EKO SETIYONO/PASUNDAN EKSPRES KUNJUNGAN KERJA: Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise (duduk tengah) saat melakukan kunjungan kerja ke Kecamatan Lembang, Bandung Barat.

Akan Dibuat Keputusan Tiga Menteri

BANDUNG BARAT-Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Yohana Susana Yembise mengusulkan pembatasan penggunaan telepon selular atau handphone (HP) pada anak. Tujuan agar anak tidak terjerumus kepada hal-hal negatif yang bisa merusak pikiran akibat kecanduan handphone.

Bahkan, kata Yohana, usulan tersebut telah disampaikan kepada Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) dan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
“Kemarin, Menteri Kominfo telah menyampaikan ke saya. Kami bertiga akan membuat satu keputusan tiga menteri, yang isinya tentang pembatasan penggunaan handphone pada anak,” ujar Yohana saat melakukan temu wicara dengan kader Posdaya Desa Kayuambon Kecamatan Lembang, Bandung Barat, Kamis (31/8).

Yohana menyatakan, pembatasan penggunaan telepon selular pada anak harus secepatnya diterapkan. Ia beralasan, penggunaan gatget pada anak sangat berbahaya, jika tak dikontrol, terutama dengan banyaknya konten negatif yang bisa ditiru anak.
“Saya belum tahu batas usia anak yang tidak boleh menggunakan handphone. Nanti akan dibicarakan dalam rapat bersama tiga menteri. Tapi saya harap bisa secepatnya diterapkan,” tuturnya.

Menurut dia, penggunaan handphone bagi anak harus dibatasi. Handphone hanya bisa digunakan atas seizin guru sekolah. Seperti untuk mencari bahan atau materi pembelajaran dari internet. Dia juga meminta orang tua mendukung pembatasan handphone. Jangan sampai seluruh waktu anak dihabiskan untuk bermain handphone.
“Harus terbentuk hubungan antara anak dan orang tua. Anak harus diajak mengalihkan perhatiannya terhadap handphone. Contohnya seperti mengajaknya ke taman, berenang ataupun kegiatan positif lainnya. Kalau tak seperti itu, anak-anak akan terbiasa seperti ini dan sangat disayangkan,” bebernya.

Dia menyatakan, upaya itu juga dilakukan agar Indonesia bebas dari kekerasan kepada anak dan perempuan pada tahun 2030. Guna mendukung langkah tersebut, pihaknya juga akan memberdayakan keberadaan Satgas PPA yang tugasnya menghentikan, mendeteksi, dan melaporkan ketika ada kejadian kekerasan pada anak dan perempuan.

Selain masalah ketergantungan anak terhadap handphone, lanjut Yohana, Kementerian PPA juga tengah menyoroti tingginya angka perceraian di Indonesia yang menyebabkan anak mengalami kasus kekerasan.

Oleh karena itu, pihaknya menyambut baik penerbitan perda ketahanan keluarga untuk membangun komitmen pemerintah dengan masyarakat sehingga bisa mempertahankan hubungan harmonis di keluarga.

“Harus diakhiri kekerasan terhadap anak dan perempuan, semua kabupaten/kota di Indonesia harus menjadi daerah layak anak dan perempuan. Tingginya angka kekerasan pada perempuan karena biasanya mental yang belum siap menikah, akhirnya terjadi perceraian, imbasnya dialami anak-anak,” terangnya. (eko/din)

Dampak Negatif Gadget pada Anak

1. Pertumbuhan otak yang terlalu cepat
Di antara usia 0-2 tahun, pertumbuhan otak anak memasuki masa yang paling cepat dan terus berkembang hingga usia 21 tahun. Stimulasi lingkungan sangat penting untuk memicu perkembangan otak, termasuk dari gadget. Hanya saja, stimulasi yang berasal dari gadget diketahui berhubungan dengan defisit perhatian, gangguan kognitif, kesulitan belajar, impulsif, dan kurangnya kemampuan mengendalikan diri.

2. Hambatan perkembangan
Saat menggunakan gadget, anak cenderung kurang bergerak, yang berdampak pada hambatan perkembangan. Satu dari tiga anak yang masuk sekolah cenderung mengalami hambatan perkembangan sehingga berdampak buruk pada kemampuan berbahasa dan prestasi di sekolah.

3. Obesitas
Penggunaan gadget yang berlebihan diketahui bisa meningkatkan risiko obesitas. Anak-anak yang diperbolehkan menggunakan gadget di kamarnya mengalami peningkatan risiko obesitas sebanyak 30 persen. Padahal, diketahui bahwa obesitas pada anak meningkatkan risiko stroke dan penyakit jantung sehingga menurunkan angka harapan hidup.

4. Gangguan tidur
Tidak semua orangtua mengawasi anaknya saat menggunakan gadget sehingga kebanyakan anak pun mengoperasikan gadget di kamar tidurnya. Sebuah studi menemukan, 75 persen anak-anak usia 9-10 tahun yang menggunakan gadget di kamar tidur mengalami gangguan tidur yang berdampak pada penurunan prestasi belajar mereka.

5. Penyakit mental
Sejumlah studi menyimpulkan, penggunaan gadget yang berlebihan merupakan faktor penyebab meningkatnya laju depresi, kecemasan, defisit perhatian, autisme, gangguan bipolar, dan gangguan perilaku pada anak.

6. Agresif
Anak-anak yang terpapar tayangan kekerasan di gadget mereka berisiko untuk menjadi agresif. Apalagi, saat ini banyak video game ataupun tayangan yang berisi pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, dan kekerasan-kekerasan lainnya.

7. Pikun digital
Konten media dengan kecepatan tinggi berpengaruh dalam meningkatkan risiko defisit perhatian, sekaligus penurunan daya konsentrasi dan ingatan. Pasalnya, bagian otak yang berperan dalam melakukan hal itu cenderung menyusut.

8. Adiksi
Karena kurangnya perhatian orangtua (yang dialihkan pula oleh gadget), anak-anak cenderung lebih dekat dengan gadget mereka. Padahal, hal itu memicu adiksi sehingga mereka seakan tak bisa hidup tanpa gadget mereka.

9. Radiasi
WHO mengategorikan ponsel dalam risiko 2B karena radiasi yang dikeluarkannya. Apalagi, anak-anak lebih sensitif terhadap radiasi karena otak dan sistem imun yang masih berkembang sehingga risiko mengalami masalah dari radiasi gadget lebih besar dari orang dewasa.

10. Tidak berkelanjutan
Sebuah penelitian membuktikan, edukasi yang berasal dari gadget tidak akan lama bertahan dalam ingatan anak-anak. Dengan demikian, pendekatan pendidikan melalui gadget tidak akan berkelanjutan bagi mereka.