Beranda FEATURE Cara Warga Pasirkareumbi Pertahankan Seni Tradisional

Cara Warga Pasirkareumbi Pertahankan Seni Tradisional

38
0
DADAN RAMDAN / PASUNDAN EKSPRES RASA SYUKUR: Ketua RW 11 Wangsa Susena (ketiga dari kiri) bersama Camat Subang Wawan Gunawan, Ketua Pepadi Ade Mulyawadi , Lurah Pasirkareumbi dan tokoh masyarakat saat ruwatan bumi.

Gagas Wayang Golek Saba Kota

Pesatnya perkembangan teknologi membuat seni tradisional semakin redup. Namun warga RW 11 Kelurahan Pasirkareumbi, Subang, punya cara tersendiri melestarikan seni tradisional. Salah satunya melakukan pagelaran wayang golek pada Jumat (6/10) malam.

DADAN RAMDAN, Subang

Acara ruwatan bumi di RW 11 Kelurahan Pasirkareumbi pada Jumat (6/10) malam, berlangsung meriah. Kegiatan yang diselenggarakan sebagai ungkapan rasa syukur itu, dimeriahkan dengan penampilan pagelaran wayang golek.

Ketua Persatuan Pedalangan Indonesia (Pepadi), Ade Mulyawadi mengatakan, kesenian pedalangan akan tetap melestarikan budaya lokal yang sudah ada sejak dulu sebagai media komunikasi kepada masyarakat menyampaikan program pemerintahan.
“Wayang adalah warisan budaya yang dibuat oleh Wali dalam menyampaikan ajaran agama Islam,” ujarnya.
Diapun mengimbau agar masyarakat Subang mengundang kesenian wayang dengan dalang lokal. Tujuannya agar budaya masyarakat Jawa Barat itu tetap bertahan.

Di kesempatan yang sama Camat Subang, Wawan Gunawan mengapresiasi gagasan warga Kelurahan Pasirkareumbi yang menggelar kesenian wayang golek dalam rangka ruwat bumi. Ia berharap kegiatan yang sama bisa diikuti oleh kelurahan lainnya.

Sementara itu Lurah Pasirkareumbi, Dadi Iskandar SSTP menuturkan, selain untuk melestarikan budaya lokal, acara ruwatan bumi dengan menampilkan wayang golek, agar kesenian tradisional itu dikenal generasi muda. Ia pun merasa bangga, wayang golek yang biasanya digelar di pedesaan, saat ini mampu tampil di wilayah perkotaan.
β€œIni wayang saba kota,” jelasnya.
Ketua RW 11 Dusun Sidodadi, Wangsa Susena mengatakan, pagelaran wayang golek dalam rangka ruwatan bumi sebagai ungkapan rasa syukur atas keberkahan nikmat alam semesta sebagai manifestasi ajaran Islam.

Selain itu memupuk rasa persatuan dan kesatuan antar warga. Masyarakat pun terlihat antusias membawa tumpeng, berkumpul dan berdoa bersama sebagai rasa syukur atas nikmat yang telah dirasakan di muka bumi.
“Melalui ruwatan bumi ini kita harapkan tali silaturahmi semakin erat,” pungkasnya.(dan/din)