Beranda CATATAN KONDISI SULIT, LEBIH PRODUKTIF!

KONDISI SULIT, LEBIH PRODUKTIF!

213
0

Direktur HU Pasundan Ekspres

ATMOSFER politik tanah air di tahun 2018 hingga kontestasi Pemilihan Umum (Pemilu) Legislatif dan Presiden 2019 terasa memanas. Kita pun kini berada di tengah himpitan derasnya informasi global digital. Lahirlah media sosial (medsos). Medsos pun bisa positif dan temen tambah banyak, bisa jadi malah hoax kian marak. Di tahun politik pemilik akun pun banyak yang anoname alias gak jelas bahkan palsu. Jangan salahkan medsosnya, tapi bijaklah kita sebagai pengguna. Sebab jika tidak akan salah kaprah dan buat resah.

Dirasakan bersama bahwa pertumbuhan ekonomi negara kita saat ini masih melambat. Ekonomi Indonesia hingga akhir tahun 2017 hanya bertumbuh 5%, nilai rupiah terhadap US dollar tak kunjung menguat, dan utang pemerintah tembus di atas Rp4.000 triliun. Pemerintah berkeyakinan utang itu masih sanggup dibayar.

Langkah berutang dilakukan pemerintah beralasan sebagai alat atau salah satu instrumen mendongkrak pertumbuhan perekonomian Indonesia. Namun kondisi saat ini diakui tidak menggairahkan, tak terkecuali untuk media massa konvensional. Tetaplah produktif sekalipun kondisi dan situasi saat ini sedang sulit. Melambatnya perekonomian saat ini secara umum dipengaruhi juga akibat konstalasi guncangan ekonomi dunia. Ya dunia katanya lagi kejepit.

Pun kondisinya demikian, alhamdulillah tidak terasa sudah 10 tahun, Harian Umum Pasundan Ekspres tetap eksis di hadapan publik yang majemuk. Kehadiran kami selama ini tentu cukup kenyang makan asam garam pengalaman. Usia satu dasawarsa ini juga keniscayaan anugerah Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa kepada kami yang patut disyukuri dengan terus berbuat sesuatu yang prestatif untuk terus bertumbuh positif. Cara membuktikannya dengan berkinerja.

Guru kami Bapak Dahlan Iskan selalu mengingatkan, kinerja yang baik hanya bisa diraih oleh tim yang serius dan fokus. Bukan oleh tim yang hanya membuatnya sebagai pekerjaan sampingan. Kita harus canangkan “Kinerja, Kinerja, Kinerja!” Biarlah orang lain sukses, kenapa kita tidak bisa sukses? Spirit ini kami yakini mampu melewati era atau kondisi apapun.

Dewasa ini, kehadiran sebuah media massa, khususnya media cetak selain menjadi media informasi tentu keberadaannya musti dirasakan masyarakat. Bukan sekadar menyuguhkan berita terkini, aktual, berimbang dan terpercaya, namun dituntut juga menjadi dinamisator. Masyarakat diajak kepada yang lebih cerdas, bertumbuh dan bertambah wawasannya, dan bergembira dalam menjalankan pergerakan pembangunan, pendidikan, kesehatan, sosial, politik dan perekonomiannya. Koran ini harus juga membantu mempromosikan usaha perekonomian masyarakat di wilayah edar khususnya Subang, Purwakarta, Karawang dan Bandung. Menjadi bagian kontrol dan ikut serta menyukseskan pembangunan daerah hingga pemerintahan desa juga harus kita lakukan. Bersinergi dengan pemerintahan dan beragam lapisan masyarakat, bekerjasama dalam pengembangan usaha yang saling menguntungkan.

Mempublikasikan produk unggulan atau mereka yang baru merintis usaha ekonominya adalah satu di antara peran koran paling mudah. Belum lama ini, Kamis (8/3), pemerintah pusat meluncurkan program pengembangan Produk Unggulan Kawasan Pedesaan (Prukades) dengan lebih dari 100 kepala daerah dan 68 perusahaan swasta telah meneken perjanjian kerjasama.

Sejumlah 200 lebih kerjasama yang ditandatangani senilai Rp47 triliun. Apakah di wilayah kita ada kepala daerah yang termasuk dalam kerjasama itu? Kita cari tahu. Kita sukseskan program itu dan jadilah mitranya.

Tugas pemerintah selain mengedukasi dan mengkanal kemajuan bisnis rakyatnya tentu harus didukung dengan marketing dan promosi yang efektif. Ya, program itu bisa bersinergi dengan koran. Promosi lewat koran memiliki multiplier efek, juga akan membentuk networking bisnis pelaku usaha. Besar harapan ekonomi rakyat bertumbuh baik tentu berdampak pada kemampuan mengembangkan usahanya, bisa menambah peluang tenaga kerja domestik, meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, dll. Jika sektor usaha bergairah efek pemberitaan, di situlah koran telah hadir. Feedback-nya, dengan komunikasi yang baik mereka pun tidak akan ragu mempromosikan berupa iklan atau advetorial usahanya di koran ini. Soal regulasi, pembinaan, permodalan, dan seterusnya biarlah pemerintah atau dinas terkait yang melakukannya.

