Beranda HEADLINE Bubarkan Rentenir Berkedok Koperasi

Bubarkan Rentenir Berkedok Koperasi

112
0
USEP SAEPULLOH/PASUNDAN EKSPRES TOLAK RENTENIR: Para pengurus PCNU Kabupaten Karawang saat acara pelantikan, beberapa waktu lalu. Mereka mendesak agar pemerintah daerah membubarkan rentenir berkedok koperasi.

Desakan PCNU kepada Pemkab Karawang

KARAWANG-Maraknya praktek rentenir berkedok koperasi atau biasa disebut ‘bank emok’, mendapat tanggapan serius dari PCNU Kabupaten Karawang. Untuk mengatasinya, pemerintah daerah diminta segera membubarkan praktek rentenir berkedok koperasi karena dianggap memiliki unsur riba.

Rois Syuriah PCNU Karawang, Ade Fatahillah mengatakan, rentenir merupakan salah satu yang dilarang dalam agama Islam. Alasannya karena ada unsur riba.

Dijelaskan Ade, setiap individu manusia memang diwajibkan untuk berikhtiar dalam mencari kehidupan. Tetapi tentu saja, agama melarang setiap ikhtiar pencarian kehidupan dengan adanya unsur riba.
“Riba itu sangat berbahaya. Sementara tujuan negara kita adalah baldatun toyyibatun warobun’gofur. Sejahtera, makmur, tanpa ada musibah. Ketika suatu negara, provinsi, kabupaten masih ada musibah, salah satu faktornya adalah riba. Ketika masih ada riba, maka bisa dipastikan pasti ada musibah,” tuturnya, kemarin (13/8).

Oleh karenanya, sambung Ade Fatahillah, PCNU Karawang mendesak agar Pemda Karawang bersikap lebih jeli terhadap kondisi perekonomian masyarakat yang sudah mulai diresahkan oleh keberadaan rentenir berkedok koperasi.
“Ketika ingin masyarakat sejahtera, ya salah satunya pemda harus bisa memberantas praktek riba yang masih marak di masyarakat. Karena riba itu ibarat lintah darat yang membahayakan manusia,” tutur kiyai pimpinan Pondok Pesantren Ar-Rahmah Kosambi Karawang ini.

Hal senada diungkapkan Wakil Rois Syuriah PCNU Karawang, Nanang Juaeni. Beberapa fakta lapangan telah membuktikan jika keberadaan bank emok ini sudah meresahkan masyarakat. Dari mulai pertikaian masalah rumah tangga hingga dengan banyaknya Ibu Rumah Tangga (IRT) yang menjadi Tenaga Kerja Wanita (TKW) ke luar negeri. Salah satunya karena faktor terlilit hutang rentenir atau bank emok.
“Diakui ataupun tidak masyarakat sudah merasa resah dengan keberadaan bank emok. Terjadinya percekcokan antar suami istri, keluarga sampai harus pergi menjadi TKW, itu semua karena persoalan ekonomi, karena mereka terlilit utang dengan rentenir,” katanya. Bahkan yang lebih parah, lanjutnya, ada fakta lapangan dimana seorang ustadz di Cilamaya yang sedang melakukan pengajian, tetapi sebagian jamaah pengajiannya kosong. Karena jamaah beralasan harus menghadiri kumpulan bank emok yang digelar seminggu sekali. (use/din)