Beranda FEATURE Cerita Brenda, Siswa SMAN 3 Subang yang Memilih Mualaf

Cerita Brenda, Siswa SMAN 3 Subang yang Memilih Mualaf

273
0

Orangtua Beda Agama, Namun Saling Mendukung

Hidayah bisa diterima siapa saja, tak memandang golongan atau agama. Hal tersebut juga dialami Brenda, siswi SMAN 3 Subang yang memilih memeluk agama Islam atau mualaf, pada Senin (31/7) kemarin.

YUSUP SUPARMAN, Subang

Assalamulaikum. Salam hangat disampaikan oleh Brenda ketika akan memasuki ruangan saat hendak diwawancarai oleh Pasundan Ekspres, Selasa (2/8). Kami pun menjawab ucapan salam siswi kelas XI IPS 4 tersebut.

“Nah ini Brenda yang kemarin menjadi mualaf,” kata Wakasek Kesiswaan SMAN 3 Subang, Aip Rahmat SPd.

Tak lama berselang, siswi kelahiran Jakarta 22 Januari 2001 itu menceritakan alasannya dirinya harus meninggalkan Kristen Katolik, agama yang ia anut sebelumnya.

Menurutnya, pilihan masuk Agama Islam sudah tepat. Dengan memeluk agama Islam, ia ingin menjadi orang yang lebih baik.
“Yang pasti saya suka dengan ajaran Islam, sehingga memilih untuk masuk Islam,” ungkap Brenda.

Kata Brenda, memilih Agama Islam atas keinginanya sendiri. Orang tuanya pun tidak keberatan. Justru malah mendukung. Apalagi ibunya selama ini beragama Islam. Sementara ayahnya beragama Budha.

YUSUP SUPARMAN/PASUNDAN EKSPRES YAKIN: Brenda (tengah) disaksikan Ketua DPRD Subang Beni Rudiono (baju merah) dan rekan-rekannya sesaat sebelum membacakan syahadat di mesjid SMAN 3 Subang, Senin (31/7).

Brenda menuturkan, perbedaan agama di keluarganya tak dipersoalkan. Yang terpenting tetap utuh dan bersatu. Meski berbeda agama, Brenda mengaku merasakan lingkungan keluarganya sangat toleransi.
“Ayah bilang semua agama mengajarkan kebaikan, tinggal kitanya saja mau seperti apa. Saya mau masuk Islam pun tidak melarang, selama itu demi kebaikan,” cerita Brenda.

Lantas bagaimana Brenda bisa memeluk agama Kristen Katolik, sementara ayah dan ibu tidak memeluk agama tersebut. Menurutnya, ketika masuk taman kanak-kanak dulu, ia tercatat oleh sekolah memeluk agama Katolik.
Ia waktu itu tidak tahu soal agama. Ia pun mengikuti saja. Orang tuanya pun tidak mempersoalkan itu.

Karena lingkungan sekolahnya beragama Kristen, ia pun berbaur dan mengikuti ajaran-ajarannya sebagaimana diajarkan di lingkungan sekolah. Ia berada di lingkungan sekolah itu hingga lulus SMP.

“Waktu itu saya tidak tahu soal agama, karena masih anak-anak. Ketika itu saya tetap mengikuti ajaran Katolik sebagaimana mestinya,” ungkapnya.

Saat SMP pun, kata Brenda, ia sudah memiliki keinginan untuk masuk Islam. Namun baru terwujud menimba ilmu di SMAN 3 Subang. Ia sampaikan keinginannya masuk Islam ke guru agama di SMAN 3 Subang, Kusnadi. Pihak sekolah pun merespon positif dengan sesegera mungkin menyiapkan prosesi untuk Brenda masuk Islam.

Ia mengaku mulai membulatkan tekadnya setelah sering mengikuti pembelajaran pendidikan agama Islam di kelas. Seiring berjalan waktu, ia merasa keinginannya untuk masuk Islam harus segera terwujud.
“Saat ada mata pelajaran agama di kelas, yang non muslim boleh ikut belajar boleh juga tunggu di luar. Tapi saya ikut belajar bersama teman-teman lainnya,” ungkapnya.

Brenda pun menceritakan saat dirinya hendak membacakan dua kalimat syahadat sebagai syarat masuk Agama Islam. Ketika itu, ada perasaan tegang dan sedikit malu karena disaksikan oleh banyak orang. Namun itu tak mengalahkan niatnya untuk masuk Islam. Karena ia tahu, kehadiran siswa dan guru-guru ketika itu untuk memberikan dukungan.
“Ternyata banyak yang liatin pas kemarin itu, malu juga. Tapi akhirnya bisa tenang juga masuk Islam,” kata Brenda.

Setelah resmi masuk Islam, ia mengaku merasakan ada hal yang berbeda. “Menjadi lebih tenang, bawaannya ingin melakukan hal-hal yang baik terus,” katanya.

Tak lama berselang usai acara prosesi mualaf itu, ia pun langsung melaksanakan kewajiban umat islam yakni salat. Ia melaksanakan salat dzuhur di masjid sekolah bersama teman-temannya. Lalu dilanjutkan salat ashar di masjid sekolah pula.

Meski ia belum tahu bacaan salat dan gerakannya, ia ingin tahu terlebih dahulu dengan cara praktek langsung ikut salat berjamaah di masjid sekolah.
“Iya saya ikuti dulu saja, bagaimana gerakan salat itu,” ungkapnya.

Hal yang paling utama ingin ia ketahui saat masuk Islam yakni mengenai salat. Termasuk membaca Alquran ia ingin segera bisa.
“Temen-temen dan guru-guru bilang mau membimbing, saya sangat senang. Bahkan mamah sudah memikirkan untuk saya ikut belajar pendidikan agama Islam secara khusus,” jelasnya.

Kini, Brenda di tasnya membawa alat salat ke sekolah agar bisa melaksanakan salat di masjid sekolah. Ia yakin bisa menjalankan ajaran Islam sebagaimana mestinya.

Kepala SMAN 3 Subang, Gunawan SPd MMPd mengatakan, proses mualaf Brenda di lingkungan sekolah bagian dari pembelajaran bagi siswa dan guru untuk menyampaikan pesan bahwa mereka memiliki saudara muslim baru.

Pihak sekolah sengaja agar prosesi itu dilakukan di sekolah. Bagi sekolah, tentu merupakan suatu kebahagian ada orang yang masuk Islam. Prosesi itu dilakukan secara sederhana.
“Walaupun nuansanya sangat sederhana, bagi kami ini memiliki makna yang mendalam,” kata Gunawan.

Wakasek Kesiswaan SMAN 3 Subang, Aip Rahmat SPd menuturkan, sekolah akan memberikan bimbingan khusus kepada Brenda. Baik guru-guru maupun siswa pun akan membantu Brenda untuk belajar ajaran-ajaran Islam.
“Kami akan terus memberikan bimbingan agar ia belajar agama Islam dengan baik,” ujarnya.(ysp/din)