Beranda HEADLINE Kepiawaian Widodo Jaya Kusuma, Dalang Cilik asal Kabupaten Subang

Kepiawaian Widodo Jaya Kusuma, Dalang Cilik asal Kabupaten Subang

384
0

Mahir Sejak Sekolah Dasar, Membuat Wayang Golek dari Hasil Tabungan

Remaja pada umumnya, biasa mengisi waktu ketika pulang sekolah dengan bermain dan berkumpul bersama teman-temannya. Namun lain halnya dengan Widodo Jaya Kusuma. Remaja yang satu ini lebih sering menghabiskan waktunya di rumah. Lalu, apa yang dilakukan siswa kelas VIII SMP N 4 Pabuaran yang akrab disapa Dodo tersebut?

VINNY DINA RAHAYU, Subang

Kegiatan yang dilakukan Dodo ketika di rumahnya yang berlokasi di Kampung Cinangka, Desa Salam Jaya Kecamatan Pabuaran, Kabupaten Subang, cukup menarik perhatian warga sekitar. Siapa yang menyangka tanpa bakat keturunan dari kedua orang tuanya, Dodo begitu mahir memahat kayu menjadi rupa para wayang golek.

Kemahirannya dalam membuat wayang golek sudah ada ketika dirinya masih duduk di bangku sekolah dasar. Diakui Dodo, kecintaannya terhadap wayang golek sudah ada sejak dulu. Saat itu, pertama kali ia melihat pergelaran wayang oleh dalang terkenal, Asep Sunandar Sunarya. Dodo pun dibuat kagum dan jatuh hati. Setelah itu, anak pasangan Dedi Supriadi dan Tamah Maryamah ini bergegas untuk lebih banyak menonton wayang golek dari VCD.

Tamah Maryamah selaku orang tua mengaku bangga terhadap anak bungsunya tersebut. Menurut sang ibu, sebelumnya Dodo banyak mengukir prestasi, terutama saat masih SD. Kala itu, Dodo banyak memperoleh penghargaan dan menjuarai perlombaan dakwah, pidato, dan seni tari jaipong.
“Resep na mah tos ti alit. Kapungkur masih keneh kelas 5 SD teh nonton pentas wayang golek, tuluy resep. Teu aya turunan ti bapak boh ti ibu, tiasa nyalira weh (Sukanya sejak kecil. Dulu saat kelas 5 SD, nonton pentas wayang golek, langsung suka. Ngga ada (bakat) keturunan dari bapak atau dari ibu, biasa sendiri,” jelas Tamah dengan logat Sundanya.

Untuk pertama kalinya Dodo menunjukan kemampuannya sebagai dalang cilik pada gelaran hajatan pernikahan sang kakak. Saat itu seluruh warga sekitar dibuat takjub dengan penampilan Dodo. Bahkan dikatakan salah satu warga bahwa suara Dodo hampir menyerupai dalang kondang Asep Sunandar.

Seperti tidak ingin puas begitu saja. Dodo pun tidak larut dalam pujian. Ia lalu memilih untuk belajar lebih dalam lagi. Salah satu dengan belajar kepada dalang yang lebih berpengalaman, yakni Dalang Sano. Setiap libur sekolah, Dodo pergi mengunjungi sang guru di rumahnya, dengan jarak tempuh yang lumayan cukup jauh. Meskipun demikian, tak lantas mengurangi sedikit pun semangat Dodo untuk belajar.

Menurut Dalang Sano, dalam kemampuan bercerita Dodo sudah tidak diragukan lagi. Tetapi untuk bernyanyi pada pembukaan sebelum bercerita atau disebut dengan istilah “kakawen”, kemapuannya perlu diasah kembali.
“Ceuk dalang mah Dodo teh dinu ngadalang mah tos percanten, tapi kanggo ngawalanana nu disebat kakawen teh Dodo teu acan tiasa,” ungkap Dodo.

Dari situlah Dodo mengaku tidak lelah untuk belajar dan terus mengasah kempuannya tersebut. Hal tersebut ia lakukan tiada lain untuk membahagiakan kedua orang tuanya, yakni dengan cara menjadi dalang terkenal dan mendapatkan penghasilan dengan menjadi seorang dalang.

Saat ini, Dodo sudah memiliki 20 wayang golek yang dibuatnya sendiri dengan modal seadaanya. Dodo mengaku menyisihkan uang jajannya untuk menabung. Uang tabungannya ini nantinya akan dibelikan kayu untuk membuat wayang dan keperluan lain, seperti cat, biaya jahit baju dan lainya.
“Alhamdulillah basa bulan Februari, Dodo dipiwarang pentas wayang di Subang, pas kaleresan aya bintang tamu na Tantan. Hasil saweran basa itu lumayan ageung teras weh dipeserkeun kayu sareng keperluan nu sejenna (Alhamdulillah, saat bulan Februari, Dodo diminta pentas wayang di Subang, kebetulan ada bintang tamunya Tantan. Hasil saweran saat itu lumayang banyak. Terus dibelikan kayu sama keperluan dan lainnya),” kata Dodo.

Semangat Dodo dalam membuat wayang golek maupun menjadi seorang dalang, patut diacungi jempol. Dukungan dari orang tua dan masyarakat sekitar menjadi sesuatu yang berharga baginya. Meskipun demikian, sayangnya perhatian dari pemerintah daerah dan pemerintah desa dirasa masih kurang. Menurut Dodo, pihak pemerintah desa pun belum pernah mengunjungi tempat tinggalnya. (vny/din)