Beranda KARAWANG Manon Borie, Perempuan Asal Perancis Tak Takut Teror

Manon Borie, Perempuan Asal Perancis Tak Takut Teror

51
0

Diterima Baik, Tak Pernah Merasa jadi Minoritas

BANDUNG BARAT– Keberagaman budaya dan agama di Indonesia menarik perhatian bagi warga asing, rentetan ledakan bom yang terjadi di Surabaya dan Sidoarjo Jawa Timur tidak membuat khawatir. Dengan sikap toleransi yang kuat, justru membuat warga asing ini nyaman dan tidak takut dengan kondisi keamanan di Indonesia.

Itulah yang kini tengah dirasakan Manon Borie, perempuan 27 tahun asal Montpellier Perancis yang sekarang menetap di Kampung Batuloceng, Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat. Tinggal di negara dengan populasi umat muslim terbesar di dunia, Manon tidak merasakan hidup sebagai minoritas serta diperlakukan tidak adil oleh warga setempat.

“Orang sini ramah-ramah, meski saya bukan muslim dan kebudayaan antara orang Indonesia dan Perancis sangat jauh berbeda, saya bisa diterima dengan baik sebagai pendatang di kampung ini,” kata Manon, Rabu (15/5).

Dia pun berpendapat, aksi teror yang terjadi di Indonesia bukan dilakukan oleh orang-orang muslim, karena dia sudah merasakan jika umat beragama di tanah air sangat menjunjung toleransi, agama Islam hanya dijadikan alat oleh pelaku terorisme untuk memecah belah perdamaian.

“Pada mulanya, saya merasa teroris adalah kegiatan umat muslim, yang melakukan orang muslim. Tapi sekarang, saya alami langsung gimana hidup di tengah-tengah orang muslim, ternyata di sini, toleransi antar umat beragamanya tinggi, orang-orangnya bisa menerima perbedaan,” ungkapnya.

Selama tinggal di Batulonceng, Manon melakukan berbagai aktivitas bersama warga sekitar seperti berkebun, mengajarkan bahasa Inggris kepada anak-anak setempat, bantu warga memanen palawija dan kopi serta melakukan berbagai aktivitas lainnya. Bahkan tanpa paksaan, Manon memutuskan akan mencoba ikut berpuasa bersama masyarakat sekitar.

“Di sini, saya tinggal dengan keluarga yang menerima saya dengan baik dan diperlakukan seperti warga biasa. Meski saya datang dari Perancis dengan perbedaan agama dan budaya, masyarakat sangat menjunjung perbedaan itu. Toleransi antar umat beragama di sini sangat bagus,” terangnya.

Menurut dia, perbedaan agama dan ras seharusnya membuat satu sama lain semakin rukun dan menjunjung tinggi toleransi, jangan sampai terjadi perseteruan yang mengatasnamakan perbedaan. Sebab, keberagaman budaya dan agama merupakan salah satu kekayaan dan kebanggaan yang harus terus dijaga, dan hal itu yang kini dimiliki bangsa Indonesia.

“Saya banyak bercerita tentang kebudayaan dan agama di Perancis, dan warga juga banyak cerita tentang apa yang ada di sini. Ternyata, keramahan orang Indonesia membuat saya heran, warganya ramah-ramah dan selalu ingin menyapa saya,” bebernya.

Dia mengaku, ada perbedaan antara pemeluk agama Islam di Perancis dengan di Indonesia. Jika di Perancis, umat Islam jarang melakukan aktivitas keagamaannya, terutama anak mudanya, namun di Indonesia, masyarakatnya lekat dengan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti shalat, puasa dan mengaji.

Walau hidup di tengah perbedaan keyakinan, Manon tetap dihargai dan warga mayoritas tidak merasa terganggu sehingga mereka dapat menjalankan keyakinan agamanya dengan baik.

“Saya bukan muslim, dan saya juga tak begitu taat melakukan aktifitas keagamaan, tapi masyarakat bisa menghargai dan tidak menuduh saya sebagai orang tidak baik. Kami sama-sama saling menghargai, mereka bisa menghormati serta menerima perbedaan agama dan budaya yang saya miliki,” jelasnya.

Manon adalah salah satu relawan yang ikut dalam Gerakan Kerelawanan Internasional (Great). Setiap tahun organisasi nonpemerintah ini mengirim warga negara asing yang ingin belajar tentang kehidupan warga desa, khususnya di Kampung Batuloceng. Manon tinggal di Indonesia selama dua bulan sejak 13 April -13 Juni 2018. (*/tra)