Beranda PURWAKARTA Dirut PJT II: CBF Solusi Terbaik KJA PURWAKARTA-Dirut PJT II Djoko...

Dirut PJT II: CBF Solusi Terbaik KJA PURWAKARTA-Dirut PJT II Djoko Saputro me

66
0

PURWAKARTA-nyebutkan keberadaan Keramba Jaring Apung (KJA) yang jauh melampaui kapasitas bendungan berdampak pada menurunnya kualitas air di Danau Jatiluhur. Padahal 80 persen air baku Jakarta berasal dari Jatiluhur.

“Karenanya keberadaan KJA wajib ditertibkan. Dan sebagai solusi terbaik untuk pelestarian alam sekaligus perekonomian warga, khususnya para petani ikan Jatiluhur, adalah Culture Based Fisheries (CBF),” ujarnya saat memberikan sambutan pada launching CBF di Istora Jatiluhur, Jumat (11/5).

CBF, kata Djoko, adalah konsep perikanan tangkap berbasis budidaya, di mana ikan-ikan yang ditebar di Jatiluhur akan tumbuh alami dengan melahap plankton-plankton yang ada di danau.

“Hitungan 4-5 bulan ikan-ikan tersebut akan tumbuh besar dan siap ditangkap. Yang menangkapnya kita upayakan nelayan asli Jatiluhur, bukan pendatang, ini akan kita seleksi dan kumpulkan datanya, sehingga mereka dapat menangkap ikan sebagai sumber penghidupan. Tingkat ekonomi warga lokal juga menjadi lebih baik. Mereka tidak lagi menjadi buruh KJA,” kata Djoko.

Bersamaan dengan launching CBF, Djoko juga menyebutkan PJT II menabur benih ikan (restocking) sebanyak 2 juta benih. “Kami juga mendapatkan bantuan sebanyak 2 juta benih dari Dinas Perikanan Provinsi Jawa Barat. Sehingga total restocking sebanyak 4 juta benih. Jenis ikannya bandeng, patin, dan nila. Khusus untuk PJT II, restocking kali ini merupakan yang kedua kali setelah Oktober 2017 lalu sebanyak 3 juta benih ikan,” ujarnya.

Djoko menyebutkan, terkait CBF pihaknya juga sudah berkonsultasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). “Bahkan kami tuangkan dalam perjanjian kerjasama. CBF pun sudah teruji di banyak tempat, seperti di Cina mereka telah berhasil mengembangkan CBF bahkan ikannya bersertifikasi organik,” katanya.

Secara khusus, Djoko mengapresiasi kehadiran para petani KJA pada launching CBF tersebut. “Kami sangat mengapresiasi, bahkan para petani KJA ini turut serta melakukan restocking. Ini bentuk dukungan nyata bagi kami dalam mewujudkan Jatiluhur Jernih dan Citarum Harum,” ucapnya.

Hal senada diungkapkan Kepala Pusat Riset Perikanan KKP Toni Ruchimat. Dirinya menyebutkan launching CBF ini merupakan tindak lanjut kerjasama antara PJT II dan KKP pada September 2017 lalu.

“CBF ini bukan program yang sudah teruji. Jika mengacu kepada success story, sudah banyak wilayah yang menerapkan, di antaranya Waduk Malahayu Brebes dan Gajah Mungkur Wonogiri. CBF ini juga, dapat menurunkan risiko ekologi dari hipertropik menjadi mesotropik,” kata Toni.

Sementara itu, Pejabat Bupati Purwakarta M Taufiq Budi Santoso menyebutkan, sejarah mencatat masyarakat Jatiluhur sudah sejak dulu berkorban demi Waduk Jatiluhur. “Karena itu, segala program terkait Jatiluhur harus melibatkan semua pihak. CBF ini harus mendapat dukungan semua pihak, sehingga berjalan dengan baik dan meningkatkan kesejahteraan dan pendapatan masyarakat dan daerah,” katanya.(add/ded)