Beranda OPINI Adu Gengsi Partai Berebut Kursi Panas Pilkada Jawa Barat 2018

Adu Gengsi Partai Berebut Kursi Panas Pilkada Jawa Barat 2018

387
0
Rheza Wahyu Anjaya

*Ditulis Oleh : Rheza Wahyu Anjaya

Jawa Barat kian memanas partai-partai mulai sibuk mencari teman koalisi, serta menganalisis kandindat mana yang akan diusung, walaupun pendaftaran calon baru dibuka oleh KPU pada Bulan Januari 2018 sepertinya kontestasi yang maju sebagai Cagub dan Wabug kian mengerucut.

Dari hasil survei yang dilakukan oleh lembaga survei SMRC dan Indobarometer hanya tiga nama teratas yang selalu muncul yaitu Ridwan Kamil 31,4 % , Dedi Mizwar 18,6 %, dan Dedi Mulyadi 12,6 %.

Menariknya, Pilkada Jawa Barat kali ini partai – partai yang pada Pilgub lalu menjadi rival di Pilgub kali ini mencoba untuk berkongsi contoh PKS dan Gerindra, Golkar dan PDI P, hanya Nasdem sebagai pendatang baru jauh-jauh hari sudah mendeklarasikan bakal calonnya Ridwan Kamil sebagai jagoannya.

Kemudian ada beberapa partai yang belum menentukan sikap PPP, PKB, PAN, Demokrat, Hanura masih meilhat arah angin serta bandul dari Jakarta merapat ke kandidat mana.

Tak heran isu “ Jakartanisasi “ masih kuat dalam pertarungan kali ini ditambah pertarungan elit politik menjelang Pilpres 2019 setelah pelantikan gubernur dan wakil gubernur hanya berselang 2 bulan sudah dilakukan pendaftaran Balon Capres dan Cawapres.

Hal ini lah yang dianggap sebagian kalangan kian seksinya Pilkada Jawa Barat 2018 istilah sederhana memanaskan mesin menjelang Pilpres. Pertanyaanya mengapa Jawa Barat sangat diperhitungkan?

Mari kita buka data, Jawa Barat memiliki DPT sekitar 36 Juta, partai yang menang di Jawa Barat biasanya menjadi pemenang pemilu, contoh Demokrat 2009 dan PDI P 2014 rasa – rasanya partai – partai akan bertarung sampai titik akhir untuk memenangi Pilkada Jawa Barat 2018

Yang terpenting dari itu semua adalah Masyarakat Jawa Barat mendapatkan pemimpin terbaik, Jawa Barat Masih Mempunyai segudang pekerjaan rumah terutama masalah ekonomi seperti mahalnya kebutuhan pokok, sulitnya mencari lapangan pekerjaan, instruktur yang masih belum memadai menunjang aktivitas ekonomi, akses pendidikan yang kian sulit dijangkau oleh masyarakat kecil pada akhirnya Masyarakat Jawa Barat membutuhkan “Arsitek” (Perancang) Pembanguan ke arah yang lebih baik.

Meritokrasi sebagai solusi, demokrasi harus memberi ruang aktualisasi bagi keragaman intelegensia manusia (linguistik, logik-matematik, spasial, musik, kinestetik, interpersonal dan intrapersonal) sehingga bisa melahirkan calon pemimpin dengan merit dan karakter tangguh.

Manusia berkarakter adalah yang memiliki keunggulan khas, dapat diandalkan, dan memiliki daya tahan dalam kesulitan dan persaingan ,Jalan menuju demokrasi telah ditempuh dengan ongkos mahal. Terlalu sia-sia jika yang muncul hanya gerombolan. Kepemimpinan harus ditegakkan di segala lini dengan memulihkan otoritas berbasis meritokrasi.

maka kaca mata pandang masyarakat harus melihat “ Kucing di luar karung” agar lebih objektif melihat individu yang pantas dijadikan pemimpin. Keberhasilan suatu bangsa hanya bisa terjadi bila kepemimpinan kelompok dan individunya menjadi teladan dengan melakukan hal hasil saat dia menjabat, panutan pendidikan memberantas korupsi dengan gaya meritokrasi  dan memiliki kenegarawanan yang mampu dan dipilih berdasarkan mekanisme selektif dan reselektif proses meritokrasi sehingga kenerja sistim dapat dilakukan secara sinergis.

*)

  • Alumni Ilmu Pemerintahan FISIP Unpad Bandung
  • Magister Ilmu Politik Universitas Nasional Jakarta
  • Ketua DPP Ikatan Alumi Sekolah Pemimpin Nasional ICMI