Beranda SUBANG Jumlah Debit Air Menurun, Hanya Bisa Aliri 70 Persen Sawah

Jumlah Debit Air Menurun, Hanya Bisa Aliri 70 Persen Sawah

79
0
YUGO EROSPRI/PASUNDAN EKSPRES KEKERINGAN: Juru pengairan pintu air Cileuleuy PJT II Subang, Sutisna Wiladi menunjukan kondisi pintu air Cileuleuy.

SUBANG– Kemarau mulai menimbulkan dampak kekeringan di Kabupaten Subang. Diketahui beberapa lahan pertanian terkena dampak langsung dari kekeringan ini.

Untuk itu, fungsi pintu air Cileuleuy akan segera dimaksimalkan untuk meminimalisir dampak kekeringan. Pengerukan sedimen menjadi cara yang diambil untuk membuat aliran air lebih lancar.

Juru pengairan pintu air Cileuleuy PJT II Subang, Sutisna Wiladi mengatakan kekeringan sudah terjadi sejak bulan Agustus 2017. Jumlah debit air terus menurun dari biasanya.

“Belum lagi sedimen yang tinggi mencapai dua meter menyumbat aliran air disini. Pasokan air yang berukurang nisa mengakibatkan petani gagal panen,” ujarnya.

Untuk itu, pihaknya akan melakukan pengerukan dalam waktu dekat. Tingginya lumpur di aliran Cileuleuy mengakibatkan air datang lebih lama ke sawah-sawah petani.

“Kalau normal aliran air ke pintu 8 bisa mencapai 4 jam. Tapi sekarang bisa mencapai 12 jam lamanya,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, pintu air Cileuleuy mengairi beberapa daerah seperti Subang, Pagaden, Cipunagara, dan Cibogo. Biasanya mampu mengairi 6.300 hektare lahan. Namun kini hanya bisa mengairi 5.300 hektare lahan.

“Jadi hanya 70 persen saja yang sekarang bisa terairi oleh aliran Cileuleuy,” ungkapnya.

Sementara itu, petani asal Cibogo, Nuryaman, 43 mengatakan akibat kekeringan yang melanda, dirinya terpaksa menggunan sumur bor untuk mengairi sawah. Pihaknya berharap akan ada bantuan pompa air untuk meringankan beban petani.

“Selama ini kita menggunakan sumur bor dengan biaya yang lumayan. Berharapnya ada bantuan pompa atau solusi lain untuk mengatasi masalah kekeringan,” harapnya. (ygo/tra)