Beranda FEATURE Hutan Greenthink Sarana Edukasi dan Memajukan Ekonomi

Hutan Greenthink Sarana Edukasi dan Memajukan Ekonomi

238
0

Strategi Pembinaan Lingkungan Berbasis Masyarakat oleh PHE ONWJ

Dibangun tahun 2006 lalu, SDN Cilamaya Girang sudah berdiri kokoh dan bersih. Kini dibangun pula fasilitas pendidikan anak usia dini. Anak-anak tampak ceria dan bersemangat pergi ke sekolah meski harus menyusuri jalan yang becek dan banjir saat hujan.
Kegembiraan anak-anak bertambah, sore hari mereka juga bisa bermain di area hutan pendidikan yang mulai rimbun dan sejuk. Di akhir pekan, hutan pendidikan yang diberi nama Hutan Kehati (Keanekaragaman hayati) Greenthink semakin ramai. Nama itu diambil dari rumput kecil, warga sekitar menyebutnya grinting.
________________

Ketua Kelompok Tani Grinting, Arruji Kartawinata bisa sedikit lega. Sebab dari ribuah pohon yang ditanam tahun 2011 di lahan seluas 2,5 Ha masih ada yang sisa. Selebihnya mati terendam air rob yang sesekali muncul. Hanya pohon tertentu yang bertahan, seperti pohon mahoni dan angsana.

Kondisi itu membuat para petani dan pihak PHE ONWJ berpikir untuk menata kembali program pembuatan hutan pendidikan itu. Tahun 2014 menggandeng konsultan Detara Fondation. Kemudian dikembangkan konsep ekosistem hu¬tan arbo-re¬tum, agroforestry dan agrosil¬vofishery, ekosistem sawah, tanaman obat, kolam ikan dan sistem pertanian terpadu (integrated farming system).

Di dalamnya juga terdapat aktivitas pemberdayaan masyarakat berbasis pertanian seperti budidaya bebek, jamur merang, perikanan maupun greenhouse. Sistem pertanian terpadu. Sedangkan untuk pembelajaran lingkungan, ditanam beragam pohon seperti mahoni, kenanga, akasia, flamboyan, sukun hingga pohon bakau. Juga terdapat tanaman sayuran dan obat.

Arruji mengungkapkan, tidak mudah mengajak masyarakat untuk beralih profesi mengandalkan pendapatan dari pertanian. Sebab nelayan sudah terbiasa mendapatkan uang harian. “Hari ini pergi melaut, langsung dapat ikan. Sementara bertani kan lama. Banyak juga yang tidak sabar. Tapi sekarang kan sudah kelihatan ada hasilnya. Hutan Greenthink sudah rindang. Banyak pengunjung dan banyak yang berjualan di sini. Ada pendapatan tambahan untuk masyarakat setelah ada Hutan Greenthink ini,” paparnya.

Perlahan, fasilitas di dalamnya pun makin lengkap. Tak hanya layak untuk pembelajarang lingkungah hidup (PLH) kini Hutan Kehati Greenthink sudah dilengkapi camping ground, balariung, galeri, perpustakaan mini, toilet, musola dan area bermain untuk anak-anak.
Hutan Kehati Greenthink tersebut tampak makin tertata. Selain dijadikan tempat pembelajaran lingkungan, kini semakin layak disebut ekowisata baru di ujung Subang.

Bagaikan oase, di area sekitarnya yang gersang dan panas, memasuki kawasan Hutan Kehati Greenthink akan merasakan sedikit sejuk. Terdengar pula beberapa kicauan burung dan sesekali muncul barisan burung kuntul putih di area budidaya air.
Selain berkeliling Hutan Greenthink, pengunjung juga bisa menyusuri sungai Cilamatan yang berujung ke laut sepanjang 2,5Km. Sudah tersedia kapal motor berkapasitas 15 orang yang siap mengantarkan. Targetnya, para kelompok tani juga ingin ada penataan jalur menuju laut seperti di kawasan ekowisata Karangsong, Indramayu.

Tapi dengan kondisi sekarang pun, sudah membuat banyak orang penasaran datang ke Hutan Greenthink. Arruji bersama yang lain yang dipercaya mengelola hutan edukasi ini sudah membuat fasilitas tambahan loket masuk pengunjung. Tiap pengunjung dikenakan biaya Rp5.000.
“Penasaran aja, sekalian jalan-jalan dan foto-foto,” ujar Dina (16), pengunjung asal Cilamaya yang berkunjung dengan seorang temannya, Rabu (6/12). Ia asyik ngobrol di saung kecil di atas kolam ikan. Sedangkan sejumlah anak laki-laki tampak tertarik memanjat menara jaga setinggi hampir 7 meter. “Kita juga ingin nantinya ada kincir angin dibangun. Mungkin akan lebih seru dan menarik banyak pengunjung,” kata Arruji.

Community Development (Comdev) Asep Abyoga menambahkan, kehadiran Hutan Kehati ini juga diibaratkan kapal nabi Nuh yang menyelamatkan hewan. Sementara Kapal Kehati Greenthink ini hadir untuk menyelamatkan flora atau tanaman yang bertahan dengan air laut. “Maka simbolisasinya Kapal Greenthink. Kebetulan namanya pas, berarti berpikir hijau. Juga memiliki misi untuk memberdayakan masyarakat,” tandasnya.

Hutan Greenthink juga dirasakan manfaatnya bagi dunia pendidikan. Kini Kwarran Blanakan secara rutin bisa melaksanakan kegiatan Pramuka seperti kemah dan Persami.
“Bisa untuk kegiatan latihan, pertemuan atau ada pelantikan gerakan Pramuka. Bisa dimanfaatkan untuk pendidikan lingkungan,” ujar Ketua Kwarran Pramuka Blanakan, Tuti Suwarti, Selasa (12/12).

Saat lounching Taman Kehati Greenthink 26 Oktober lalu, General Manager PHE ONWJ Siswantoro M. Prasodjo mengungkapkan, area tersebut sekaligus bisa dimanfaatkan untuk konservasi lingkungan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut, PHE ONWJ juga menyerahkan buku pendidikan lingkungan hidup (PLH) yang diterima langsung oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Suwarna Murdias.

Tapi bagi pengunjung yang ingin ke Hutan Greenthink harus bersabar, sebab akses utama menuju Hutan Greenthink sepanjang 4Km akan melintasi jalan berlubang dan sebagian masih tanah. Kwarran Blanakan mengaku sudah membahas perbaikan jalan ini dengan kepala desa agar diusulkan perbaikan. Sebab sudah menjadi jalan kabupaten.

Untuk menuju oase hijau Hutan Kehati Greenthink bisa melalui jalur Pantura menuju Kecamatan Blanakan. Dari arah Jakarta bisa diakeses melalui Tol Cipali keluar Cikampek lalu ke jalur Pantura dan menuju Jalan Cilamaya perbatasan Karawang. Sedangkan dari arah Bandung dan Cirebon bisa ke Tol Cipali keluar ke jalur Purwadadi lalu ke jalur Pantura menuju Blanakan. Selamat berkunjung.(man)