Publikasikan potensi wilayah baik sektor ekonomi, seni budaya dan pariwisata agar bisa menarik investor berinvestasi dan seterusnya. Menyampaikan rencana dan progress pembangunan pemerintah agar rakyat tahu kinerja pemerintah seperti apa. Kami akan tetap kritis terhadap kebijakan pemerintahan yang berpotensi akan atau merugikan masyarakat.

*ABAIKAN HOAX

Tak bisa dipungkiri koran adalah bisnis, tetapi publik tetap menjadi domain kami berpihak. Pasundan Ekspres berusaha keras menjadi media yang representatif untuk semua kalangan, terpercaya publik di tengah maraknya hoax. Menjadi mafhum, hoax belakangan ini –meresahkan masyarakat dan kehidupan bernegara, mengadu domba, menyerang membabi buta atau pun fitnah–, isu negatif, dan ujaran kebencian, isu SARA jangan lagi dilakukan. Kehadiran hoax di atas tentu mencederai kebebasan berbicara atau berpendapat di alam demokrasi.

Jenis hoax tersebut menjadi domain Kepolisian Negara Republik Indonesia melalui desk Sibernya bekerja menanganinya. Masyarakat dan negara pun wajib hadir agar hoax semacam tadi tidak menjadi budaya di tengah derasnya media informasi digital saat ini. Apalagi di tahun politik, sekecil apapun diksi atau isu bisa digoreng, diplintir sedemikian rupa bahkan menjadi hoax. Telur aja bisa jadi hoax, hehehe. Perilaku hoax ini jangan sampai mengakar ke grass root. Hoax lebih menyasar masyarakat kita yang kurang cerdas, polos dan baru melek medsos karena kurangnya literasi.

Nilai kemanusiaan kita bisa terancam akibat hoax, apalagi kita baru saja gagap dengan situasi era digital. Belum lagi nanti era robotic!
Situasi ini tidak hanya terjadi di Indonesia, tapi melanda juga di negara lain. Inilah dampak negatif era digital selain banyak juga sisi positifnya. Cegah, tangkal dan antisipasi hoax dari sekarang. Hantam, bungkam, tenggelamkan dan stop hoax. Bacalah koran atau media sosial yang kredibel dan beintegritas, abaikan saja hoax! Jangan coba share kalau tidak cukup literasi.

*KORAN PASAR AFFLUENT

Makin maraknya hoax justru menguntungkan media cetak. Pasundan Ekspres sebagai media massa cetak di daerah bisa ambil bagian dalam mencegah hoax dengan terus berkomitmen secara konsisten mengacu kepada standar keredaksian yang diatur dalam UU Pers Indonesia.

Dewan Pers merilis, telah lahir sejumlah 43.300 media online, namun hanya 00,4% yang profesional. Belum lagi hadirnya radio, dan televisi. Tentu ini adalah tantangan koran di tengah himpitan derasnya informasi media di era digital. Pun keadaanya demikian jangan kuatir, penulis berkeyakinan dan optimis bahwa media konvensional seperti koran tetap masih mendapat tempat yang baik dan proporsional. Media massa konvensional koran tetap memiliki pasar yang affluent. Segmen pasar yang masih bagus walau tidak mayoritas, tapi menentukan. Koran akan tetap hidup.

Trust publik terhadap koran masih jauh lebih besar walau akses informasi digital 80% lebih banyak digunakan saat ini. Karena media cetak lebih bisa dijadikan referensi utama, selain analisisnya lebih detail ketimbang media lainnya.

Pasundan Ekspres harus menjadi media kontrol yang berimbang dan konstruktif adalah bagian visi dan misi kami sejak awal didirikan, selain mendedikasikan diri sebagai pers yang bertanggungjawab dan profesional. Sebab medsos secara umum yang kita jumpai akhir-akhir ini tidak memiliki pakem keredaksian yang baik, apalagi bertanggungjawab. Pegiat medsos harus menjaga stabilitas bangsa dan negara, jangan membuat disintegrasi. Beda pendapat adalah hal wajar dan dilindungi UUD ’45, namun harus dengan etika dan keadaban. Perbedaan itu jangan mengoyak persatuan dan kesatuan bangsa. Jangan memfitnah, menghujat dan membuat runcing keadaan tatanan kebangsaan kita. Junjung tinggi etika ketimuran. Bijaklah dalam bermedsos. Jika itu ditabrak, ingat ada UU Informasi Tekhnologi Elektronik (ITE). Berlakunya UU MD3 tahun 2018–yang dinilai beberapa pasalnya kontroversial dan tidak ditandatangani Presiden RI Joko Widodo- mengharuskan kita selektif mengkritisi lembaga legislatif.

