Beranda CATATAN Jangan Lupakan Ojang

Jangan Lupakan Ojang

207
0
Penulis, Pemimpin Redaksi Pasundan Ekspres

Lukman NH

Tahun 2017 menyisakan beberapa bulan lagi. Akan menjadi bulan yang sibuk bagi partai politik dan para calon kepala daerah. Hingga akhir tahun, partai harus sudah menemukan calon yang bakal diusung. Calon kepala daerah sebaliknya, harus sudah menemukan partai yang pas untuk mendaftar. Bagi calon independen harus sudah mengumpulkan KTP warga. Semuanya tidak mudah, semuanya berbiaya.

Bagi calon bupati misalnya, siang dan malam terasa sebentar saja. Setiap hari lobi, setiap hari menyosialisasikan diri ke masyarakat. Berharap popularitas dan elektabilitasnya naik. Apalagi KPU sudah mengumumkan bahwa pencoblosan Pilkada serentak akan digelar 27 Juni 2018.

Jika saja masih bebas, mungkin Ojang Sohandi tidak sesibuk kandidat lainnya. Yang harus kerja keras mengenalkan diri. Bagi Ojang, mungkin tinggal memanen dukungan saja. Sebab sudah menanam perhatian, simpati dan kroni dari jauh-jauh hari. Sudah jadi ketua partai pula. Tapi kini mimpi Ojang itu harus dibawa ke Sukamiskin. Dirampas KPK dan dibenamkan oleh palu hakim sedalam 8 tahun lamanya.

Tapi benarkah mimpi Ojang sirna? Atau jangan-jangan mimpi itu akan ia titipkan kepada yang ia percaya. Jika saja Ojang telah menjelma menjadi seorang politisi tulen, sangat mungkin pesan politiknya disampaikan dari balik jeruji besi sana. Sebab, dalam kurun waktu lima tahun (periode bersama Eep Hidayat) dan sekitar tiga tahun (periode bersama Imas Aryumningsih) cukup bagi Ojang membangun jejaring yang kuat.

Harus diakui, Ojang punya pesona. Terbukti, Eep berpasangan dengan Ojang lalu menang. Imas juga yang berpasangan dengan Ojang juga menang. Padahal, sebelumnya Imas pernah berpasangan dengan artis Primus Yustisio pada Pilkada 2008 lalu, nyatanya kalah. Sulit untuk mengatakan bahwa Ojang tidak punya pengaruh mendongkrak suara. Setidaknya Ojang membawa aura keberuntungan.

Perolehan suara Ojang-Imas juga sangat menonjol (54,01%), menang mutlak dari pasangan lainnya. Terlepas dari faktor kompetitor lain yang mungkin kurang kuat, Ojang mampu lolos dari stigma negatif seperti isu perselingkuhan yang pernah mencuat dan di bawah bayang-bayang pengaruh Eep Hidayat yang tersandung kasus hukum.

Kekuasaan memang punya medan magnet yang kuat. Bisa menarik hasrat siapapun. Membuka kesempatan kepada siapapun. Seringkali yang terkurung dalam tahanan masih bisa mendapatkan kekuasan dengan cara yang tak biasa. Tidak harus menduduki kursi kekuasaan, tapi bisa mempengaruhi atau bahkan memerintah yang berkuasa. Pengaruh dan pesannya masih bisa disampaikan melalui para loyalisnya.

Hal itu yang dilakukan beberapa politisi seperti mantan Bupati Subang Eep Hidayat, mantan Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum, mantan Gubernur Banten Ratu Atut Chosiyah, dan mantan Bupati Indramayu Irianto MS Syafiuddin (Yance).

Meski ditahan, politisi sekaliber Eep, Yance dan Ratu Atut masih efektif menggerakkan jaringan dan loyalisnya bergerilya memenangkan Pilkada. Eep mendorong istrinya Ambu Nina bertarung di Pilkada 2013 meskipun gagal. Jaringan Ratu Atut masih efektif memenangkan anak sulungnya Andika Hazmury menjadi Wagub Banten mengalahkan Rano Karno sedangkan Yance masih bisa mengendalikan birokrasi lewat istrinya Ana Sophanah yang kini jadi Bupati Indramayu. Di tingkat nasional, pengaruh Anas Urbaningrum masih kuat dan berhasil mendistribusikan para kadernya menempati jabatan strategis di beberapa partai. Bahkan Ketua Umum Partai Hanura Oesman Sapta pernah menyatakan akan menggelar karpet merah untuk Anas jika bersedia masuk Hanura kala sudah bebas nanti.

Apakah Ojang punya potensi seperti mereka? Jangankan yang pernah memenangkan Pilkada, yang kalahpun akan ditanya bagaimana rasanya kalah di Pilkada. Mengapa bisa kalah. Maka sangat mungkin Ojang masih akan didatangi dan ditanya bagaimana cara memenangkan Pilkada. Ojang diam pun akan tetap selalu ada yang minta petuahnya. Dalam kondisi itu, jaringan Ojang akan menemukan bahan bakar, menyala lagi.

Umumnya mantan bupati, tentu akan punya jaringan hingga ke pelosok desa. Masih punya pengaruh di birokrasi yang sangat mungkin diwaspadai Bupati Imas saat ini. Dicegah agar tidak menyebar melalui jurus rotasi mutasi. Tapi setidaknya, anak buah Ojang di birokrasi harus berterimakasih karena namanya tidak disebut dalam Pengadilan Tipikor lalu.

Dari sisi finansial, Ojang masih punya surplus. Dari sekitar Rp60 miliar harta diduga bermasalah yang didakwakan KPK, tidak seluruhnya dinyatakan haram. Malah belum lama ini KPK mengembalikan lagi harta Ojang sekitar Rp20 miliar. Masih cukup untuk mendanai mimpi yang tertunda. Tinggal berhitung cermat saja, kepada siapa mimpinya akan dititipkan di Pilkada 2018 nanti. Tinggal kita amati saja, siapa jagoan yang didukung Ojang di Pilkada. Yang pasti tidak mungkin mendukung sang mantan yang mulai ramai juga digadang-gadang nyalon bupati.

Jadi sebaiknya para calon bupati dan partai politik jangan melupakan Ojang. Di balik tembok Sukamiskin sana tersimpan mantera-matera bagaimana memenangkan Pilkada.(*)