Beranda FEATURE Aiptu Riyanto, Polisi yang ‘Nyambi’ jadi Pembudidaya Bibit Alpukat

Aiptu Riyanto, Polisi yang ‘Nyambi’ jadi Pembudidaya Bibit Alpukat

297
0

Gunakan Sistem Okulasi, Dua Tahun sudah bisa Berbuah

Tingginya kebutuhan ekonomi tak membuat Aiptu Riyanto mencari tambahan pendapatan dengan memanfaatkan pekerjaannya sebagai polisi. Dengan keahliannya di bidang pertanian, Aiptu Riyanto berupaya melakukan budidaya buah alpukat untuk mencari penghasilan tambahan yang halal.

DAYAT ISKANDAR, Purwakarta

Aiptu Riyanto memang dikenal sebagai polisi yang sederhana. Ia selalu bersikap ramah terhadap warga sekitar. Dibantu tetangganya, anggota Polsek Sukasari ini tanpa canggung memilah biji alpukat untuk ditanam.

Pekerjaan sampingan Aiptu Riyanto in sudah dilakukan sejak lama. Merasa ada manfaatnya, pekerjaan ini ia lakukan di luar jam dinasnya sebagai polisi.

Aiptu Riyanto mengaku, budidaya buah alpukat berawal dari hobinya mengolah tanah. Kreativitasnya membuat persilangan bibit alpukat membuat decak kagum sejumlah tetangganya. Rupiah pun kini mengalir atas buah kreasi pria yang tahun ini genap berusia 53 tahun.

Untuk mewujudkan hobinya itu, dengan dibantu seorang tetangganya, Aiptu Riyanto mengumpulkan biji alpukat yang dibelinya dari sejumlah pedagang buah-buahan. Tentu saja, karena yang dibutuhkanya hanya biji alpukat, buah alpukat yang dibelinya bukanlah alpukat, kualitas baik, melainkan buah sisa yang sudah terlalu matang dan lembek. Biji biji alpukat ini selanjutnya dimasukan ke dalam polibag yang sudah diberi media tanam campuran dari tanah gembur, pupuk kandang dan sekam. Setelah tumbuh kira-kira berumur dua bulan, bibit alpukat ini lalu disilangkan dengan tunas baru. “Sistem ini dikenal dengan okulasi,” tutur Riyanto.

Lebih lanjut Riyanto menjelaskan, sistem silang benih alpukat dengan tunas baru dari pohon alpukat tua dilakukan dengan cara memotong bibit alpukat muda. Kemudian disambung dengan tunas baru dari pohon tua. Metoden ini membutuhkan ketelitian. Namun disinilah seni bertani Aiptu Riyanto. Satu persatu bibit akpukat muda yang jumlahnya ratusan dia buatkan okulasi petunjuk okulasi ini
“Bagi pemula bisa diakses di youtube. Kalau saya mah dapat otodidak dan sedikit pengalaman saat tinggal di kampung halamanya di Blora, Jawa tengah,” imbuhnya.

Dikatakan Aiptu Riyanto, usai proses okulasi dilakukan, bibit alpukat ini lalu dipisah bagian atas pohon bibit dan ditutup platik kecil yang sudah diplester. “Cara ini guna menghindari sambungan terkena air, agar tak membusuk saat proses adaptasi dua tangkai beda umur ini,” ujarnya.

Riyanto menjelaskan, sistem okulasi bertujuan untuk menyingkat waktu berbuah pohon alpukat. “(Dengan cara ini) Dua tahun alpukat bisa berbuah. Lain halnya dengan cara alami, alpukat baru bisa berbuah dalam waktu 5- 6 tahun sejak usia tanam,” jelas Riyanto.

Dalam waktu belasan hari, tunas baru yang tubuh dari hasil okulasi mendapat perawatan ektra. Setelah daun tumbuh normal, bibit alpukat hasil kreasinya siap untuk dijual. Harga yang dipatok Aiptu Riyanto untuk satu pohon bibit alpukat hasil kreasinya dijual antara Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per batang.
“Ini lebih murah dari harga jual bibit yang sama yang biasa dijual pedagang bibit profesional,” pungkasnya.(dyt/din)