Beranda BANDUNG Granat Setuju BNN Dipersenjatai

Granat Setuju BNN Dipersenjatai

31
0
ASEP IMAM MUTAQIN/PASUNDAN EKSPRES PELANTIKAN: Pengurus DPC Granat KBB salam Granat lima jari stop narkoba usai pelantikan di Gedung Serba Guna Wijaya Toyota Jalan Cimareme Ngamprah KBB, Sabtu (7/10).

NGAMPRAH – Gerakan Anti Narkotika Nasional (Granat) mendukung penuh pemerintah untuk mempersenjatai lengkap Badan Narkotika Nasional (BNN). Hal itu dilakukan sebagai pengamanan petugas dalam menjalankan tugasnya di lapangan.

“Para pelaku kejahatan narkoba ini sudah berani berbuat nekat. Mereka tidak segan-segan melawan dan mengancam keamanan nyawa para petugas. Untuk itu keberadaan senjata bagi petugas BNN ini sangat dibutuhkan. Dan saya sangat setuju serta mendukung petugas BNN di lapangan dipersenjatai dengan lengkap untuk melawan para penjahat narkoba itu,” kata Ketua Umum DPP Granat, Henry Yosodiningrat saat ditemui usai pelantikan pengurus DPC Granat Kabupaten Bandung Barat (KBB) di Aula Wijaya Toyota Jalan Raya Cimareme Ngamprah, Sabtu (7/10).

Dia menilai, kejahatan narkoba adalah kejahatan kemanusiaan yang terorganisir secara internasional dengan tujuan untuk menghancurkan bangsa dengan merusak generasi mudanya. Untuk itu, Granat akan terus mendukung BNN dan polisi untuk terus mendukung perang terhadap narkoba.

“Kami akan terus mendukung aparat penegak hukum dan BNN dalam memberantas kejahatan narkoba ini,” ujarnya.

Adapun salah satu dukungan yang dilakukan anggota DPR dari PDI Perjuangan (PDIP) ini adalah dengan mendorong revisi UU No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika yang saat ini sudah masuk dalam progran legislasi nasional (Prolegnas). Sebab UU itu masih banyak kekurangan dan tidak mampu mengatasi kondisi darurat narkoba di Indonesia.

“Bayangkan dari 155 pasal hanya 37 pasal yang memberi kewenangan kepada BNN. Artinya bagaimana berharap kepada BNN untuk menjadi vocal point pemberantasan narkoba sedangkan perangkat dan daya dukung yang diberikan masih terbatas,” ungkapnya.

Disisi lain, Henry pun mengaku gerah tingginya korban narkoba di KBB yang mencapai 45 ribu jiwa. Pemkab Bandung Barat dan aparat penegak hukum serta semua stakeholder masyarakat diminta ekstra keras melakukan upaya pencegahan peredaran narkoba di KBB.

“Saya tau tingkat kesulitannya seperti apa, karena narkoba masuk ke Bandung Barat ini ada sejuta pintu, jangan berharap kita bisa mencegah atau membrantas narkoba. Tapi itu bukan berarti tidak dilakukan, minimal ada upaya mencegah terjadinya penyalahgunaan,” jelasnya.

Sedangkan upaya itu, lanjut Henry, bisa dilakukan sosialisasi soal bahaya penggunaan narkoba, itu pun menjadi penguat dimasyarakat. Sehingga Pemkab Bandung Barat diharapkan gencar menyosialisasikan gerakan anti narkoba hingga tingkat kecamatan desa, RW dan RT.

“Minal dipasangan spanduk atau plang anti norkoba berpita merah atau tulisan narkoba mati, itu bisa berupa stiker yang dipasang di tiap rumah, minimal mereka (masyarakat) selalu ingat. Walaupun narkoba banyak dibagikan secara gratis, tapi kalo masyarakatnya menolak, kita tidak perlu khawatir lagi,” ungkapnya.

Lebih lanjut Henry menjelaskan upaya lain selain sosialisasi bahaya narkoba, bisa dilakukan juga pembentukan relawan di setiap desa. Hal ini penting dilakukan sebagai upaya pencegahan meski pun upaya pencegahan baik di daerah maupun nasional belum seluruhnya efektif.

“Tapi minimal kita sudah lakukan berbagai upaya untuk pencegahannya,” pungkasnya. (sep/tra)