Beranda FEATURE Cara Petani Pagaden Mengatasi Kekeringan Sawah

Cara Petani Pagaden Mengatasi Kekeringan Sawah

35
0
YUSUP SUPARMAN/PASUNDAN EKSPRES TANAM BAWANG. Dua orang petani menanam bawang merah di Desa GambarSari, kemarin (6/9). Tak hanya bibit bawang merah, petaninya pun langsung didatangkan langsung dari Brebes.

Datangkan Langsung Pekerja dan Bibit Bawang dari Brebes

Memasuki musim kemarau tahun ini, sebagian besar wilayah Kabupaten Subang mulai mengalami kekeringan. Kesulitan air, bahkan mulai dirasakan para petani Desa Gambarsari, Kecamatan Pagaden. Lalu bagaimana mereka mengatasinya agar sawahnya tak menganggur?

YUSUP SUPARMAN, Subang

Bawang merah pun menjadi langkah terakhir para petani Pagaden dalam menghadapi kekeringan di wilayahnya. Itulah pemandangan yang terlihat di lahan pesawahan Desa Gambarsari, Kecamatan Pagaden. Tak hanya mendatangkan pekerja, bibit bawang merah pun didatangkan langsung dari Brebes.

Selama ini selain kekeringan, hama kerdil hampa (klowor) juga mengancam daerah tersebut. Daripada lahan sawah menganggur, menanam bawang merah pun menjadi solusi.

Berdasarkan penuturan para petani setempat, penanaman bawang merah belum bisa dilakukan secara mandiri. Mereka dibantu warga Brebes.
“Kami dari Brebes kerja untuk nanam bawang merah di sini. Setahu kami, di sini baru pertama ditanami bawang merah,” kata Karya, petani asal Brebes kepada Pasundan Ekspres.

Menurutnya, Brebes sebagai daerah pengasil bawang merah, dipercaya mampu mengembangkan bawang merah di Kabupaten Subang. Oleh karena itulah lebih dari lima orang petani dari Brebes dipekerjakan untuk menanam bawang merah di wilayah Subang.

Menurutnya, bawang merah akan ditanam di lahan seluas 1,5 hektare. Karena baru pertama kalinya, lahan padi digunakan untuk menanam bawang merah sehingga perlu mengeluarkan biaya yang cukup banyak.
“Untuk 1,5 hektar ini bisa sampai Rp150 juta modal yang harus dikeluarkan,” ujarnya.

Satu bibit bawang merah yang ditanam sebanyak 1 kwintal bisa menghasilkan 1 ton bawang merah. Dengan masa tanam selama kurang lebih dua bulan. Tanaman tersebut tak asal ditanam di lahan begitu saja. Tidak semua lahan padi yang kering seperti di Pantura bisa semua ditanami. Yang cocok, ialah tanah liat berwarna hitam.
“Harus diliat dulu tanahnya seperti apa, tidak bisa asal tanam,” ujarnya.
Sementara itu, Talim petani setempat mengeluhkan kekeringan dan ancaman hama kerdil hampa (klowor). Sejak bulan Mei, beberapa lahan pertanian menganggur karena dua hal tersebut.

Lahan pertanian di Pagaden merupakan sawah yang pengairannya mengandalkan air hujan. Sehingga ketika tidak ada hujan, petani kesulitan untuk menanam padi.
“Bisa saja menyedot air, tapi kan biaya lagi,” ujarnya.

Permintaannya untuk Dinas Pertanian saat ini, para petani ingin ada solusi. Khususnya menangani ancaman hama kerdil hampa (klowor) tersebut.
“Sudah orang dinas ke sini, tapi tetap saja belum ada solusi (mengatasi hama kerdil hampa, red),” ujarnya.(ysp/din)