Beranda HEADLINE Nenek Kosiah Terancam 10 Tahun Penjara

Nenek Kosiah Terancam 10 Tahun Penjara

55
0
EKO SETIYONO/PASUNDAN EKSPRES TERSANGKA: Nenek Kosiah menjalani pemeriksaan di ruang Satreskrim Polres Cimahi, kemarin (12/10).

Ditetapkan jadi Tersangka, Tapi Tetap Membantah

CIMAHI-Polres Cimahi akhirnya menetapkan Kosiah menjadi tersangka dalam kasus kekerasan terhadap anak. Nenek berusia 69 tahun itu sebelumnya diduga telah pencelupan wajah cucu tirinya bernama Rachel Herliani ke dalam wajan berisi minyak goreng panas. Aksi kekerasan terhadap bocah berusia 11 tahun itu dilakukan di rumah nenek Kosiah di di Kampung Cirawa RT 03 RW 05 Desa Celak, Kecamatan Gununghalu, Kabupaten Bandung Barat, akhir September lalu.

Penetapan tersangka dilakukan setelah pihak penyidik melakukan pemeriksaan terhadap nenek Kosiah pada Rabu (11/10) malam. Pemeriksaan hampir berjalan selama seharian di ruang Satreskrim Polres Cimahi. Selain itu pihak penyidik juga telah memeriksa sejumlah saksi yang dianggap mengetahui peristiwa.

Di hadapan penyidik, Kosiah belum mau mengaku jika dirinya sudah menganiaya korban yang merupakan cucu tirinya. Namun demikian pihak kepolisian mengaku telah mempunyai bukti dan keterangan yang cukup untuk menjeratnya sebagai tersangka.
“Tersangka sudah ditahan di Polres Cimahi. Kami telah memeriksa sekitar lima orang saksi. Hasil visum juga sudah diterima. Dari visum tersebut muncul kaitan dengan adanya luka bakar stadium 3 yang mengharuskan korban dioperasi,” ujar Kasat Reskrim Polres, AKP Niko N Putra, kemarin (12/10).

Niko menyatakan, dari keterangan saksi maupun korban, serta saksi setelah kejadian, ditambah melihat hasil pra rekonstruksi, dengan ukuran barang bukti wajan yang kecil, memang sangat tak dimungkinkan kalau kepala korban dimasukkan ke wajan.

Dari keterangan salah satu saksi yang memberikan keterangan kepada polisi, menyebutkan bahwa ia juga mendengar suara teriakan tersangka sesaat setelah kejadian. Kemudian saksi tersebut langsung membantu korban yang wajahnya mengalami luka parah.
“Namun pastinya, dari keterangan yang kita didapatkan, bahwa setelah minyak goreng panas disiramkan ke wajah Rachel, anak tersebut terjatuh dan mengenai wajan tersebut,” tuturnya.
Mengingat usia yang sudah tua, Kosian bisa saja mendapat pengurangan hukuman saat nanti divonis di pengadilan. Asalkan tersangka tidak berbelit-belit memberikan keterangan selama pemeriksaan.

“Tersangka terancam hukuman 10 tahun tahun penjara. Dia dijerat pasal 44 ayat 22 Undang-undang penghapusan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) subsider pasal 80 ayat 2 Jo Pasal 76 ayat C UU 17 tahun 2016,” bebernya.

Niko menyatakan, polisi tidak mengejar pengakuan tersangka, mengingat selama penyelidikan, nenek Kosiah belum mau mengaku telah melakukan penganiayaan.
“Tapi dengan perbuatan si nenek, sudah cukup dia bisa dikenakan status tersangka karena saat itu Kosian sedang dalam kondisi emosi,” lanjutnya.

Sementara itu Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAI) Jawa Barat, Ahmad Saftari mengungkapkan, kasus kekerasan terhadap anak bagai fenomena gunung es. Berdasarkan data Polda Jabar, angka kekerasan tahun 2016 – 2017 naik. Kasusnya pun bermacam macam, termasuk pelaku dan korban ada yg dilakukan sesama anak-anak, juga dewasa terhadap anak-anak.

Ia menambahkan, beberapa daerah di Jawa Barat yang rawan kasus kekerasan terhadap anak diantaranya Bandung Barat, Garut dan Kabupaten Sukabumi.
“Harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah sebagai penyelenggara perlindungan anak. Pertanyannya adalah sudahkah hadir pemerintah daerah dalam melindungi dan pemenuhan hak hak anak,” tuturnya.

Oleh karena itu, menurutnya, perlu ada sinergitas antar lembaga perlindungan anak bersama pemerintah daerah untuk mencegah timbulnya kasus kekerasan pada anak.
“Tentu bukan saja kasus kekerasan saja yang harus menjadi perhatian kita. Exploitasi seksesual anak di bawah umur yang secara terang-terangan, bahkan degan era milenia orang bisa memesan gadis-gadis belia melalui mendos,” ungkapnya.

“Pemerintah daerah tidak turun tangan sendirian. Butuh dukungan dan dorongan dari lembaga-lembaga yang konsen pada perlindungan anak,” lanjut Ahamd.

Oleh karena itu, pemerintah daerah harus memiliki blue print perlindungan anak dan pemenuhan anak.
“Bentuk hadirnya pemerintah daerah pada perlindungan anak, dengan mensinergiskan kelembagaan perlindungan anak dan dukungan anggaran. Karena minimnya koordinasi dan dukungan anggaran ini menjadi problem,” tandasnya.

Mengenai tindakan seorang nenek yang menenggelamkan cucunya pada minyak goreng panas, menurutnya, itu sungguh perbuatan tidak beradab.
“Tidak bisa dibenarkan perbuatan nenek yang mencederai cucunya, karena alasan tidak mau mengikuti perintahnya berujung mencerdrai nilai perlindungan anak,” tegasnya.(eko/din)