Beranda HEADLINE Elektabilitas Dedi Mulyadi Salip Dede Yusuf

Elektabilitas Dedi Mulyadi Salip Dede Yusuf

399
0

SUBANG-Persaingan menapaki tangga popularitas dan elektabilitas menuju Pilgub Jabar semakin sengit. Ketua DPD Golkar Jabar yang digadang-gadang menjadi Calon Gubernur Jabar Dedi Mulyadi berhasil menyalip elektabilitas politisi Partai Demokrat Dede Yusuf.

Sementara Walikota Bandung Ridwan Kamil masih tetap kokoh di posisi pertama, disusul Deddy Mizwar. Hal itu dipaparkan dalam konferensi pers Indo Barometer di Hotel Savoy Homann, Bandung, Selasa (6/6).

Dalam survey sebelumnya, yang dirilis pada Maret 2017, elektabilitas Ridwan Kamil mencapai 22 %, disusul Deddy Mizwar 14,1%, Dede Yusuf 11,8% dan Dedi Mulyadi hanya 7,3%. Tapi kini, elektabilitas Dedi Mulyadi naik menjadi 11,5% berhasil menyalip mantan Wagub Dede Yusuf yang anjlok ke 6,3%. Sedangkan elektabilitas Ridwan Kamil terus naik menjadi 28,6% dan disusul Deddy Mizwar 18,8%. Di posisi kelima justru tampil wajah baru, KH Abdullah Gymnastiar (Aa Gym) dengan elektabilitas 2,4%. Mengalahkan elektabilitas Rieke Diah Pitalokal yang hanya 1,4%.

Sementara untuk posisi calon wakil gubernur, Desy Ratnasari menempati popularitas tertinggi yaitu 11,5% dan politisi PKS, Ahmad Syaikhu 2,8%. Nama lainnya seperti Uu Rushanul Ulum, Abdy Yuhana, Maman Imanulhaq hanya meraih 1,3% hingga 1,5%.

Direktur Eksekutif Indo Barometer Ahmad Qodari memprediksi, Dedi Mulyadi masih punya peluang sangat besar untuk menyalip Deddy Mizwar. Sebab dalam waktu beberapa bulan elektabilitasnya terus naik. “Saya punya dugaan kuat, Dedi Mulyadi ini bisa menyalip Deddy Mizwar. Sebab kenaikannya elektabilitasnya signifikan yaitu 4,2% selisih tipis dengan Deddy Mizwar, naik 4,7%,” papar Qodari.

Sedangkan kriteria yang paling diinginkan warga Jawa Barat adalah faktor kewibawaan. Disusul kedekatan dengan rakyat, kemudian pintar, kinerjanya baik dan berpengalaman. Untuk kriteria tersebut, Ridwan Kamil juga masih dipandang warga Jabar lebih tegas dibanding calon lainnya.

Selain popularitas dan elektabilitas figur, Indo Barometer juga mengukur tingkat kesukaan warga terhadap partai politik. Hasilnya, PDIP masih unggul 11,4%, disusul Partai Golkar 8,1%, Partai Gerindra 7,1%, PKS 4,4%, PPP 2,5%, Nasdem 2,1%, Demokrat 2,0%, PKB 1,8%, Perindo 1,5% dan PAN 0,4%. Sedangkan untuk survey calon presinden, Joko Widodo masih unggul 23,1% dibanding Prabowo 18,9%.

Melihat fakta-fakta tersebut, politisi PKB Maman Imanulhaq berpendapat, tidak menutup kemungkinan yang menang justru yang tidak dijagokan dalam survey seperti kemenangan Ahmad Heryawan sebelumnya.

“Jabar memang sulit ditebak. Warga Sunda punya identitas nyuda, nyantri dan nyeni. Politik identitas ini selalu muncul. Jabar juga punya basis pesantren yang kuat.Gerakan radikal selalusajamuncul.Ini harus bersama-sama kita perhatikandanmembentengigenerasimuda. Dari sisi politik artinya masih sangat mencair,” tuturnya.

Bagi Golkar Pilgub di Jabar juga sangat penting. Apalagi kata Sekjen Golkar Idrus Marham, dalam beberapa periode terakhir ini Golkar tidak pernah menang di Jabar. Tapi Idrus meyakini, kader Golkar di Jabar perlahanakan semakin popular dan elektabilitasnyaterusnaik. “Kami baru akan membahas nya nanti di sekitar bulan September. Jadi masih adawaktu.Bagi kami jelas Pilgub Jabar sangat penting.Apalagi yang menang di Jabarselalumenang di legislatif,” paparIdrus.

TapiIdrus pun menegaskan, dampakPilkada DKI tidakberpengaruhpadaelektabilitasJokowi di Jabar. Hal inimembuktikan, bahwaselamainipihak-pihak yang memproduksi isu negatif tidak berdasar kan fakta.“Jika tanpa fakta, isu negatif itu akan hilang dengan sendirinya. Dalam kasus Ahok, Jokowi menunjuk kan sikap yang tegas, yaitu memproses kasusnya secara hukum,” tandas Idrus.

Melihathasil survey tersebut, Qodari menegaskan, PilgubJabar paling menjadiperhatianelitpolitik, selanjutnyaPilgubJatimkemudianJateng.(man)