Beranda HEADLINE Mengenal Lebih Dekat Walikota Bandung Ridwan Kamil

Mengenal Lebih Dekat Walikota Bandung Ridwan Kamil

165
0

Cucu Kyai Yang Mendunia, Berani Keluar dari Zona Nyaman
SOSOK Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menjadi salah satu tokoh yang sangat familiar di kalangan warganya. Bukan hanya karena eksistensinya berinteraksi dengan warganya di media sosial, tapi juga karena prestasinya yang seabrek selama hampir 4 tahun memimpin kota bejuluk Paris van Java.

Lewat tangan dinginnnya, tidak kurang dari 225 penghargaan diraih Kota Bandung dari dalam maupun luar negeri. Ditambah sejumlah program unggulannya yang mendapat apresiasi bukan saja dari lembaga, tapi yang lebih penting membawa perubahan dan mengakselerasi kemajuan di berbagai bidang.
Mochamad Ridwan Kamil yang akrab dipanggil Kang Emil lahir di Bandung, 4 Oktober 1971. Kang Emil merupakan anak kedua dari lima bersaudara dari pasangan Dr Atje Misbach Muhjiddin, SH (Alm) yang berasal dari Sumedang dan Dra Tjutju Sukaesih berasal dari Ciamis.

Ayahnya adalah guru besar Fakultas Hukum Unpad sementara ibunya dosen Farmasi Unisba dan Staff Ahli LLPOM MUI Jabar. Sementara sang kakek, KH. Muhyiddin adalah seorang pemimpin Hisbullah pada perang kemerdekaan. Muhyiddin tercatat sebagai pendiri delapan pesantren yang tersebar di Jawa Barat dan diusulkan menjadi Pahlawan Nasional.

Berlatar belakang keluarga akademisi yang juga kental dengan darah santri, membuat kehidupan masa kecil Kang Emil sangat akrab dengan dunia pendidikan.

Usai menamatkan sekolah negeri di Bandung, dia melanjutkan perkuliahan di arsitektur ITB hingga meraih gelar Master Urban Design di University of California, Amerika.

Setelah dirasa cukup merantau mencari ilmu di luar negeri dan bekerja di firma arsitek di Amerika dan Hongkong, dia pun memutuskan pulang ke Bandung dan mendirikan Urbane bersama teman-temannya sambil mengajar di ITB. Bersama Urbane, karya arsitekturnya tersebar di berbagai belahan dunia. Tak sedikit penghargaan yang telah diterima, di level nasional dan internasional. Desain Museum Tsunami di Nangroe Aceh Darussalam pun dipersembahkan sebagai sebuah monumen untuk mengenang para korban.

Sebagai seseorang yang lahir dan bertumbuh di Bandung, Ridwan Kamil pun turut aktif bersama berbagai komunitas. Kecintaannya pada Bandung membuat dia berani keluar dari zona nyamannya sebagai arsitek dan akademisi.

Dia ingin masuk ke dunia birokrasi. Berangkat dari angka elektabilitas sebesar 6 persen, dengan restu keluarga tercinta, dukungan dari teman sejawat, rekan komunitas, dan para warga yang menaruh harapan padanya, di 2013 dia memenangkan Pilkada Kota Bandung dengan perolehan suara 45,24 persen. Kisah setelahnya kini sedang dipahat menjadi sejarah.
Sosok Kakek sebagai Inspirator
Dalam mengemban tugas memimpin Kota Bandung yang dikenal sangat visioner, Kang Emil sangat terinspirasi oleh nilai ketauladanan yang diwariskan sang kakek, yang mewariskan delapan pesantren di Jawa Barat (Subang, Purwakarta dan Sumedang).

Dia berharap ketauladanan KH. Muhyiddin bisa menjadi inspirasi bagi keturunannya. Dia pun percaya, manusia akan jauh lebih bermanfaat ketika dia berkarya semasa hidupnya. ”Saya menjadi saksi betapa kebaikan ilmu dan silaturahmi akan membawa kita pada kebaikan-kebaikan lain yang tak terhingga,” ungkapnya di satu kesempatan.

Dia berkeyakinan, saat manusia menebar kebaikan, jejak kebaikan itu akan dipanen tidak hanya semasa hidup tetapi juga ketika sudah meninggal. ”Kalau manusia punya karya, maka hidupnya bermanfaat, meninggalnya pun akan diingat. Semoga itu tidak akan pernah putus menyemangati kita untuk lebih meneladani Mama Aki,” ujar suami dari Atalia Prarayta Ridwan Kamil dan ayah dari dua anak, yaitu Emmeril Kahn Mumtaz dan Cammelia Laetittia Azzahra.

Keberhasilan yang dicapai saat ini pun, diyakini Kang Emil tak lepas dari peran sang ayah. Salah satu karya besarnya yaitu Masjid Al Irsyad di Kota Baru Parahyangan, Padalarang, dia dedikasikan sebagai bentuk penghormatan kepada almarhum sang ayah. Demikian pula sosok sang ibu, yang senantiasa memberinya pusaka-pusaka nasehat berharga dan merupakan pintu menuju surga.

Itu pula sebabnya, dalam masa kepemimpinannya, dia tidak hanya melakukan percepatan pembangunan secara fisik, tetapi juga nonfisik. Salah satunya melalui program Bandung Agamis. Di antaranya magrib mengaji, subuh berjamaah di masjid-masjid Kota Bandung.
Selaku kepala daerah, dia pun ingin mewujudkan cita-cita yang diwariskan oleh KH. Muhyiddin, atau yang biasa dipanggil Mama Pagelaran. Salah satu keinginannya adalah mendirikan Pesantren Pagelaran di Kota Bandung. Selaku mantan Ketua LKP3, dia berharap suatu saat akan ada pesantren warisan Mama Pagelaran di kota Bandung.

”Masih banyak lahan yang bisa dimanfaatkan di Kota Bandung. Sebagai wali kota, saya telah memfasilitasi berbagai organisasi masyarakat maupun organisasi keagamaan. Kalau pengelolaannya positif akan disambut dengan senang,” tuturnya.

Pesantren Pagelaran merupakan lembaga pendidikan keagamaan yang pertama kali didirikan di Kabupaten Subang oleh Mama Pagelaran sekitar tahun 1880. Sejalan dengan dinamika sosial politik saat itu, Pesantren Pagelaran juga didirikan di Sumedang dan kota lainnya.

Pesantren ini memiliki kontribusi yang besar dalam pergerakan merebut kemerdekaan Indonesia. Pesantren Pagelaran di Subang pernah dijadikan basis pergerakan Hizbullah oleh Mama Pagelaran. ”Nilai-nilai perjuangan itu yang perlu kita teladani, bahwa pesantren ini harus bermanfaat bagi bangsa dan negara ini. (hen/rie/din)