Beranda BANDUNG Artis Bukan jaminan menang Pilkada

Artis Bukan jaminan menang Pilkada

109
0
Hengki Kurniawan

BANDUNG BARAT-Mengandalkan popularitas artis, bukanlah jaminan akan meningkatkan elektabilitas calon Bupati Kabupaten Bandung Barat. Hal itu disampaikan Hengki Kurniawan, usai blusukan di Pasar Tagog Apu Padalarang, Minggu (13/8).
Diungkapkanya, meskipun temen-temanya merasa yakin dirinya akan menang karena publik figur, akan tetapi menurutnya itu tidak cukup.

“Temen saya merasa yakin saya akan menang karena saya publik figur, saya artis, saya ganteng, akan tetapi itu tidak cukup. Makanya hari ini sampai seminggu ke depan saya terus silaturahmi ke pasar dan pertemuan dengan tokoh masyarakat,” kata Hengki.
Karena menurut Hengki, masih ada mekanisme partai yang harus ditempuh, sebelum ditetapkan sebagai calon bupati.
“Demokrat akan melakukan survey akhir september. Tugas saya bagaimana saya memperkenalkan diri kepada masyarakat dan hasil surveynya juga bagus untuk menentukan langkah ke depan,”paparnya.

Dengan bermunculannya bakal calon bupati dari kalangan artis, menjadikan Hengki terus konsentrasi dalam sosialisasi.

“Intinya Semakin banyak calon itu bagus, semakin banyak pilihan jadi mengurangi golput,”ungkapnya.
Sementara itu Ketua DPD Partai Demokrat Jabar, Iwan Sulanjana menyatakan, sebelum tahapan Pilkada dimulai, semua partai politik sudah memiliki calon. Namun untuk ke arah koalisi, masing-masing parpol masih terus menjalin komunikasi.

“Di Partai Demokrat, ada aturan jika kandidat calon yang akan diusung harus mengikuti survei yang dilaksanakan DPD. Disamping itu, kandidat juga harus mengikuti segala tahapan yang ditentukan partai seperti membuat pakta integritas dan sebagainya, semua kandidat harus menyetujuinya,” terang Iwan saat mendampingi Hengki Kurniawan.
Selanjutnya, dari tiap Dewan Pimpinan Cabang (DPC) menyampaikan hasil surveinya ke DPD Demokrat Jabar untuk diteruskan lagi ke tingkat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) dan ketua umum.

Kemudian, lanjutnya penentuan calon yang akan diusung diserahkan sepenuhnya kepada majelis tinggi partai. Diakuinya, untuk memenangkan kursi bupati, walikota maupun gubernur memang tidaklah mudah sehingga dibutuhkan koalisi dengan partai lainnya.

“Antar pimpinan partai nanti bertemu, nanti dikawinkan calon dari ini siapa, dari partai ini siapa, “tuturnya.
Dia menyatakan, siapa pun kandidat calon tidak diperbolehkan melakukan survei sendiri. Berkaca Pilkada lalu, pihaknya pernah trauma ketika bakal calon Walikota Cimahi pernah menjadi korban oleh salah satu lembaga survei.
“Tidak boleh menggelar survei pribadi. Saya pernah jadi korban, hasil survei dinaik-naikan, bukannya tak percaya, tapi korbannya sudah banyak. Akhirnya untuk menghindari kasus serupa maka survei dilakukan oleh tim,” jelasnya.(eko/ded)