Beranda FEATURE Inilah Kisah Sopir Oplet Emen, Ternyata Bukan Nama Sebenarnya

Inilah Kisah Sopir Oplet Emen, Ternyata Bukan Nama Sebenarnya

385
0

Namanya Selalu Dikaitkan dengan Kecelakaan Maut di Tanjakan Cicenang, Ciater

Entah mengapa, Kecelakaan di Tanjakan Cicenang, Kampung Cicenang, Desa/Kecamatan Ciater, Kabupaten Subang kerap terjadi. Selalu dikaitkan dengan korban kecelakan atas nama Emen. Hingga tanjakan itu disebut tanjakan Emen. Padahal hampir semua penyebab kecelakaan dipicu oleh kondisi kendaraan yang mengalami rem blong. Siapakah Emen?
EKO SETIONO, Bandung
Tapi, tak sedikit pula yang mengaitkan kecelakaan di jalur tersebut dengan hal mistis. Sebagian orang percaya Tanjakan Emen yang belum lama diganti jadi Tanjakan Aman ditungui sesosok roh bernama Emen.
Lalu siapakah Emen? Dari penelusuran langsung ke keluarga Emen, ternyata Emen bukan nama sebenarnya. Emen adalah sebuah nama panggilan kepada seorang supir oplet jurusan Lembang-Subang yang memiliki nama asli Taing pada tahun 1955.
“Nama asli bapak saya ialah Taing, Emen hanya nama panggilan yang diberikan teman-teman sesama supir oplet lantaran ia kecanduan menonton permainan cemen saat menunggu penumpang di terminal Mandarin Lembang. Sampai sekarang, akhirnya Taing lebih dikenal dengan nama Emen,” terang Adang Edi Kurnaedi (65) anak ke dua Taing di rumahnya Kampung Bewak, RT 1 RW 3 Desa Jayagiri, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, Selasa (13/3).
Meluruskan berbagai versi penyebab kematian bapaknya, Adang mengaku, Taing mengalami kecelakaan saat mengemudikan oplet di tanjakan Cicenang pada bulan September 1956 sekitar jam 10 pagi. Sewaktu mengangkut 12 orang penumpang, tepat di jalanan menurun, rem kendaraannya blong lalu menabrak tebing dan terbalik, hingga opletnya mengalami kebakaran hebat.
“Waktu itu bapak tidak langsung meninggal, tapi di rumah sakit Ranca Badak (sekarang RS Hasan Sadikin Bandung) setelah beberapa minggu dirawat karena mengalami luka bakar parah. Semua penumpangnya tewas di lokasi,” seraya menyebutkan Taing dimakamkan di TPU Sirna Raga, Desa Jayagiri.
Dia menuturkan, Taing juga bukan warga asli Lembang atau Subang. Taing adalah warga Parung Bogor yang lahir sekitar tahun 1927 lalu pindah ke Bandung untuk berdagang kerupuk. Sekian lama tinggal di Bandung, Taing lalu menikah dengan Ruminah, seorang perempuan asal Ciparay Kabupaten Bandung. Setelah banyak gerombolan, Taing beserta istrinya lalu mengungsi ke Lembang.
Pasca kematian Taing, rentetan kecelakaan karena rem blong dan mobil yang melaju tak terkendali mengakibatkan kecelakaan parah dan sering memakan korban jiwa. Sebagai penolak bala, pengguna jalan sering membuang sebatang rokok saat melintas di Tanjakan Emen, melemparkan uang recehan atau sekedar membunyikan klakson dengan harapan tidak diganggu dan selamat sampai tujuan.
Adang menyatakan, sikap pengguna kendaraan tersebut terlewat batas dan tidak masuk akal. Sebab, sebelum meninggal, Taing hanya berpesan ke teman-teman sesama supir oplet agar didoakan surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas, bukan sebatang rokok atau uang.
“Saat bapak meninggal, saya engga ingat apa-apa karena waktu itu baru berumur 3,5 tahun. Tadi menurut ibu saya yang disampaikan teman-teman bapak, Taing hanya minta dibacakan surat Al-Fatihah dan Al-Ikhlas setiap malam Jumat, sebagai ‘hadiah’ buat almarhum kalau melintasi tanjakan tersebut,” jelasnya.
Menanggapi banyaknya kecelakaan di jalur tersebut , Adang dengan tegas bahwa biang penyebab kecelakaan di jalur Cicenang lebih disebabkan kondisi kendaraan dan supir. Diakuinya, selama lebih dari 30 tahun menjadi supir angkutan elf Subang-Bandung, Adang selalu memperhitungkan kendaraan yang dibawanya saat melintasi jalur tanjakan tersebut.
Sebagai perwakilan pihak keluarga, Adang juga meminta masyarakat jangan terus menerus mengaitkan kecelakaan dan penampakan sosok aneh di sekitar tanjakan Aman dengan cerita kematian ayahnya yang gentayangan dan selalu mengganggu pengguna jalan yang melintas.
“Yang penting konsentrasi dan mengetahui kondisi kendaraan, periksa rem-remnya. Selama puluhan tahun, saya dan supir angkutan lainnya tak pernah menemui kendala saat berjalan di turunan dan tanjakan tersebut, aman-aman saja. Jadi kalau ada mitos bahwa Emen minta tumbal, itu tidak benar, kami dari pihak keluarga sangat menentangnya,” kata Adang.
Di penghujung akhir hayatnya, Taing meninggalkan seorang istri dan tiga orang anak. Istrinya, Ruminah masih hidup dan kini sudah berusia 97 tahun. Dia kini tinggal dengan keluarga besar Adang di Desa Jayagiri namun sudah sering sakit-sakitan.(*/man)