Beranda BANDUNG Daerah Rawan Puting Beliung Diminta Waspada

Daerah Rawan Puting Beliung Diminta Waspada

69
0
Tony Agus Wijaya

BANDUNG– Pada musim pancaroba kali ini, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Bandung meminta masyarakat yang daerahnya pernah dilanda puting beliung agar mengantisipasi kejadian serupa. Sebab rata-rata yang pernah mengalami puting beliung bakal menjadi daerah yang langganan terkena bencana tersebut.

“Daerah yang dulu pernah mengalami puting beliung, berpotensi terulang lagi di waktu yang akan datang. Angin puting beliung adalah peristiwa alam, tidak bisa dicegah, masyarakat hanya bisa mengantisipasinya agar kejadian tersebut tidak menimbulkan korban dan materi yang lebih besar,” terang Kepala BMKG Kelas 1 Bandung, Tony Agus Wijaya.

Menurut Tony, penyebab terjadinya puting beliung karena adanya awan Cumulonimbus (CB) yang ditandai dengan ciri-ciri cuaca pagi cukup cerah dan pada siang hari terbentuk awan hitam yang tinggi berlapis. “Di lokasi di bawah awan tersebut, berpotensi terjadi angin puting beliung,” ucapnya.

Di Bandung Barat, puting beliung pernah menyerang Kecamatan Padalarang dan Batujajar, Cihampelas, Cipatat dan Parongpong. Walau tidak sampai menimbulkan korban jiwa namun ratusan tempat tinggal warga mengalami kerusakan karena tersapu puting beliung.

“Sebenarnya puting beliung itu tidak sampai merusak bangunan bertembok, karena kecepatan anginnya kurang dari 90 km/jam. Tapi secara tidak langsung bisa merusak, kalau diatas bangunan tadi ada pohon yang cabangnya terlalu rimbun atau lapuk yang patah tertiup angin dan menimpa bangunan di bawahnya,” ungkapnya.

Lebih lanjut Tony memaparkan, gejala awal angin puting beliung
adalah, ketika udara dari pagi hari hingga siang hari terasa panas dan gerah (sumuk). Sementara, di langit akan terlihat ada pertumbuhan awan Cumulus (awan putih bergerombol yang berlapis-lapis), dan Diantara awan tersebut ada satu jenis awan mempunyai batas tepinya sangat jelas bewarna abu-abu menjulang tinggi yang secara visual seperti bunga kol.

Tiba tiba, lanjutnya, Warna awan berubah dari putih ke hitam pekat (awan Cumulonimbus). Ranting pohon dan daun bergoyang cepat karena tertiup angin disertai angin kencang.

“Durasi fase pembentukan awan, hingga fase awan punah berlangsung paling lama sekitar 1 jam. Karena itulah, masyarakat agar tetap waspada selama periode ini,”sambungnya.

Puting beliung merupakan dampak ikutan awan cumulonimbus (Cb) yang biasa tumbuh selama periode musim hujan, tetapi tidak semua pertumbuhan awan Cb akan
menimbulkan angin puting beliung.

Kehadirannya belum dapat diprediksi. Terjadi secara tiba-tiba (5-10 menit) pada area skala sangat lokal, pusaran puting beliung mirip belalai gajah/selang vacuum cleaner.

“Ini Kejadiannya antara siang dan sore menjelang malam hari dan terjadi tiba-tiba”jelasnya

Untuk antipasi bencana angin puting beliung, Tony menjelaskan masyarakat agar mengenali bulan-bulan pancaroba. Mengadakan penghijauan karena dengan adanya penghijauan, udara tidak terlalu panas, sehingga tidak terjadi perbedaan panas yang dapat menimbulkan adanya angin puting beliung.

“Apabila terjadi angin puting beliung menghindar dari pepohonan tinggi yang sudah rapuh karena bisa tertimpa pohon, cari tempat yang aman dan kuat atau menghindar jauh”imbuhnya. (jpnn)