Beranda BANDUNG Masalah Infrastruktur Belum Terselesaikan

Masalah Infrastruktur Belum Terselesaikan

27
0
EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES PROTES: Seorang warga sedang memancing di kubangan jalan yang rusak, sebagai bentuk kekesalan terhadap pemerintah.

BANDUNG BARAT– Buruknya pembangunan infrastruktur masih menjadi masalah klasik yang belum terselesaikan. Selain kualitas aspal jalan yang buruk, sistem drainase yang sudah tak sesuai fungsinya menjadi sumber masalah.

Salahs satunya adalah jalan di Legok Jengkol, Desa Cilangari Gunung Halu Kabupaten Bandung Barat, dikeluhkan oleh sebagian warga.

Roby salah seorang warga setempat mengatakan, jalan yang baru diaspal setengah tahun yang lalu kini mengalami kerusakan parah. Terlebih jika hujan tiba, genangan air hujan memenuhi jalan bak ‘balong’.

Meskipun sebelumnya sempat bagus, dikarenakan aspal sangat tipis sehingga jalan kembali rusak.” Diaspalnya baru setengah tahun lebih. Tapi jalannya cepat hancur. Aspal atau hotmiknya terlalu tipis jadi sekarang udah berlubang lagi sama seperti dulu,”ujar Roby saat dihubungi Pasundan Ekspres.

Saat ini, menurut Roby, warga masih menunggu pemerintah untuk segera memperbaiki jalan tersebut. Pasalnya jalan tersebut merupakan akses utama warga dalam beraktifitas.

“Saya berharap agar segera di perbaiki karena jalan ini sudah seperti kolam ikan dan juga sangat berbahaya bagi pengguna akses jalan karena berlubang. Bisa menyebabkan kecelakan,”sambungnya.

Hal serupa juga terjadi di Kecamatan Lembang. Berdasarkan pantauan, jika hujan turun, genangan air sampai setinggi 5-15 cm. Hal tersebut disebabkan buruknya tata kelola infrastruktur pembangunan jalan. Karena tidak diimbangi dengan perbaikan drainase disepanjang jalan baik di ruas jalan desa, ruas jalan kabupaten maupun pada ruas jalan provinsi.

Selain itu, resapan air di kecamatan Lembang telah banyak yang beralih fungsi menjadi hunian atau objek wisata. Sehingga pepohonan yang diharapkan memiliki fungsi hidrologis kini sudah sangat jarang.

Agus Sujana, warga Lembang mengatakan, dulu semua air limpahan air hujan dari gunung yang turun ke kota Lembang, semuanya mengalir melalui saluran air atau drainase yang besar.

Tapi, saat ini, kata dia, saluran air sangat kecil bahkan bisa dikatakan tidak ada karena tertutup sampah, dampaknya air akan meluap ke jalan.

“Semuanya tersendat, drinase tersendat sampah. Penampungan air tidak ada karena sudah alih fungsi jadi objek wisata. Akhirnya air meluap ke jalan dan menjadi genangan. Lembang saat ini selalu banjir. Meskipun tidak besar banjirnya, tapi ini harus jadi perhatian,” sambungnya. (eko/tra)