Beranda HEADLINE Abu Wildan: Ada Dalang di Balik Ledakan Bom Surabaya

Abu Wildan: Ada Dalang di Balik Ledakan Bom Surabaya

450
0

Disebutkan untuk Tunjukan Eksitensi ISIS di Indonesia

SUBANG-Pemerintah diminta segera menemukan dalang dibalik beberapa peristiwa ledakan bom di wilayah Surabaya. Hal itu dikatakan Abu Wildan untuk mengungkap alasan sebenarnya dibalik ledakan tersebut.

Mantan pentolan Jamaah Islmiyah ini menduga ada dalang di balik peristiwa tersebut. Sementara di satu sisi, pimpinan Jamaah Ansharut Daulah (JAD), Aman Abdurrahman tengah berada di dalam Lapas Nusa Kambangan.
“Yang jadi masalah siapa dalangnya, kita mencari dalangnya siapa, operatornya siapa di balik Aman dan JAD. Misalnya film bagus yang muter filmnya siapa?,” ungkap Abu Wildan saat ditemui Pasundan Ekspres di Purwadadi, kemarin (15/5).

Dia menyebut, serangkaian tindakan yang diawali dari kerusuhan Mako Brimob dan bom bunuh diri di Surabaya, bukanlah bentuk aksi balas dendam atau membela Aman Abdurrahman.
“Balas dendam sama siapa? Aksi-aksi tidak begitulah, itu tidak gentel,” jelas pria yang mengaku murid Syeh Abdullah Azzam ini.
Dia mengatakan, beberapa ledakan bom di wilayah Surabaya hanya untuk menunjukan eksitensi saja soal keberadaan ISIS di Indonesia.
“Ini action saja, kadang-kadang untuk menunjukan ISIS itu ada, eksistensi saja,” ujarnya.

Pria yang sempat ikut berperang di Afganistan ini menyebutkan, dengan kejadian tersebut pemerintah seharusnya instropeksi diri. Masyarakat dengan pemahaman radikalisme jangan dijadikan musuh. Namun harus dirangkul dan lebih diperhatikan kehidupannya.
“Kalau dijadikan musuh, dia bisa mendoktrin yang lain,” ujarnya.

Abu Wildan menuturkan, apa yang disebut jihad oleh kelompok radikalisme yang terjadi di Indonesia akhir-akhir ini sangatlah menyimpang. Menurutnya hal Itu bukanlah jihad yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.
“Ini bukan perang, ini meledakan dirinya sendiri, mendolizimi diri sendiri sebenarnya,” ungkapnya.

Adapun makna pasukan berani mati, kata Abu Wildan, bukan berarti orang membunuh dirinya sendiri dalam keadaan tidak berperang. Saat ini, lanjut Abu Wildan, Indonesia tidak dalam keadaan berperang. Selain itu aktivitas kegiatan keagamaan juga tidak dibatasi.
“Banyak pemahaman jihad yang rancu, tidak tahu target, salah target,” ujarnya.

Dia menyebut, bahkan pemboman di Bali pada tahun 2002 yang dilakukan oleh Nurdin M Top tidak benar, dengan alasan targetnya salah.
“Itu juga tidak benar, targetnya salah. Kita ini memerangi seseorang ketika mengangkat senjata. Rasulullah itu tidak mengangkat senjata, kecuali mereka (musuh) mengeluarkan senjata,” jelasnya.

Dia menuturkan, dalam Islam untuk berperang perlu diumumkan dulu. Jika tidak diumumkan, maka itu tindakan pengecut.
“Ini (tindakan pelaku bom bunuh diri) belum apa-apa, ini membingungkan sebenarnya,” ujarnya.

Dia mengatakan, dalam berjihad ada rambu-rambu dari ulama. Di Afhganistan, kata dia, ada ulama yang mengarahkannya. Sementara di Indonesia, tidak ada ulama yang mengarahkan jihad dengan cara yang salah.

Ia berpesan agar tidak mudah terdoktrin dengan paham radikalisme. Semua umat muslim diminta taat terhadap ulama. Majelis Ulama Indonesia (MUI) pun diminta dijadikan rujukan. (ysp/din)