Beranda OPINI Menyoal Pemilih Dalam Pilkada Subang

Menyoal Pemilih Dalam Pilkada Subang

73
0

Suhu Pesta demokrasi dalam rangka Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Subang sudah mulai memanas. Genderang pesta sudah terdengar riuh disegala penjuru. Pilkada yang akan diselenggarakan pada tanggal 27 Juni 2018, dengan 3 pasangan Calon yang sudah siap bertarung dalam kompetisi visi dan misi yang akan di sampaikan dalam kampanye untuk mengambil suara rakyat.

Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati yang ikut dalam perhelatan akbar itu diantaranya adalah pasangan Dedi J-Budi Setiadi, Imas Aryumningsih-Sutarno, serta Ruhimat-Agus Masykur. Kompetisi yang dilakukan harus sehat, bersih dari suap (money politic) dan jujur. Calon Bupati dan Wakil Bupati ini akan berlaga dan bertarung “habis-habisan” dalam memenangkan hati rakyat.

Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Subang secara resmi menetapkan jumlah pemilih pada Pilkada Serentak tahun 2018 ialah sebanyak 1.110.185 pemilih. Hal tersebut disampaikan dalam Rapat Pleno Terbuka Rekapitulasi Daftar pemilih Sementara Hasil Perbaikan (DPSHP) dan Daftar Pemilih tetap (DPT) untuk Pemilihan Gubernur dan Pemilihan Bupati Tahun 2018 di Hotel Grant Subang, Kamis (19/4/2018).

Jumlah pemilih tersebut terdiri dari 547.239 pemilih laki-laki dan 562.946 pemilih perempuan yang tersebar di 2.852 TPS di 253 desa/kelurahan,” kata Komisioner Divisi Data KPU Kabupaten Subang Suryaman.

Yang menjadi sasaran dalam pemilih ini adalah pemilih pemula yang belum pernah memberikan hak suara pada pilkada sebelumnya. Dalam hal ini adalah penduduk yang usianya telah 17 tahun pada saat pilkada 27 Juni 2018 Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Subang, jumlah pemilih yang berusia 15-19 tahun pada tahun 2016 adalah 122.035 jiwa.

Artinya bahwa sekitar 10.99 % dari jumlah seluruh pemilih. Angka yang cukup banyak untuk menyumbangkan hak suaranya nanti. Akan tetapi yang menjadi permasalahan adalah kurangnya tingkat kesadaran para pemilih pemula dalam menentukan hak suaranya dikarenakan ikut-ikutan, atau tidak adanya kesadaran bahwa suara yang mereka berikan menentukan masa depan Kabupaten Subang.

Selain itu sasaran lainnya adalah pemilih yang sudah pernah memilih atau penduduk yang berusia 18 tahun ke atas. Yang menjadi permasalahan lainnya adalah tingkat pendidikan yang masih kurang.

Menurut data yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, pada tahun 2017 ada 13,38% penduduk Subang yang tidak mengenyam pendidikan, 36,85% yang berijazah SD/MI, 24.34% berijazah SMP/MTs, 20.43% berijazah SMA/SMK, 0.20% berijazah Diploma I/II, 0.65% berijazah Akademik/Diploma II, 4.14% berijazah Diploma IV sampai dengan S3. Sedangkan rata-rata lama sekolah (RLS) tahun 2017 hanya sekitar 6,83.

Artinya bahwa jenjang pendidikan masyarakat Subang masih di dominasi oleh Sekolah Dasar/ Sederajat. Sehingga pengetahuan yang dimiliki masih kurang. Tugas dari pemerintahlah yang harus mampu mensosialisasikan kepada seluruh lapisan masyarakat bahwa hak suara yang diberikan akan menentukan kabupaten Subang 5 tahun yang akan datang.

Pemilih cerdas akan menentukan pemimpin yang berkualitas. Para calon Bupati dan Wakil Bupati akan menyampaikan visi dan misi serta target kinerja pada masa periode pemerintahannya. Oleh karena itu sebagai pemilih yang berkompeten harus bisa mennetukan visi dan misi yang cocok diterapkan di kabupaten Subang.

Pemimpin yang bersih dari suap, kinerja yang bagus dengan memberikan pelayanan maksimal dan transparan serta dekat dengan rakyat yang akan menjadi pilihan terbaik rakyat Subang.

Maju mundurnya Subang ditentukan oleh pemimpin yang akan dipilih pada pilkada 27 Juni 2018 mendatang. Tugas pemerintah dan masyarakat dalam menentukan iklim demokrasi yang kondusif sehingga pesta demokrasi ini akan berlangsung jujur, adil, aman, tertib, dan transparan.

(Oleh: Nita Meiliana Sulastri)
(Statistisi Pelaksana Lanjutan di BPS Kabupaten Subang)