Beranda SUBANG Faktor Keluarga Sangat Penting, Psikolog: Korban Kekerasan pada Anak Bisa Lukai Fisik

Faktor Keluarga Sangat Penting, Psikolog: Korban Kekerasan pada Anak Bisa Lukai Fisik

36
0
YUSUP SUPARMAN/PASUNDAN EKSPRES BANYAK FAKTOR: Psikolog yang menangani korban kasus kekerasan anak, Endang Sari SPsi MPsi (kedua kanan). Dijelaskannya, banyak faktor untuk bisa menangani kasus kekerasan anak.

SUBANG-Penanganan korban kekerasan terhadap anak baik kekerasan fisik maupun seksual tidaklah mudah. Terutama untuk memulihkan trauma korban atas kejadian yang telah menimpanya.

Seorang psikolog yang kerap mendampingi korban kekerasan terhadap anak, Endang Sari SPsi MPsi mengatakan, kepribadian korban mempengaruhi terhadap pemulihan kejiwaannya. Ada yang mudah dipulihkan ada juga yang sulit, tergantung kepribadian korban.
“Ketika anak mendapatkan masalah, itu perlu dilihat juga kepribadiannya dalam menghadapi masalah,” kata Endang kepada Pasundan Ekspres, kemarin.

Faktor lainnya, untuk penyembuhan kejiwaan korban tidak terlepas juga dari faktor keluarga. Jika tidak ada dukungan dari keluarga berupa motivasi sulit bagi korban untuk kembali beraktivitas seperti biasa paska kejadian kekerasan yang dialaminya.

Peran psikolog saja tak cukup untuk menangani persoalan itu. Oleh sebabnya, keluarga korban perlu juga untuk membantu memulihkan kejiwaan korban.
Lebih sulit lagi, apabila keluarga korban itu ketika tidak harmonis. Sulit bagi korban untuk pulih kembali. Dan rata-rata, kata dia, berdasarkan pengalamannya menangani kasus kekerasan terhadap anak sejak 2015, anak yang menjadi korban itu dari keluarga yang kurang harmonis.

Dia mengatakan, waktu yang dibutuhkan untuk pemulihan relatif. Seorang psikolog sulit memastikan kapan anak itu bisa pulih kembali. Karena dipengaruhi oleh faktor kepribadian korban, keluarga dan juga masyarakat.
Masyarakat jika masih mencemooh korban, itu sulit bagi korban untuk pulih. Korban malah tambah minder, malas keluar rumah dan enggan bersosialisasi jika anggapan lingkungan sekitar masih negatif pada korban.

Lebih lanjut ia mengatakan, pemulihan kejiwaan korban memang tidak instan. Penanganannya harus berlanjut. Tak hanya diawal-awal saja. Pada dasarnya, pemulihan kejiwaan korban itu lebih kepada merubah mindset korban. Dari pemikiran jangka pendek soal tidak adanya harapan di masa depan, di rumah menjadi terbukanya masa depan bagi siapapun termasuk korban.
“Kalau dia terus menyesali masa lalu, ya dia akan berhenti sampai di situ. Kita sampaikan, individu yang memiliki masa lalu suram bukan berarti masa depannya pun suram. Dia harus berkeyakinan bahwa masa depan itu milik semua, termasuk untuk korban. Kalau dia memiliki masa depan, berarti memiliki harapan,” jelasnya.

Jika korban ini tidak ditangani secara kejiwaannya, maka itu bisa berdampak negatif pada korban. Bahayanya jika korban tidak ditangani bisa saja anak tersebut akan menjadi pribadi yang tertutup, enggan bersosialisasi. Bahkan bisa sampai melukai fisiknya sendiri, karena rasa malu dan penyesalan.
“Takutnya malah depresi dan menyakiti dirinya,” pungkasnya.(ysp)