Beranda PURWAKARTA Petani KJA Tolak Program CBF

Petani KJA Tolak Program CBF

98
0

Ditetapkan Tiga Kesepakatan

PURWAKARTA – Salah satu program normalisasi Danau Jatiluhur yang ditawarkan Satgas Perusahaan Jasa Tirta II, yaitu Culture Best Fishing (CBF) ditolak perwakilan petani KJA dalam audiensi yang digelar di aula Citarum, Selasa (6/3) kemarin. Program tersebut disampaikan profesor Dikdik dari Badan Penelitian KKP Bandung khusus untuk solusi bagi petani ikan Keramba Jaring Apung (KJA) danau Jatiluhur dan guna menormalisasi perairan danau.

Menurut Profesor Dikdik dalam kajiannya yang dia sebut diadopsi dari keberhasilan Wonogiri dan China dalam mengelola perikanan danau. Dikatakannya, CBF merupakan solusi terbaru bagi petani KJA Jatiluhur agar usahanya sebagai petani ikan tak hilang sementara air danau terbebas dari segala unsur kimia berbahaya akibat pengendapan sisa sisa pakan yang berpotensi menurunkan kadar oksigen dalam air.”Dalam program CBF, petani ikan tak perlu sewa ikan, tidak perlu ngasih makan pakan pabrikan tapi cukup dari alam bebas. Petani hanya cukup merawatnya, lalu panen dan hasilnya merupakan hasil bersama petani ikan dengan kartu identitas keanggotaan,” papar Profesor Dikdik yang diberi waktu 10 menit dalam menyampaikan program tersebut.
Dikatakan Profesor Dikdik, tiga spesies ikan air tawar seperti bandeng, patin, dan nila direkomendasikan untuk program CBF ini akan dilepas bebas di danau Jatiluhur tanpa ada jaring penyekat.
“Tugas petani menjaganya bersama saat panen kita undang semua petani dan hasilnya kita bagi bersama. Dengan CBF, aspek ekologi, kualitas air, sosial ketenagakerjaan terserap, begitupun dengan aspek ekonomi akan menguntungkan bersama.” jelasnya,
Menanggapi kajian Profesor Dikdik, perwakilan petani KJA menolak dengan halus program CBF. Darto misalnya, petani KJA yang sudah hapal betul usaha di danau Jatiluhur menilai sistem dan cara CBF sudah usang.
“Memelihara ikan di alam bebas seluas danau Jatiluhur tanpa dikasih pakan itu sudah kita kenal sejak jaman belanda, dulu istilahnya “Angoh”, itu sangat lama dapat hasil,” terang Darto penuh protes.
Hal yang sama juga ditegaskan H.Yana pengusaha Keramba Jaring Apung ini bahkan menyebutkan bahwa petani KJA di Jatiluhur mampu memproduksi ikan 200 ton dalam kurun waktu 24 jam, siang 100 ton, malam 100 ton.
“Bagaimana mungkin para petani KJA diarahkan memutar haluan ke sistem CBF yang panennya sekali dalam setahun,”
“Sementara di sisi lain, semua pengusaha KJA sudah kadung berkaitan dengan lembaga perbankan, apa mungkin bayar kuliah anak atau setor ke bank bisa dipending karena alasan belum panen ikan di sistem CBF itu,” jelasnya.

Menanggapi kebuntuan tersebut, Komandan Kodim 0619 Purwakarta Letkol (Inf) Ari Maulana yang juga bertindak sebagai Ketua Satgas Normalisasi Danau Jatiluhur akhirnya memutuskan kesepakatan setelah pihaknya secara intens menyimak berbagai masukan yang terungkap dalam audensi tersebut.

Peserta Audensi dalam hal ini pihak PJT II dan perwakilan petani KJA menyepakati tiga hal pokok antara lain, pertama; jumlah KJA akan dibatasi dengan jumlah 2500 keramba atau 1 persen dari luas danau Jatiluhur serta dibentuk zonase yang akan diterbitkan kemudian.Kedua; para petani KJA setuju dan siap bekerjasama untuk menjaga kebersihan air danau dan siap menjadikan kawasan KJA menjadi kawasan pelangi wisata dengan cat aneka warna. Ketiga; Kedua pihak setuju hanya warga lokal yang boleh usaha KJA.

Kedua pihak akan mengawasi ketat pendatang atau siapapun yang datang ke lokasi KJA, terlebih mendirikan kolam jaring apung baru dan petani siap penempati zona yang diizinkan.
Kesepakatan ini akhirnya mencairkan suasana audensi serta ratusan petani KJA yang sejak pagi menunggu hasil pertemuan perwakilan mereka. Setelah kesepakatan itu dibacakan akhirnya para petanipun membubarkan diri pulang ke kolam masing-masing. (dyt)