada yang protes HP-nya tidak bisa digunakan untuk memilih, berarti memang sudah pernah digunakan untuk vote salahsatu calon. Cirinya bagaimana? Saat akan memilih maka sudah tidak ada lagi kotak yang bisa diceklis, dan nama salahsatu calon bupati yang sudah dipilih akan tampil dalam tulisan sudah di-bold (tebal hitam). Hanya bisa diakali dengan cara membeli banyak hape, laptop atau PC agar punya banyak kesempatan memilih.

Maka kepada pihak yang memprotes bahwa poling itu bisa diakali, kami hanya menjawab dengan mempersilahkannya untuk mengakali agar jagoannya berada di poling tertinggi. Nyatanya, itu tidak terjadi. Yang protes tadi, tidak protes lagi. Bahkan kami di redaksi juga terheran-heran, mengapa figur tertentu polingnya tinggi. Padahal dia jarang muncul, bahkan jarang diwawancara Pasundan Ekspres.

Lebih aneh lagi, Bupati Imas Aryumningsih hanya disukai sedikit saja warganet. Padahal bisa saja dia mengintruksikan semua PNS di Subang untuk klik namanya. Hanya sedikit saja yang tergerak mengklik namanya, hanya 111 orang. Padahal PNS saja sudah 11 ribu orang. Tapi memang itu kenyataannya. Aneh ya.

Ada juga yang protes poling dirinya di media lain lebih tinggi tapi di Pasundan Ekspres rendah, sehingga meragukan. Tentu hal ini biasa. Saat muncul poling di Pasundan Ekspres bisa jadi si tokoh itu belum begitu dikenal, sementara saat muncul poling di media lain Dia sudah dikenal dan banyak yang memilih. Faktor lainnya, bisa jadi Pasundan Ekspres kalah populer dibanding media lainnya. Atau yang memilihnya itu baru punya hape dan pulsa internet bulan ini, saat poling sudah tidak “seru” lagi. Jadi, banyak faktornya.

Kelemahan lain dari poling ini adalah siapa saja bisa memilih. Tidak hanya warga Subang, orang se-dunia yang bisa mengakses internet juga bisa memilih. Bahkan anak-anak yang belum cukup umur, kalau bisa mengakses, juga bisa meng-klik poling ini. Jadi yang bisa mengakali bukan kami, tapi peserta poling ini. Yaitu dengan mengajak teman, saudara, pacar, orang tua dan kenalannya di mana pun untuk bisa memilih dirinya di poling. Kalau perlu dibeliin kuota internet atau hape baru. Begitu mengakalinya.

Akhirnya, poling yang kami buka sejak Februari lalu ini harus ditutup. Sebab nyatanya warganet sudah bosen karena terlalu lama. Jumlah terakhir yang meng-klik di poling ini sebanyak 8.940 klik. Bisa diasumsikan, merekalah yang aktif menggunakan internet dan rajin untuk mengklik poling. Hingga terakhir, poling hanya disisakan 17 nama saja. Padahal awalnya ada 25 nama. Karena nama-nama yang lain tidak naik-naik prosentasenya, malah ada yang masih 0%, akhirnya kita hilangkan. Yang dimunculkan hanya 1% ke atas.

Hasil akhirnya, ternyata yang “memenangkan” poling ini sosok perempuan yaitu Elita Budiarti yang mengantongi 22% (1.941 votes). Disusul Ketua Pemuda Pancasila Endang Lentuk (15%), Ketua DPC PDIP Maman Yudhia (12%), mantan Ketum HMI Ade Syahid (12%), Ketua Perindo H Bernadi (9%), H Ruhimat (8%) dan mantan istri bupati Dewi Nirmalasari (5%).

Jangankan bagi pembaca, bagi kami nama-nama tersebut juga mengejutkan. Terutama sosok Elita Budiarti. Sebab, staf ahli bupati itu termasuk sosok yang kontroversi sejak Dia diangkat jadi Camat Kalijati di kepemimpinan Eep Hidayat lalu. Belakangan beberapa kali namanya disebut dalam persidangan Ojang Sohandi. Apakah karena itu justru Elita jadi tenar? Atau publik Subang suka dengan sosok kontroversi?

Kejutan lainnya juga datang dari mantan Ketum HMI Cabang Subang Ade Syahid. Rupanya Dia punya pengagum rahasia di dunia maya atau punya jaringan yang cukup luas. Lain halnya dengan sosok Endang Lentuk, Maman Yudhia, H. Ruhimat dan Dewi Nirmalasari. Mereka pernah memuncaki poling dan saling kejar mengejar. Walaupun kemudian loyo dan harus tersalip.

Kesimpulan lainnya dari poling ini, bahwa nama-nama tokoh tersebut punya pendukung dan disukai oleh orang-orang yang memiliki akses internet. Belum tentu juga disukai oleh orang yang tidak melek internet. Tapi pada dasarnya, dia punya kapasitas, elektabilitas, popularitas atau bisa jadi dia punya pengagum rahasia di dunia maya. Kapasitasnya beragam, mulai dari kapasitas kepemimpinan atau kapasitas hanya untuk menggerakkan jaringannya untuk meng-klik namanya. Namanya juga warga dunia maya, memilih dan menyukai seseorang dengan cara yang berbeda.

Tapi, jangan disepelekan pengaruh dunia maya. Nama seseorang yang melambung tinggi dalam survey atau poling online seringkali juga pada realitasnya di dunia nyata, memang benar disukai. Bahkan dipilih partai politik untuk dijadikan calon kepala daerah. Apakah yang disukai di dunia nyata juga disukai di dunia maya? Entahlan. Tapi yang pasti, acara televisi Dunia Terbalik lagi disukai, sebelumnya acara Dua Dunia juga nge-hits.

Kembali ke realita. Terimakasih kepada semua kliker dan peserta poling. Poling tersebut juga bagian dari dunia demokrasi. Siapa pun berhak ikut poling. Semoga muncul figur alternatif untuk Subang yang tidak termonitor oleh partai politik. Jika yang disukai ternyata masih tetap figur lama, tapi semoga bisa tampil dengan cara baru. Yang pasti, ini bagian dari ikhtiar mewujudkan demokrasi yang terbuka dan damai.(*)