Beranda BANDUNG Petani Kecil Merasa Tak Diperhatikan

Petani Kecil Merasa Tak Diperhatikan

35
0
EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES BERHARAP PERHATIAN: Petani asal Kampung Wangsakerta Rt. 02 Rw. 05 Desa Cibodas Kecamatan Lembang, Tihar bersama rekannya sedang memanen tomat.

LEMBANG– Perhatian dari pemerintah nampaknya belum terlalu dirasakan oleh petani . Terlebih petani kecil yang hanya memiliki lahan seadanya atau bahkan tak memiliki lahan (menyewa lahan). Hal ini diungkapkan oleh petani asal Lembang yang sampai saat ini masih mengharapkan adanya kepedulian dari pemerintah.

Petani asal Kampung Wangsakerta Rt. 02 Rw. 05 Desa Cibodas Kecamatan Lembang, Tihar mengungkapkan tidak ada perhatian pemerintah untuk petani kecil sepertinya. Kekecewaan itu ia sampaikan karena selama dirinya bertani, pemerintah hanya memberikan bantuan terhadap para petani dengan lahan dan modal yang besar.

“Mayoritas disini petani menengah kebawah, yang harus benar benar diperhatikan oleh pemerintah” ujar Tihar, saat dijumpai Pasundan ekspres di kebun tomat miliknya. Rabu (11/10).

Menurutnya, petani kecil yang seharusnya dibantu, baik dari segi penyediaan lahan pertanian, permodalan dan sarana produksi lainya.

“Tidak ada, belum pernah ada bantuan apapun. Para petani kecil lahan pun menyewa, dan itupun kalo ada yang disewakan. Nah kalau tidak ada gimana nasib petani kecil?”jelasnya.

Tihar mengatakan, meskipun kurangnya perhatian dari pemerintah, dirinya bersama para petani lain, tetap bertahan dalam menjalankan propesinya sebagai petani.

Bahkan, menurutnya pemerintah dalam pengendalian harga pun masih belum memihak petani. “Contoh saat harga sayuran naik semua sibuk menurunkan harga, tapi ketika harga turun atau anjlok, tidak ada yang bisa membantu menaikan harga,”paparnya.

Untuk itu, dirinya dan petani lain mengaku harus memutar otak untuk mensiasati hal tersebut. Ia menerangkan, tanaman brokoli dan tomat saat ini masih menjadi pilihan petani. Meskipun mereka harus mengikuti harga yang fluktuatif. Menurutnya, musim penghujan merupakan musim yang cocok menanam tomat.

“Sekarang kan sudah masuk musim hujan, meskipun banyak yang panen juga ada yang baru menanam. Nah ini cukup bagus karena biaya produksi akan berkurang. Ya.. tidak ada biaya untuk ‘nyebor’ (menyiram) tanaman,”bebernya.

Tihar menambahkan, yang menjadi kendala petani di lapangan saat musim tanam adalah hama. Oleh karena itu petani harus telaten dalam memeliharanya.

“Banyak hama, hama busuk daun busuk batang, bisa merusak. Tapi gimana kita, itu bisa di obati baik oleh obat organik maupun kimia,”bebernya.

Menurut informasi yang dihimpun, dalam perhektar petani tomat dapat mengantongi hasil 80 juta samapai 130 juta dalam satu musim tanam, yang dijual dengan sistem tebas (di jual diborong oleh tengkulak). Bahkan dalam satu waktu dapat dilakukan tanaman tumpang sari, berupa tanaman cabai merah, cabai rawit, burkol dan tanaman sayuran lain yang bernilai ekonomis. (eko/tra)