Beranda BANDUNG Observatorium Imah Noong Amati Gerhana Bulan

Observatorium Imah Noong Amati Gerhana Bulan

54
0
EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES PENGAMATAN: Sejumlah peneliti melakuka pengamatan di observatorium Imah Noong yang terletak di Kampung Areng, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat.

LEMBANG-Peneliti dapat mengamati secara maksimal proses Gerhana Bulan Sebagian (GBS), yang terjadi pada Selasa (8/8)
dini hari di observatorium Imah Noong yang terletak di Kampung Areng, Desa Wangunsari, Kecamatan Lembang, Kabupaten
Bandung Barat.

Pengamatan dibantu dengan teleskop Bresser Messier AR 152 yang dipasang pada sebuah kamera, rangkaian GBS sejak
pertama terjadi kontak diabadikan dalam sejumlah foto maupun video oleh tim peneliti. Selain peneliti, pengamatan GBS juga
dihadiri sejumlah mahasiswa jurusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) dan tim dari Kementrian Agama pusat.

Hasil pengamatan sangat memuaskan, setiap fase gerhana dapat terlihat jelas dan terekam dengan baik karena cuaca di wilayah
Bandung cukup cerah sejak sebelum puncak gerhana terjadi pukul 01.20 WIB hingga sekitar pukul 03.00 WIB. Pada fase
puncak gerhana, sejumlah warga turut mengabadikan fenomena ini melalui kamera ponselnya, dan sebagiannya lagi
mengadakan shalat gerhana.

Pengelola observatorium Imah Noong, Hendro Setyanto mengatakan, GBS merupakan salah satu fenomena menarik bagi
peneliti untuk menghitung secara observasi puncak gerhana, dan sekaligus menghitung berapa besar umbra bumi yang saat ini
ada.

“Sangat menarik bagi kami, untuk itu kami coba perekaman secara digital menggunakan kamera Mirrorless dan DSLR yang
khusus digunakan sebagai kamera pengamatan benda-benda astronomi,” ungkap Hendro seusai pengamatan.

Dia menyatakan, pengamatan gerhana bulan berjalan lancar meskipun di awal-awal gerhana, awan sempat menutupi langit,
“tetapi ketika puncak gerhana sampai akhir gerhana, cuaca sangat bagus. Sangat mendukung sekali untuk pengamatan,”
ucapnya.

Setelah pengamatan ini, lanjut dia, pihaknya akan menggunakan data-data hasil pengamatan tersebut untuk kepentingan di
observatorium Imah Noong, terutama untuk pengunjung yang ingin memperdalam pengetahuan tentang gerhana bulan.

Masyarakat di Indonesia dapat kembali menyaksikan peristiwa gerhana bulan pada tahun 2018. Berbeda dengan yang terjadi
tadi malam, pada tahun mendatang, akan terjadi Gerhana Bulan Total (GBT) yang waktu puncaknya akan terjadi lebih sore
lagi.

“Di kita, nanti kembali terjadi gerhana, GBT sekitar bulan Januari 2018. Lebih menarik tentunya untuk disaksikan masyarakat,
berbeda dengan GBS karena tak bisa melihat perubahan warna pada permukaan bulan. Waktunya pun tidak tengah malam
seperti ini, lebih sore lagi, fenomena yang sangat menarik untuk melihatnya karena bisa melihat perubahan warna di
permukaan bulan,” bebernya.

Hendro menambahkan, gerhana bulan seperti ini sebetulnya hampir setiap tahun terjadi, bahkan bisa terjadi dua kali dalam
setahun, hanya daerah yang dapat dipantaunya berbeda-beda, “GBS kali ini terjadinya tengah malam, itu artinya bulan tepat
ada di atas kepala sehingga menjadikan hampir seluruh belahan wilayah di Indonesia dapat mengamati gerhana tersebut,”
tambahnya.

Sementara itu, Kasubdit Hisab Rukyat Kementrian Agama, Nur Khozin menyebutkan, pengamatan atau observasi GBS
bersama astronom ini menjadi bahan penghitungan bagi pihaknya dalam penentuan awal bulan dalam kalender Islam, karena
sistemnya lebih akurat.

“Hasil pengamatan ini jadi bahan kajian kita, misalnya untuk menentukan awal bulan, karena sistem penghitungan kan ada
banyak. Kita sesuaikan dengan pengamatan di sini, apakah sudah akurat atau tidak,” ujarnya.

Menurutnya, peristiwa gerhana merupakan salah satu bukti kebesaran Allah, maka kepada umat muslim dianjurkan untuk
melaksanakan shalat gerhana, takbir, berdoa dan bersedekah. “Fenomena alam ini jadi penyemangat umat Islam agar lebih taat
dan patuh pada sang pencipta, Allah SWT,” tuturnya.(eko/ded)