EKO SETIONO/PASUNDAN EKSPRES WISATA: Sejumlah Wisatawan asal Jepang memetik kopi di Kampung Batuloceng RT 02/09 Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat.

LEMBANG, – akibat Cuaca buruk, Tahun ini para petani kopi mengalami penurunan hasil panen yang drastis.

Penurunan hasil panen tersebut dualami oleh sejumlah petani kopi di Kampung Batuloceng RT 02/09 Desa Suntenjaya, Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat gagal panen. Hasil panen turun drastis, hingga 90 persen, artinya petani hanya mampu memanen kopi sekitar 10 persen saja.
“Tahun ini masih bisa panen tapi tidak maksimal hanya 10 persen turun 90 persen. Yah bisa dibilang gagal panen,” ujar Ayat Sulaeman salah satu petani kopi setempat.

Ayat mengungkapkan di tahun-tahun sebelumnya, dalam sekali musim panen raya dirinya mampu memanen hingga 3 ton kopi. Namun tahun ini, dirinya hanya mampu memanen 8 kuintal kopi saja dari luas lahan sekitar 3 hektar kebun kopi yang digarapnya.

“Gagal, karena faktor cuaca. Jadi di saat berbunga di tahun lalu musim hujan cukup panjang, jadi buah burung (busuk) tidak menjadi buah kopi,” katanya.

Akibatnya sekitar 75 persen warga Batuloceng yang berprofesi sebagai petani kopi harus mengalami kerugian. Padahal para petani ini harus mengeluarkan biaya perawatan untuk pupuk dan membayar tukang selama setahun.

Padahal, kata Ayat harga kopi lokal berjenis arabika ini terutama kopi buhun atau lebih dikenal dengan kopi Java Preanger, tengah mengalami harga yang sangat bagus sekitar Rp24 ribu per kilogram jika dijual dalam bentuk gabah. Dengan harga jual dari petani sekitar Rp23.000- Rp23.500 per kilogram.

“Kalau dijual dalam bentuk greenbean sekitar Rp 100 ribu per kilogram. Kalau sudah diroasting saya biasa jual Rp 250 ribu per kilogram,” tuturnya.

Selain itu, Ana salah seorang petani juga mengungkapkan gagal panen juga dialami petani kopi di wilayah lain, seperti petani kopi di Malangbong Kabupaten Garut, Pangalengan Kabupaten Bandung dan Tasik.

“Hampir semua petani kopi, di setiap daerah tahun ini mengalami gagal panen. Saya udah tanya ke petani lain juga sama,” ujarnya saat ditemui di rumahnya.

Ana mengaku, sejak tiga tahun terakhir, ini adalah kali pertama para petani kopi di Kampung Batuloceng RT 02/09 Desa Suntenjaya, mengalami gagal panen hingga penurunan produksi 90 persen.

“Harapanya tahun depan di Februari atau Maret bisa panen raya lagi,” katanya.

Para petani di Batuloceng ini tergabung dalam Gapoktan (gabungan kelompok tani) Arjuna, dengan daerah pemasaran di luar pulau Jawa, seperti Medan. Selain itu para petani ini juga menjual kopi dalam bentuk kemasan yang sudah diroasting ke kafe-kafe yang ada di wilayah Bandung.(eko/ded)