Beranda FEATURE Keunikan Lomba Ngejo dalam Rangka HUT Kabupaten Purwakarta

Keunikan Lomba Ngejo dalam Rangka HUT Kabupaten Purwakarta

40
0
MALDIANSYAH/PASUNDAN EKSPRES BERSAING MASAK: Para PNS dan warga berbaur mengikuti Lomba Ngejo dalam rangka memeriahkan HUT Kabupaten Purwakarta.

Kembali ke Masa Lalu, Peserta hanya Boleh Menggunakan Alat Tradisional

Sejatinya, tahun ini Purwakarta genap berusia 186 tahun. Namun usia tersebut jauh berbeda saat resmi menjadi Kabupaten Purwakarta, yang kini genap mencapai ke 49 tahun. Untuk memeriahkan momen bersejarah tersebut, Pemkab Purwakarta melalui leading sektor Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan Purwakarta menggelar lomba ‘Ngejo’. Seperti inilah kemeriahannya.

‘NGEJO’ merupakan istilah dalam bahasa Sunda loma (umum), yang memiliki makna menanak nasi. Uniknya, proses menanak nasi yang dilombakan kali ini tidak diperbolehkan menggunakan alat modern, melainkan alat tradisional.

Lomba yang diikuti oleh seluruh perwakilan kantor pemerintah dan anggota masyarakat ini dilaksanakan di Bale Kahuripan, Kecamatan Wanayasa, kemarin (24/8).

Sejak pagi, para peserta lomba sudah terlihat menyiapkan peralatan masing-masing mulai dari hawu atau tungku yang terbuat dari tembikar atau batu belah, aseupan, seeng, dulang dan kayu bakar. Tidak lupa, mereka juga membawa nyiru, anyaman bambu yang biasa digunakan untuk memisahkan beras dan sisa gabah yang masih tercampur.

Seluruh alat ini merupakan alat tradisional yang biasa digunakan oleh orang Sunda untuk menanak nasi.

Ida Hamidah, salah seorang ASN Purwakarta yang mengikuti kegiatan, mengatakan, melalui perlombaan yang diikutinya, ia dapat mengenang waktu remaja karena sering dirinya kerap disuruh oleh orang tuanya untuk menanak nasi.

Kondisi masa lalu tersebut, menurutnya, kini jarang ditemui. Remaja saat ini lebih banyak nongkrong dan melakukan kegiatan diluar membantu orang tua mereka di rumah.
“Ingat waktu remaja dulu, masih pakai alat tradisional, sekarang digunakan lagi, memang cukup sulit karena sehari-hari terbiasa menggunakan kompor gas. Tapi remaja sekarang pakai kompor gas saja sudah jarang bantu orang tua menanak nasi,” kata Ida di lokasi perlombaan.

Selain menanak nasi, kegiatan ini juga menyediakan varian lomba yang lain seperti membuat nasi liwet, sambel dadak, hingga kuliner lain termasuk sate maranggi khas Purwakarta. Kecepatan, ketepatan dan rasa dan tampilan kuliner menjadi aspek penilaian yang akan dinilai oleh Dewan Juri Lomba.

Terpisah, Kepala Bidang Informasi dan Publikasi pada Dinas Komunikasi dan Informasi Kabupaten Purwakarta, Hendra Fadly menyampaikan bahwa kegiatan ini diinisiasi oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi. Pria yang akrab disapa Ucok tersebut berujar Bupati menginginkan setiap kegiatan harus mengandung unsur kebudayaan.

“Ini ide Pak Bupati, beliau concern terhadap giat-giat kebudayaan dan ingin agar tradisi memasak seperti ini selalu hidup di tengah masyarakat,” ujarnya. (*/rls/mas/din)