Beranda OPINI Momentum Regenerasi Petani dan Pertanian

Momentum Regenerasi Petani dan Pertanian

105
0

Repleksi Peringatan Hari Tani Nasional

Oleh: Ferdi Fathurohman

Sekjen HKTI KabupatenSubang, Sekjen Himpunan Alumni IPB Kabupaten Subang dan Dosen Agroindustri Politeknik Negeri Subang Hari tani sedunia yang diperingati setiap tanggal 24 September kiranya harus mendapatkan perhatian khusus oleh semua insan pertanian.

Presiden Republik Indonesia Pertamaya itu Bung Karno (Ir Soekarno) pada tahun 1960 telah menetapkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Dasar Pokok-pokok Agraria atau lebih dikenal dengan UUPA dan sejak saat itulah setiap tanggal 24 September diperingati sebagai hari Tani Nasional.

Kelahiran UUPA melalui proses panjang, memakan waktu 12 tahun. Dimulai dari pembentukan “Panitia Agraria Yogya” (1948), “Panitia Agraria Jakarta” (1951), “Panitia Soewahjo” (1955), “Panitia Negara Urusan Agraria” (1956),

“RancanganSoenarjo” (1958), “Rancangan Sadjarwo” (1960), akhirnya digodok dan diterima bulat Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR), yang kala itu dipimpin Haji Zainul Arifin. Kelahiran UUPA mengandung dua makna besar bagi kehidupan bangsa dan negara Indonesia. Pertama, UUPA bermakna sebagai upaya mewujudkan amanat Pasal 33 Ayat (3) UUD 1945 (Naskah Asli), yang menyatakan, “Bumi dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai negara dan digunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat”. Kedua, UUPA bermakna sebagai penjungkirbalikan hukum agraria kolonial dan penemuan hukum agraria nasional yang bersendikan realitas susunan kehidupan rakyatnya. (Bey, 2003).

Seyogyanya hari tani nasional harus disikapi oleh hal-hal yang positif untuk kemajuan petani dan pertanian di Indonesia seperti halnya semangat pembahasan RUUPA yang berlangsung alot dan sangat lama, pokok-pokok pikiran dalam penjelasan umum UUPA dinyatakan dengan hekas bahwa UUPA adalah “Meletakkan dasar-dasar bagi penyusunan hukum agraria nasional yang akan merupakan alat untuk membawa kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi negara dan rakyat tani, dalam rangka masyarakat yang adil dan makmur;

Kata-kata “kemakmuran, kebahagian dan keadilanbagi Negara dan rakyat tani” jika disandingkan dengan realita yang ada maka adakalanya sudah tidak sejalan lagi. Banyak persoalan saat ini yang sangat tidak berpihak kepada petani, persoalan yang paling mendasar adalah harga gabah di tingkat petani yang sangat rendah bahkan dibawah harga produksi. Persoalan harga gabah ini sangat membuktikan bahwa kata kemakmuran, kebahagiaan dan keadilan bagi rakyat petani sangatlah jauh, hal ini mempunyai efek atau dampak terusan yang sangat komplek.

Dampak terusan diantaranya petani akan cenderung merasa bahwa pertanian bukan menjadi pekerjaan atau ladang pendapatan yang baik untuk mereka dan jika sudah terstigma seperti itu maka petani yang mempunyai anak, akan cenderung melarang atau tidak merekomendasikan anaknya untuk tidak menjadi petani atau bekerja di sektor pertanian.

Di sisi lain umur rata-rata petani saat ini diatas setengah baya atau diatas 50 tahun dan sangat sedikit sekali orang tua yang petani saat ini yang mengajak anaknya untuk ikut dan bekerja di sawah atau ladangnya. Orang tua petani lebih cenderung menyuruh anaknya untuk bekerja di kantoran maupun di sektor-sektor di luar pertanian. Minat masuk jurusan pertanian cenderung mengalami penurunan dimana jurusan-jurusan pertanian hampir di semua PerguruanTinggi tidak ada yang menjadi pilihan pertama, jurusan pertanian hanya dijadikan pilihan-pilihan cadangan. Tentunya ini yang harus menjadi perhatian kita semua baik dari pemerintah, Petani, Serikat Petani, Swasta dan stake holder lainnya. Jika kondisi ini terus berlangsung akan sangat berbahaya bagi kelangsungan pertanian di Indonesia ini.

Ada berbagai solusi untuk menyikapi permasalahan tersebut dan pemerintah pun sudah banyak mengeluarkan program untuk meningkatkan minat generasi muda untuk mau bertani namun kondisi ini tidak berdampak secara menyeluruh karena tidak menyentuh pada akar dari permasalahannya. Permasalahan pokok dari kurangnya minat generasi muda untuk terjun ke dunia pertanian adalah nilai atau penghasilan yang didapat dari duniapertanian untuk saat ini masih relative kecil dibanding dengan sektor-sektor lain dan sampai kapanpun ketika nilai yang didapat dari sektor pertanian itu masih kecil generasi muda akan cenderung tidak akan turun di dunia pertanian.

Salah satu untuk meningkatkan nilai pertanian adalah adanya proses pengolahan hasil pertanian sehingga produk-produk pertanian mempunyai nilai tambah. Proses pengolahan hasil pertanian merupakan solusi terbaik untuk meningkatkan nilai atau penghasilan dari petani, ketika penghasilan petani meningkan itu akanmenjadi magnet tersendiri bagi generasi muda untuk mau terjun di dunia pertanian.

Hendaknya semua pihak terutama pemerintah saat ini tidak hanya berfokus kepada peningkatan produksi pertanian, namun harus juga berfikir bagaimana hasil-hasil pertanian ini bisa memiliki nilai tambah yang bisa dilakukan oleh petani sendiri. Untuk mencapai kearah tersebut tentunya harus disiapkan SDM yang mumpuni dalam pengolahan hasil pertanian yang nantinya akan menularkan pola pengolahan hasil kepada petani lain. SDM yang mumpuni bisa jug adiciptakan melalui perguruan tinggi yang nantinya lulusan perguruan tinggi tersebut akan menerapkan pola pengolahan hasil pertanian.

Pembangunan pertanian harus secara menyeluruh mulai dari pemangku kebijaka sampai teknis pelaksanaan di lapangan dan harus ada kesinambungan antara kebijakan dan ilmu pengetahuan. Bukan suatu keniscayaan profesi petani akan menjadiprofesi yang diminati oleh generasi muda ketika penghasilan dari sektor pertanian lebih tinggi dari sektor laiinnya. Semuanya ini harus ada kerjasama dari semua pihak.(*)