TARGET JUARA. Debby Susanto bertekad melampiaskan kegagalan di All England saat turun di Malaysia Terbuka. PBSI

Debby Susanto harus melupakan kegagalan di All England Superseries Premier dan Swiss Terbuka Grand Prix Gold 2017. Dengan kegagalan itu, Debby bersama pasangan ganda campurannya, Praveen Jordan, bertekad membayar tuntas dengan gelar juara di Malaysia Terbuka Superseries Premier.

“Ke depan main Malaysia dan Singapura. Tapi saya enggak bisa memilih yang mana yang harus diambil. Sekarang ini, peta kekuatan setiap pertandingan sama. Lawan yang ikut juga sama banyaknya. Jadi fokus satu demi satu kejuaraan dahulu,” ujar Debby,

Selain Malaysia Terbuka pada 4-9 April mendatang, ada pula Singapura Terbuka pada 11-16 April, yang ingin diburu Debby/Praveen. Dua kejuaraan pada April ini diharapkan bisa menjadi jalan merengkuh gelar perdana tahun ini.

Arah menuju podium sudah mulai terang jika melihat penampilan Debby/Praveen di dua ajang sebelumnya. Asisten Pelatih Ganda Campuran PBSI Vita Marissa menilai, meski gagal selamatkan muda Indonesia di Swiss, Debby/Praveen sudah mengalami peningkatan penampilan dari All England. Hanya memang lawan lebih impresif.

“Penampilan Praveen/Debby sudah ada kemajuan dibanding di All England 2017 kemarin, kali ini Praveen bisa lebih bisa konsentrasi dan tidak lengah. Jadi mereka sudah bermain maksimal di final, tetapi lawan tampil lebih sabar, permainannya rapi, dan tidak mudah untuk dimatikan,” kata Vita kala itu.

Sebagaimana diketahui, penampilan Praveen/Debby di final antiklimaks dibanding laga semifinal. Di semifinal, mereka menghempaskan pasangan Zhang Nan/Li Yinhui asal Tiongkok, dengan skor 17-21, 21-19, 21-16. Sebelum akhirnya gagal juara karena takluk di final dari pasangan Thailand, Dechapol Puavaranukroh/Sapsiree Taerattanachai, 21-18, 21-15.

“Intinya, mereka harus lebih fokus lagi dan menekan dari awal,” ujar mantan pebulu tangkis spesialis ganda yang juga pernah berpasangan dengan Praveen ini. (kmd/ion/ira/jpg/ded)