Beranda FEATURE Cerita Izzan, Remaja Hiperaktif Asal Lembang

Cerita Izzan, Remaja Hiperaktif Asal Lembang

99
0
EKO SETIYONO/PASUNDAN EKSPRES BERBEDA: Izzan (kedua kiri) diapit kedua orang tua serta adiknya.

Tak Pernah Sekolah Formal, Kini jadi Mahasiswa ITB

Memiliki anak hiperaktif tak jarang dikeluhkan orangtua. Perilakunya yang cenderung banyak melakukan gerak dianggap sebagai hal yang tidak lazim. Padahal jika diarahkan pada minat dan bakatnya, si anak hiperaktif akan memiliki jalan hidup yang berbeda dibanding anak-anak sebayanya.

EKO SETIYONO, Lembang

Hal itulah yang pernah dirasakan Musa Izzanardi Wijanarko, anak pasangan Mursid Wijanarko dan Yanti Herawati.

Izzan, begitu Dia disapa, memiliki perbedaan mencolok dibanding anak lainnya. Hampir setiap hari selama 12 tahun, orangtuanya harus menuruti setiap keinginan Izzan yang kini memasuki usia 14 tahun.

Sebelumnya, sekitar 4 minggu setelah lahir, Yanti juga pernah merasakan cobaan lebih berat. Anak keduanya itu didiagnosa memiliki kelainan pada katup lambungnya karena tak bisa menutup. Tidak mau kehilangan buah hatinya, Izzan terpaksa menghabiskan masa balitanya dari satu terapi ke terapi lainnya dengan diantar orangtuanya.

Singkat cerita, hasrat Yanti yang ingin mengubah perilaku Izzan sedikit membuahkan hasil. Pada saat usianya 6 tahun, Izzan coba diajarkan bacaan iqra.

Tapi anehnya, jika anak sebayanya harus mengulang bacaan, Izzan malah bisa langsung hafal iqra. Tertarik dengan angka-angka, kemudian Yanti mencoba mengajarkan Izzan pelajaran matematika. Yanti pun akhirnya menyadari jika Izzan punya kelebihan. Salah satunya mampu mengerjakan materi matematika yang setara untuk anak usia 15 tahun.
“Pada awalnya ia diajarkan iqra dan matematika, tapi dia itu sifatnya enggak mau mengulang, inginnya terus menguasai pelajaran, hal yang baru, jadi terus tanya ini itu ke saya,” kata Yanti didampingi Izzan dan suaminya ketika ditemui di kediamannya Kampung Tugu Laksana Desa Pagerwangi Kecamatan Lembang Kabupaten Bandung Barat, belum lama ini.

Mendidik anak dengan gejala seperti yang dialami Izzan memang tak mudah. Pendidikannya perlu disertai dengan kesabaran ketika melihat anak yang nyaris tak bisa diam. Bahkan di suatu ketika, saat orangtuanya terlelap tidur di tengah malam, Izzan malah terbangun dan meminta diajarkan matematika oleh ibunya.

Dengan terpaksa, akhirnya Yanti yang juga berperan sebagai guru mengabulkan permintaannya. Herannya, Yanti hanya mengajarkan pelajaran tertentu yang ia suka selama setengah jam, karena Izzan memiliki daya ingat yang sangat tajam.
“Jadi metode belajarnya kalau aktifitas fisiknya sudah lelah, cape, baru mau belajar. Dalam sehari, paling belajarnya hanya 2 jam, tapi ga bisa langsung, harus main dulu,” bebernya.

Agar bakat terpemdamnya terus digali, Izzan mendapat bimbingan pelajaran di rumah (Home Scholling) bersama ibunya. Pada usia 3 tahun, Izzan pernah belajar di TK Sekolah Alam Bandung. Namun tidak betah. Tak lama kemudian ia meminta keluar sekolah.
“Sejak TK, Izzan suka praktek yang aneh-aneh. Pulpen yang ada per-nya dibukain sama dia. Pokoknya setiap peralatan di rumah dibongkar. Tapi kalau benda yang engga disukai langsung dilempar, dibanting, terus benda-bendanya dipukulin. Tingkahnya aneh, tapi saya biarin,” lanjut Yanti.

Dengan ketekunan dan bimbingan ibunya, jelang menginjak usia 9 tahun, Izzan bisa lulus paket A atau setara bangku sekolah dasar. Pada umur 10 tahun, atau sekitar bulan Juli 2013, Izzan kemudian lulus paket B di Tangerang Selatan.

