Beranda FEATURE Kehidupan IRT di Desa Pamoyanan yang Mayoritas Pemecah Batu

Kehidupan IRT di Desa Pamoyanan yang Mayoritas Pemecah Batu

43
0

Satu Truk Dijual Rp 200 Ribu

Pekerjaan sebagai pemecah batu layaknya dilakukan para kaum pria. Namun siapa sangka, di Desa Pamoyanan Kecamatan Plered, profesi itu banyak dilakukan para ibu rumah tangga (IRT). Lalu bagaimana mereka mengurus rumah tangga?

YUSLIPAR, Purwakarta

Tepatnya di Kampung Pasir Puetey Desa Pamoyanan, Kecamatan Plered. Mendengar nama dusun itu, sebagian besar warga Purwakarta langsung menghubungkannya dengan perusahaan tambah batu yang berada di wilayah itu. Tak heran jika pekerjaan membelah batu merupakan pekerjaan rutin bagi ibu-ibu rumah tangga di Kampung Pasir Puetey. Alasannya, limbah batu perusahaan tambang batu merupakan sumber rezeki masyarakat sekitar.

Seperti diketahui, Desa Pamoyanan merupakan areal yang di kelilingi perusahaan tambang batu. Tak heran hampir sebagian warga di wilayah itu bermata pencaharian menjadi buruh di perusahaan tambang. Namun tak jarang pula yang menjadi penjual batu belah.

Meski begitu, tak semua batu belah layak dan dapat di produksi perusahaan. Biasanya warga sekitar memanfaatkan limbah batu yang tak terpakai untuk kemudian diolah menjadi layak jual.

Seperti yang dilakukan Neng Heti, 28, warga RT 09 RW 05 yang keseharianya memecah batu. Dengan alat seadanya, ibu satu anak itu bisa dapat mengumpulkan pecahan batu selama satu minggu. Meski pekerjaan ini cukup alot, berkat ketekunannya, Dia dapat meraup pundi-pundi dari pecahan batu itu.
“Biasanya kita ambil serpihan batu yang sudah tidak dipakai dari perusahaan lalu kita bawa ke rumah dan kita pecah untuk kembali dijual,” kata Neng Heti, kamarin (9/8).

Dia mengatakan, dalam satu minggu ia mampu menjual satu kubik pecahan batu split. Biasanya, jika batu telah terkumpul di depan rumah ada pengepul yang datang untuk membeli barang tersebut.
“Paling satu mobil bak kita jual dengan harga Rp200 ribu, lumayan buat tambah-tambah keperluan,” katanya.

Tak hanya Neng Heti, menjadi pemecah batu juga dilakoni Enung, 50, ibu rumah tangga lainnya. Bahkan, Enung sudah belasan tahun memecah batu. Dalam menyelesaikan pekerjaannya, Enung taks sendiri. Dia dibantu dua anak perempuanya. Dari profesinya ini, dia mengaku bisa membantu kebutuhan suaminya yang menjadi buruh petani, sekaligus membantu biaya pendidikan anaknya.

Enung mengungkapkan, memecah batu tidak hanya bisa dilakukan kaum laki-laki. Sebagai perempuan, setidaknya jangan hanya menunggu suami memberi uang. Tapi juga belajar mandiri bekerja agar tidak ketergantungan.
“Udah lama pak, ya lumayan lah buat tambah-tambah yang penting dapur ngebul. Pecahan batu-batu ini bisa dijual untuk memenuhi kebutuhan bahan material tidak hanya wilayah Purwakarta namun juga dapat di kirim keluar daerah seperti Karawang dan Bekasi,” ujarnya. (*/din)