VINNY DINA RAHAYU/PASUNDAN EKSPRES GEDUNG WISMA KARYA. Gedung Wisma Karya yang saat ini menjadi tempat berkumpul masyarakat Subang karena lokaisnya yang berada di pusat kota.

Akan Direnovasi Total, Gunakan Sistem Canggih

Bagi masyarakat Subang, siapa yang tak mengenal gedung Wisma Karya. Tak hanya karena letaknya yang berada di pusat kota, gedung Wisma Karya juga memiliki sejarah yang unik.

VINNY DINA RAHAYU, Subang

Gedung Wisma Karya yang berada tepat di pusat kota Subang, tepatnya di Jalan Ade Irma Suryani No 2 Subang. Berdiri di atas lahan seluas 1 hektar, gedung in dibangun pada era penjajahan Belanda oleh perusahaan P&T Lands PW Hofland.
Selain sebagai tempat hiburan, saat ini gedung Wisma Karya sering dijadikan sebagai tempat pertunjukan. Bahkan beberapa ruangan dijadikan sebagai tempat olah raga, seperti golf, biliyard dan bowling.

Pengelola UPTD Museum Kabupaten Subang, Ahmad Sholeh menuturkan, saat itu Hofland melakukan penjajahan di daerah Subang. Hofland juga memperluas kekuasaan dengan menjalankan usaha di bidang perkebunan kopi.

Atas keberhasilannya tersebut, Hofland membuat kontrak dengan pemerintah Hindia-Belanda dalam bidang perdagangan kopi sekitar tahun 1840.

Saat itu pun Hofland menjadi pemilik tanah P&T (Pamanoekan & Tjiasem) Landen. Kemudian pada tahun 1858, seluruh tanah partikelir P&T Land menjadi milik pribadi Hofland. Pemerintah Hindia-Belanda yang berkuasa saat itu kemudian memberikan kekuasaan untuk mengangkat pejabat pemerintah partikelir yang disebut Demang pada 18 Agustus 1859.
“Dapat dikatakan bahwa gedung Wisma Karya menjadi pusat peradaban para penjajah Belanda dan Inggris serta bangsawan pribumi yang dijadikan Demang, untuk berdansa dan mendengarkan lagu-lagu yang berbau kebarat-baratan,” jelas Ahmad Sholeh.

Selanjutnya, pada 14 Januari 1929 gedung Wisma Karya mengalami renovasi dan diresmikan oleh Mrs WH Daukes. Tujuannya sebagai tempat untuk bersosialisasi para pejabat P&T Land, tempat pertunjukan atau hiburan, olahraga, golf, bilyard dan bowling bangsa asing.

Di kesempatan tersebut, Ahmad juga menunjukan beberapa lokasi yang dulunya dijadikan tempat hiburan, olahraga maupun perkantoran.
Tak hanya itu, kata Ahmad, gedung Wisma Karya juga sempat pernah dijadikan tempat tahanan pembuat Tugu Pancoran, Edhi Soenarso. Ruangan tahanan itu kini dijadikan WC Umum.

Jika memasuki lobi gedung Wisma Karya, pengunjung akan mendapati ruangan yang dulu dijadikan café dan ruang biliayrd. Nah ruangan biliayrd kini dijadikan ruangan museum. Dulu diantara dua ruangan tersebut ada sebuah pintu kecil yang digunakan untuk menyodorkan pesanan makanan kepada para pengunjung.
“Saat ini beberapa ruangannya digunakan sebagai tempat Sekretaiat Pemuda Pancasila. Pada zaman dahulu ruangan tersebut adalah ruangan bermain bola bowling. Memasuki ruangan museum terdapat Patung PW. Hofland yang dibuat oleh Brussel Belgia pada tahun 1878 yang terbuat dari perunggu,” tuturnya kepada Pasundan Ekspres.

Namun saat ini saat sudah menjadi UPTD Museum Kabupaten Subang, gedung Wisma Karya tidak begitu banyak dikunjungi warga. Bahkan bangunannya sebagian sudah mulai rudak. Jika dibiarkan dikhawatirkan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Bupati Subang Imas Aryumningsih berencana akan merenovasi gedung Wisma Karya secara keseluruhan. Nantinya bukan hanya satu ruangan yang dijadikan museum. Namun semua ruangan.
“Akan menggunakan sistem baru yaitu sistem elektrik. Rencananya bulan Agustus mendatang,” pungkasya. (vny/din)