Cobaan pernah dialami tahun 2014. Ketika akan mengikuti ujian paket C, tidak ada satu sekolah pun yang mau menerima Izzan. Dihinggapi rasa frustasi, ayah ibunya segera mengajak Izzan menyalurkan hobinya naik gunung. Selama setahun itu, Izzan stop dari kegiatan pendidikan. Waktunya dihabiskan mendaki berbagai gunung di Indonesia, seperti gunung Gede, Rinjani dan lainnya.
“Coba daftar di Jakarta, Bandung dan Tangerang, sama sekali engga ada yang mau nerima Izzan. Agar semangat belajarnya tidak kendur, saya ajak dia naik gunung supaya ada hiburan. Saya bilang ke dia, tahun depan harus dicoba ikut ujian lagi, dia terus dimotivasi,” tutur alumnus Jurusan Teknik Planologi ITB tersebut.

Yanti mengira dengan jalur home scholing, Izzan bisa langsung mengikuti ujian paket C. Namun ternyata hal itu tak segampang yang dibayangkan. Izzan terbentur ketentuan batas umur minimal. Tak patah semangat, teman-teman Yanti seangkatannya di ITB turut bantu mengupayakan agar Izzan bisa ikut kesetaraan paket C ke Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Kementrian Pendidikan. Dengan susah payah, ijazah Paket C bisa diperolehnya tahun 2016 dan menjadi bekal untuk dirinya mendaftar kuliah di ITB.
“Kami sempat cemas, soalnya Izzan tidak pernah bersekolah formal. Sedangkan ITB kan sekolahnya formal. Tapi biarlah coba mendaftar dulu, si anaknya juga sudah kekeuh mau masuk kuliah,” katanya lagi.

Masih di tahun 2016, Yanti membelikan berbagai buku pelajaran dari pasar loak agar Izzan mempersiapkan ujian sedini mungkin. Ada perasaan khawatir dicap sebagian orang, jika Izzan terlalu dipaksakan kuliah sama orangtuanya.
“Sesudah dibelikan buku, dia dibebaskan mau belajar apapun. Tapi saya berfikir, jika nanti kuliah, Izzan bakal dihadapkan tekanan, karena harus bikin tugas laporan. Harus adaptasi juga. Soalnya, rata-rata usia teman kuliahnya pasti jauh diatas Izzan,” bebernya.

Sempat gagal pada Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tahun 2016, Izzan akhirnya diterima di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) ITB pada tahun ini.

Izzan dibesarkan di lingkungan keluarga sederhana. Ia punya seorang kakak dan adik. Kakaknya, Nadira Nanda kini tengah menempuh kuliah semester 5 di Teknik Geologi ITB. Sedangkan adiknya, Fadil Ilman Muhammad,13, masih bersekolah di SMP kelas 2.

Rumah kayu bermodel jawa yang sekarang ditinggali Izzan dan keluarga, baru ditempatinya sekitar dua tahun lalu. Sebelumnya, keluarga itu berpindah-pindah tempat tinggal dan sempat mengontrak di sekitar Lembang.
Di lingkungan tempat tinggalnya sekarang, Izzan lebih banyak diam di rumah.

Sambil menunggu jadwal masuk kuliah dan persiapan daftar ulang. Untuk menghilangkan kejenuhan, sesekali ia bermain piano klasik buatan tahun 1900-an. Tidak tampak keanehan anak pada yang bulan Oktober nanti genap berusia 15 tahun itu.
“Daftar ulang nanti tanggal 4 Agustus, kalau sidang terbuka penerimaan mahasiswa baru tanggal 7 Agustus. Sedangkan kuliah baru dilakukan tanggal 21 Agustus,” sambung Izzan.

Diakuinya, menurut cerita sang ibu, Izzan memiliki prilaku aneh. Bahkan karena tidak mau nurut, ibunya pernah membawanya ke dokter telinga hidung tenggorokan (THT) pada saat usianya 3,4 tahun. Menginjak remaja, prilaku Izzan sudah bisa diatur. Tapi ia hampir gagal ikut tes SBMPTN karena terluka sabetan gergaji saat membuat panah-panahan.
“Banyak pengalaman yang pernah dialami. Awal tinggal di sini, saya pernah dibully sampai berkelahi sama temen. Izzan juga pernah didorong waktu bermain bola sama teman,” ungkap Izzan.

Keteguhan mendidik anak hiperaktif, yang dalam dunia psikiatri dikenal sebagai attention deficit hyperactivity (ADHD) atau gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas dituangkan dalam sebuah buku berjudul ‘Melihat Dunia’ yang diterbitkan Bentang Pustaka pada Mei 2016.

Pada buku yang ditulis langsung oleh Yanti Herawati itu diceritakan secara detail dan runut bagaimana metode belajar serta membimbing Izzan dengan cara yang luar biasa dan berbeda dari orang lain.(*/din)