Tak terelakan, di musim politik ini tidak sedikit media yang menjadi alat golongan tertentu untuk tujuannya. Dari kasus tonase narkotika yang terkuak, kasus korupsi yang menyeret sejumlah pejabat, ribut “pengibulan” sertifikat hingga novel fiksi kini menjadi konsumsi publik yang memikat. Wow!
Ayo bangun politik demokrasi kita yang sehat, berbudi dan bermartabat. Mari saling menguatkan untuk mewujudkan tatanan kebangsaan sebagai negara berdaulat yang tujuan akhirnya memakmurkan dan mensejahterakan yang berkeadilan sosial berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dirasakan rakyat. Mencapai tujuan politik lewat media, diakui sangat efektif guna mempengaruhi opini publik. Terutama menyampaikan visi misi atau program kepada khalayak. Namun media yang seperti apa? Ya, pastinya media yang profesional dan bertanggungjawab.

JANGAN ELITIS

Lagi-lagi kami menegaskan “bad news is good news” bukan zamannya. Kita harus menitikberatkan kepada “good news is good news”! Sebagai koran daerah kita jangan elitis. Munculkan peran-peran sosial tokoh masyarakat lokal. Kembali ke akar rumput sebagai koran daerah.

Hindari pemberitaan yang tidak memenuhi unsur 5W + 1H, menyerang tanpa data, tanpa nara sumber yang jelas. Jika itu tidak dilakukan akan mendapatkan justifikasi publik sebagai media massa yang tidak profesional, koran abal-abal dan sederatan julukan miring lainnya. Yang pada akhirnya publik akan mencampakkannya.

Kegiatan jurnalistik tidak sesuai kode etik, masyarakat sudah cerdas dan paham akan melakukan perlawanan. Bisa dengan menggunakan hak jawab, somasi, mengadukan ke Dewan Pers bahkan gugatan sebagai pihak yang dirugikan. Semua sudah diatur dalam UU Pers No 40 Tahun 1999. Para pelaku media massa dan sebagai insan pers, kita harus menekankan pada empat (4) hal, yakni penegakkan kode etik jurnalistik pada setiap kegiatan jurnalistik, kepatuhan pada standar perusahaan pers, standar perlindungan wartawan dan standar kompetensi insan pers itu sendiri. Untuk apa? Tentu agar menjadi bagian pers Indonesia yang bertanggungjawab dan profesional.

Menapaki tahun mendatang, pasti dan ada saja yang pihak luar yang nyinyir, menyangsikan kita, bahkan ada yang berupaya membuat manajemen konflik, atau apalah yang membuat kita risau. Kalau pun ada yang demikian ya maafkan, lupakan dan maklumi (MLM) saja. Jangan fokus pada hal tersebut, jadikan itu semua sebagai koreksi dan lebih bersemangat menggapai tujuan ke depan. Tidak ada waktu lagi untuk menyalahkan siapapun atau mencari siapa yang akan disalahkan. Kitalah yang lebih tahu masalahnya, dan kitalah yang terbaik mencari jalan keluarnya bersama semua tim. Tidak ada yang superior di sini, tidak ada yang paling hebat. Tanamkan kerja keras tumbuh bersama dalam kebersamaan dalam suka dan duka harus menjadi pondasi bersama.

Di tahun politik 2018 ini pula, kita tetap optimis bahwa 171 pilkada serentak 27 Juni 2018 akan melahirkan kepala daerah yang amanah, jujur, demokratis, tidak korupsi, dan merealisasikan janjinya kepada rakyat.

Mengakhiri tulisan ini, biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Gak penting mengaku hebat telah melewati masa 10 tahun, sebab bagi kami akan terus eksis karena kami sudah terlatih. Kami terlatih dalam kondisi apa pun! Tetap focus on result!

In sha Allah, pada tahun “Anjing Tanah” ini masih banyak berkah dan rejeki Allah Maha Kaya dan Maha Mengayakan disiapkan bagi mereka yang bersungguh-sungguh mencari fadilah rejeki-Nya. Peluang itu masih terbentang luas. Tugas kita berkinerja sekuat tenaga dengan berbagai cara yang positif dan tidak melawan hukum. Lompatan pencapaiannya mau seperti apa? Tentu, tergantung sekuat dan sekeras apa kita melakukannya! Man jadda wajada! Semakin bijak dan cerdaslah kita semua dalam situasi dan keadaan apa pun. Pada situasi politik yang sengit, ekonomi yang sulit, bahkan hoax yang menghimpit jangan berpikir sempit, tetap yakin dan harus menjadi cambuk agar lebih produktif! Tingkatkan intensitas silaturahim dengan banyak pihak dan tetap jaga tim yang kompak. Selamat Hari Jadi 10 tahun Pasundan Ekspres, 26 Maret 2018. Dirgahayu dan Jayalah!