Beranda FEATURE Melihat Aktivitas Santri Ponpes Miftahul Huda di Rumah Perlindungan Milik Dinas Sosial...

Melihat Aktivitas Santri Ponpes Miftahul Huda di Rumah Perlindungan Milik Dinas Sosial Kabupaten Subang

514
0
YUSUP SUPARMAN/PASUNDAN EKSPRES MENGUNGSI SEMENTARA: Sejumlah santri Ponpes Miftahul Huda Ciasem menempati Rumah Perlindungan milik Dinas Sosial Kabupaten Subang.

Berpendidikan Nonformal, Banyak yang Hafal Alquran

Peristiwa Senin (25/12) malam, mungkin tak akan terlupakan dalam hidup para santri Pondok Pesantren Mitahul Huda Ciasem. Akibat kejadian tersebut, mereka ‘terusir’ dari ponpes yang sudah lama menjadi tempat bernaung mereka. Kini, puluhan santri tersebut terpaksa harus tinggal sementara di Rumah Perlidungan milik Dinas Sosial Kabupaten Subang.

YUSUP SUPARMAN, Subang

Selembar kertas berisikan catatan permainan anak-anak itu diterima petugas dari seorang pengungsi yang menempati Rumah Perlindungan Sosial Dinas Sosial Kabupaten Subang, kemarin (27/12).

Segeralah permintaan itu dipenuhi dengan tujuan agar anak-anak di sana tetap ceria. Wajar saja di tempat ‘pengungsian’ itu banyak anak-anak. Tercatat ada 20 anak-anak, dari usia 1 hingga 14 tahun. Laki-laki paling banyak 17 orang.

Mereka merupakan para santri Pondok Pesantren Miftahul Huda berserta keluarganya yang terusir karena mendapat penolakan dari warga setempat.

Pantauan Pasundan Ekspres kemarin, terlihat anak-anak para santri sedang asik bermain. Ada yang berlari ke sana kemari, ada juga yang tak jauh-jauh dari orang tuanya.
“Kami berikan mainan supaya mereka terhibur,” kata Kasi Bantuan Sosial Korban Bencana Dinas Sosial Kabupaten Subang, Saeful Arifin.

Meskipun terlihat sebagian anak kecil ada yang asyik bermain, tanpa dia mengerti mengapa berada di tempat itu. Ada juga anak kecil yang terlihat tak seasyik rekan-rekannya.
Siapa sangka meski tergolong anak-anak, mereka sudah bisa menghafal sejumlah ayat Alquran. Wajar saja, mereka tinggal di lingkungan pondok pesantren.

Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Subang, Jaka Arizona berusaha menghibur mereka. Lantas ia pun meminta seorang anak kecil membacakan ayat Alquran.
KPAD Subang memandang perlu adanya psikolog yang dapat membantu menghibur anak-anak supaya tidak trauma. Biar bagaimana pun anak-anak tetap mesti diperhatikan. ‘Yang harus diperhatikan yaitu kesehatan dan juga psikologinya,” ungkapnya.

Tak hanya itu, masa depan anak juga perlu diperhatikan. Jaka menyebut, anak-anak para santri banyak yang tidak mengenyam pendidikan formal. Secara pendidikan agama, ia mengapresiasi.
“Banyak yang tidak mengenyam pendidikan formal. Yang mestinya usia sekolah, ini kan menjadi ‘PR’,” ujarnya.

Tak hanya anak-anak, Dinas Sosial memastikan pelayanan diberikan semaksimal mungkin kepada seluruh pengungsi. Kebutuhan dasar yang dipenuhi seperti makanan, pakaian pun kesehatan wajib ada.

Sementara mobil dapur umum disiapkan khusus untuk menyiapkan makanan bagi pengungsi. Urusan perut memang tak boleh tidak diperhatikan. Itulah mengapa di saat jam-jam makan tiba, para petugas sibuk memasak.
Masak selesai, barulah makanan diantarkan oleh petugas ke ruang pengungsi. Biar mereka mengambil sendiri makanan yang disajikan di pojok ruangan.
Petugas kesehatan pun nampak terlihat sebanyak dua orang. Termasuk petugas keamanan yang berjaga-jaga di sekitar kantor Dinas Sosial.

Kasi Bantuan Sosial Korban Bencana Dinas Sosial Kabupaten Subang, Saeful Arifin mengatakan, saat ini stok sembako masih aman. Pihaknya juga sedang mengupayakan mengajukan ke provinsi untuk pemenuhan kebutuhan sembako. Mengingat belum dipastikan sampai kapan pengungsi tetap berada di Dinas Sosial.
Dia mengatakan, para santri Ponpes Mitfahul Huda merupakan pengungsi dengan jumlah paling banyak yang menghuni Rumah Perlindungan Sosial Dinas Sosial selama tahun ini. Meski begitu tak membuat kaget Dinas Sosial, pelayanan dipastikan maksimal.(*/din)